TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Desainer muda asal Kota Yogyakarta, Sarah Azzahra, sukses menorehkan prestasi membanggakan di kancah regional dan menembus level nasional.
Karya busana yang sarat filosofi kearifan lokal berhasil meloloskan dirinya ke babak final kompetisi desain busana bergengsi, Fatmawati Trophy.
Kepastian tersebut didapat usai Sarah yang mewakili DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta berhasil menembus jajaran tiga besar pada ajang Kurasi Region 7 yang berlangsung di Semarang tempo hari.
Dalam ajang yang diikuti 37 peserta perwakilan kabupaten/kota tersebut, karya Sarah pun bersanding dengan kontingen dari Kabupaten Sleman dan Wonosobo.
Ketiganya dipastikan mengantongi tiket emas mewakili region menuju puncak kompetisi nasional yang rencananya digelar di Bali pada Oktober mendatang.
Sarah mengungkapkan, busana yang dirancangnya mengusung konsep "Sumbu Kartika", sebuah karya yang memadukan tiga elemen filosofi mendalam, yakni Akar, Nyala, dan Cahaya.
Desain tersebut secara khusus dipadukan dengan motif Batik Nitik yang menjadi salah satu warisan batik khas dan indikasi geografis DI Yogyakarta.
"Persiapannya cukup singkat, sekitar satu bulan. Motif saya buat seperti pantulan cahaya, merepresentasikan sosok Ibu Fatmawati. Dipadukan dengan Batik Nitik, menggunakan teknik titik-titik khas Yogya," ujarnya, di sela agenda diskusi "Anak Muda dan Dunia Digital", Sabtu (15/8/2026).
Dalam peragaan di Semarang, Jawa Tengah, rancangan Sarah dibawakan jajaran model muda, di antaranya Desvi Erinda, Almas Azzahra, dan Yalena Alexandra.
Desvi Erinda, salah satu model yang membawakan busana tersebut, mengaku bangga dapat menerjemahkan pesan dan jiwa perjuangan Ibu Fatmawati di atas panggung penilai.
"Semoga di waktu yang ada menjelang Oktober nanti, Mbak Sarah bisa menyempurnakan detail desainnya, agar kita bisa memberikan hasil terbaik dan menang di tingkat nasional," katanya.
Baca juga: Rencana Pemkot Yogyakarta Menambah Hidran Kering Tahun Depan Terancam Gagal
Sementara, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, menyampaikan apresiasi tinggi atas pencapaian anak-anak muda di jajarannya tersebut.
Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda memiliki potensi besar jika diberi ruang dan kesempatan berekspresi secara positif.
"Ini sebuah soft campaign dan inspirasi yang luar biasa di luar ekspektasi saya. Mereka, yang rata-rata usianya masih di bawah 25 tahun, menunjukkan bahwa yang muda bisa berada di depan dan menghasilkan sebuah karya berkualitas," tegasnya.
Bukan sekadar kompetisi busana dan kebaya tradisi, Eko bilang, ajang Fatmawati Trophy merupakan wadah untuk meresapi semangat perjuangan Ibu Negara Fatmawati Soekarno saat menjahit Bendera Pusaka Merah Putih.
Bagaimanapun, Ketua Komisi A DPRD DIY tersebut menandaskan, generasi belia tidak boleh melupakan akar sejarah dan asal-usul bangsanya.
"Saya selalu berpesan kepada teman-teman muda, hikmati bagaimana Ibu Fatmawati menjahit Merah Putih. Setiap langkah di panggung harus membawa spirit Ibu Fatmawati, Bung Karno, dan Bung Hatta dalam memerdekakan Republik ini," tuturnya.
Lebih lanjut, Eko berharap karya kreativitas sektor fesyen ini dapat dikembangkan menjadi ekosistem industri kreatif yang terintegrasi di Kota Yogyakarta, mulai dari tata busana, perias pengantin, hingga event organizer.
Guna mematangkan persiapan menuju final nasional di Bali, pihaknya berencana menggulirkam eksibisi pagelaran busana konsep terbuka di salah satu kawasan bersejarah di Kota Yogyakarta.
"Sebelum berangkat ke Bali bulan Oktober, kita ingin buat pameran atau eksibisi outdoor di tempat bersejarah di Kota Yogya. Ini jadi wadah latihan sekaligus berekspresi bagi anak-anak muda kita," pungkas Eko. (*)