SRIPOKU.COM - Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI, DPR RI, dan DPD RI di Jakarta, Jumat (14/8/2026), menyebut kisah Susanah, buruh harian asal Kabupaten Bogor yang bekerja mengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram.
Namun, gambaran berbeda datang dari Gini (53), buruh pengupas bawang di Pasar Legi, Kota Solo, yang mengaku hanya menerima Rp10.000 untuk setiap karung bawang yang dikupasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo memperkenalkan Susanah yang hadir langsung di ruang sidang sebagai salah satu masyarakat penerima manfaat program pemerintah.
Presiden menyampaikan bahwa Susanah bekerja sebagai buruh pengupas bawang dengan upah yang disebut mencapai Rp700.000 per kilogram.
Prabowo juga menyinggung bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan program sembako yang disebut membantu Susanah memenuhi kebutuhan keluarga hingga pendidikan anak-anaknya.
"Hari ini, hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram. Program Keluarga Harapan dan program sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian karena pekerjaan sebagai buruh pengupas bawang ternyata juga dijalani warga lain dengan kondisi ekonomi yang berbeda.Salah satunya adalah Gini (53), buruh pengupas bawang yang setiap hari mencari penghasilan di Pasar Legi, Kota Solo.
Berbeda dari gambaran penghasilan yang disampaikan dalam pidato tersebut, Gini mengaku pekerjaan mengupas bawang bukanlah pekerjaan yang memberinya pendapatan besar. Bagi perempuan berusia 53 tahun itu, pekerjaan tersebut justru menjadi pilihan untuk tetap mendapatkan pemasukan di tengah usia yang semakin bertambah.
Setiap pagi, Gini rutin mendatangi Pasar Legi untuk mencari pekerjaan yang bisa dikerjakannya pada hari itu. Sesampainya di pasar, ia biasanya mengambil karung berisi bawang yang tersedia untuk kemudian dikupas satu per satu. Tidak ada majikan yang secara khusus memanggilnya untuk bekerja atau memberikan jadwal tetap setiap harinya.
Gini datang atas inisiatif sendiri dan berharap ada pekerjaan mengupas bawang yang bisa dikerjakan untuk mendapatkan penghasilan. Kisah Gini menunjukkan bahwa di balik pekerjaan sederhana sebagai buruh pengupas bawang, terdapat perjuangan warga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena itu, cerita tentang Susanah dalam pidato Prabowo pun menarik perhatian dan membuka gambaran berbeda mengenai kehidupan para buruh pengupas bawang di lapangan.
"Saya sudah lama ngupas bawang di Pasar Legi. Sudah tiga tahunan. Mau kerja apa bingung, sudah tua," kata Gini, Sabtu (15/8/2026).
Di tangannya, satu per satu kulit bawang dilepaskan.
Pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang selama berjam-jam hingga bawang dalam karung selesai dikupas.
Namun, setiap karung yang dikerjakannya hanya dihargai Rp10 ribu.
Berbeda dengan sistem pengupahan berdasarkan kilogram yang disebut dalam pidato Presiden, Gini mengatakan buruh pengupas bawang di Pasar Legi dibayar berdasarkan jumlah karung.
"Satu karung krawang itu Rp10 ribu, bukan kiloan," ujarnya.
Satu karung yang biasa dikerjakan Gini bahkan berisi sekitar 20 kilogram atau lebih bawang.
Dengan demikian, meski harus menangani bawang dalam jumlah puluhan kilogram, bayaran yang diterima tetap Rp10 ribu untuk satu karung.
Dalam sehari, Gini biasanya hanya mampu menyelesaikan sekitar tiga karung.
Jika seluruhnya selesai, penghasilannya sekitar Rp30 ribu.
"Biasanya hanya selesai tiga karung, dengan upah Rp30 ribu per hari," tuturnya.
Jumlah tersebut menjadi penghasilan Gini untuk pekerjaan yang dilakukannya sejak pagi hingga sore.
Ia mengaku tidak bisa memaksakan diri mengambil pekerjaan lebih banyak karena kemampuan fisiknya juga terbatas.
Usia 53 tahun membuat pilihan pekerjaan yang tersedia untuknya semakin sedikit.
Selama sekitar tiga tahun, pasar menjadi tempatnya mencari penghasilan.
Bukan pekerjaan yang menjanjikan pendapatan besar, tetapi cukup untuk membuatnya tetap memiliki penghasilan.
Ia juga menyebut tarif pengupasan bawang di lokasi tersebut relatif sama bagi para buruh.
"Semua pengupas bawang di sini harganya sama Rp10 ribu per karung," ujarnya.
Gini mengaku hanya mengupas bawang putih.
Ia tidak mengetahui secara pasti apakah pengupas bawang merah menerima bayaran dengan sistem yang sama.
Ketika mendengar pidato Presiden yang menyebut buruh pengupas bawang memperoleh Rp700.000 per kilogram, Gini mengaku terkejut.
Menurutnya, angka tersebut tidak menggambarkan kondisi yang ia alami bersama para buruh pengupas bawang di Pasar Legi.
Kisah Gini menjadi gambaran kecil bagaimana pekerjaan informal di pasar masih menjadi tumpuan bagi sebagian warga yang tidak lagi memiliki banyak pilihan pekerjaan.
Di balik aktivitas perdagangan yang ramai di Pasar Legi, terdapat buruh-buruh yang bekerja sejak pagi dengan bayaran berdasarkan karung yang mereka selesaikan.
Bagi Gini, Rp30 ribu sehari bukan angka yang besar.
Namun, pekerjaan mengupas bawang tetap dijalaninya karena hanya itu pekerjaan yang menurutnya masih bisa dilakukan.
"Saya sudah tua. Mau kerja apa," ucapnya singkat.
(TribunTrends/TribunSolo)