TRIBUNJAMBI.COM, KUALATUNGKAL - BPBD Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat) mencatat 145,5 hektare lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama Januari hingga 14 Agustus 2026.
Karhutla tersebut tersebar di enam kecamatan.
Lahan terbakar terluas berada di Kecamatan Batang Asam mencapai 98,9 hektare.
Kemudian Kecamatan Renah Mendaluh 27,9 hektare, Bram Itam 16,5 hektare, Senyerang 1,5 hektare, Merlung 0,5 hektare, dan Betara 0,2 hektare.
Koordinator Pusat Informasi BPBD Tanjab Barat, Syaiful Anwar, mengatakan salah satu Karhutla terjadi di lahan gambut Dusun Bumi Ayu, Desa Bram Itam Raya, Kecamatan Bram Itam.
Kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut dengan topografi rawa dan vegetasi semak belukar.
Pemadaman melibatkan tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, PT WKS, pemerintah kecamatan dan desa, serta masyarakat.
Tim melakukan pemadaman sejak Rabu sore hingga Kamis sore.
Meski api permukaan telah padam, tim masih melakukan patroli dan pendinginan untuk mencegah munculnya api dari dalam gambut.
“Hari ini tim gabungan melakukan patroli dengan pendinginan. Karena kebakarannya di gambut, api atas memang tidak ada, biasanya api dalam atau akar gambut masih tersimpan,” kata Syaiful, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, tim masih memantau titik asap, terutama yang muncul dari akar gambut.
Proses pendinginan lahan gambut membutuhkan waktu lebih lama karena titik api dapat bertahan di dalam lapisan gambut.
Selain itu, akses menuju lokasi menjadi kendala karena kawasan tersebut merupakan hutan lindung gambut.
“Akses menuju lokasi biasanya hanya bisa ditempuh melalui kendaraan roda dua dan berjalan kaki,” jelasnya.
Kondisi kemarau juga memperberat proses pemadaman.
Kanal-kanal di sekitar lahan mengalami kekeringan, sementara lahan gambut lebih cepat menyerap air dibandingkan tanah mineral.
Syaiful mengatakan tim memprioritaskan pemadaman pada pagi hingga sore hari karena lokasi kebakaran berada di kawasan hutan.
Keselamatan petugas menjadi pertimbangan utama selama operasi.
“Keselamatan tim memang menjadi prioritas kami. Karena ini hutan lindung gambut, biasanya binatang buas masih banyak, seperti ular, lipan, dan di HLG itu masih ada beruang madu,” pungkasnya.(Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Viral Perang Geng Motor di Pasar Jambi: 1 Remaja Tak Berdaya Dikeroyok
Baca juga: Tragedi Perahu Karam di Sungai Batanghari Tebo Jambi: 1 Pemancing Tewas, 2 Hilang