Napak Tilas Perjuangan di Desa Pempatan Karangasem Bali, Pandu Ingatkan Jejak Perjuangan Wayan Rahat
Putu Dewi Adi Damayanthi August 16, 2026 12:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA -  Suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Karangasem tidak hanya diisi dengan berbagai kegiatan perayaan. 

Di Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, semangat kemerdekaan diekpresikan melalui kegiatan pelacakan atau napak tilas jejak perjuangan para pejuang.

Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Dusun Pemuteran, Sabtu 15 Agustus 2026 tersebut, dilepas Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa. 

Di hadapan peserta, ia mengingatkan, perjalanan napak tilas seharusnya tidak berhenti pada aktivitas menyusuri rute perjuangan.

Baca juga: Jelang Hari Kemerdekaan, Polsek Blahbatuh Simulasikan Pengamanan Unjuk Rasa

Menurutnya, ada pesan sejarah yang jauh lebih penting untuk dibawa pulang oleh setiap peserta, terutama generasi muda.

“Kita ingin mengingat kembali keberanian, semangat dan pengorbanan mereka dalam mempertahankan kemerdekaan,” ujar Wabup yang akrab disapa Gutu Pandu tersebut.

Ia menilai kegiatan seperti ini menjadi penting di tengah perubahan zaman. Generasi muda saat ini mungkin tidak lagi menghadapi medan perang seperti yang dialami para pejuang, namun memiliki tanggung jawab lain untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan.

Bentuk perjuangan itu, kata Pandu, dapat diwujudkan melalui pendidikan, kedisiplinan, kerja keras, kepedulian sosial hingga ikut membangun daerah.

“Kalau dahulu perjuangan dilakukan dengan mempertaruhkan nyawa, sekarang perjuangan kita adalah mengisi kemerdekaan. Caranya dengan bekerja, belajar, membangun daerah dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Pemilihan Desa Pempatan sebagai lokasi napak tilas juga memiliki alasan historis. 

Wilayah ini menyimpan jejak perjuangan masyarakat Karangasem dalam mempertahankan kemerdekaan.

Salah satu nama yang kembali diingat dalam kegiatan tersebut adalah I Wayan Rahat. 

Putra Pempatan itu tercatat sebagai salah satu pejuang asal Karangasem, yang turut berjuang bersama pasukan I Gusti Ngurah Rai.

Bagi Pandu, kisah Wayan Rahat penting untuk terus diperkenalkan kepada generasi penerus. 

Sebab, sejarah perjuangan tidak hanya berkaitan dengan tokoh besar yang namanya dikenal luas, tetapi juga orang-orang dari desa yang ikut mempertaruhkan hidupnya untuk bangsa.

“Di Pempatan ada putra daerah, I Wayan Rahat, yang ikut berjuang bersama pasukan I Gusti Ngurah Rai. Kisah seperti ini harus terus diceritakan agar anak-anak kita mengetahui bahwa dari Karangasem juga lahir pejuang-pejuang yang memberikan pengorbanan bagi kemerdekaan,” tuturnya.

Ia berharap keberadaan jejak sejarah tersebut tidak hanya dikenang ketika peringatan kemerdekaan tiba. 

Cerita tentang para pejuang lokal dinilai perlu terus diwariskan agar generasi muda memiliki kedekatan dengan sejarah daerahnya sendiri.

Pandu menegaskan, nilai yang terkandung di balik perjuangan itulah yang menurutnya harus terus diterapkan.

“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal nama I Gusti Ngurah Rai, tetapi tidak memahami semangat perjuangan yang diwariskan. Sejarah harus terus hidup melalui cerita dan nilai yang kita tanamkan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Ia juga mengajak peserta menjadikan napak tilas sebagai momentum memperkuat kebersamaan. 

Semangat persatuan, gotong royong dan keberanian yang ditunjukkan para pejuang dinilai masih relevan untuk menghadapi tantangan pembangunan saat ini.

“Perjuangan para pahlawan tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu. Tugas kita sekarang adalah meneruskan semangat itu dengan menjaga persatuan, bekerja dengan tulus dan bersama-sama membangun Karangasem,” jelasnya. (mit)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.