Gus Yahya: Ada Semangat Mbah Wahab dalam Muktamar Tambakberas Jombang
Ndaru Wijayanto August 16, 2026 12:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengingatkan warga Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak melupakan sejarah perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah menjelang Muktamar ke-35 NU.

Pesan itu disampaikan Gus Yahya saat menghadiri Istighotsah dan Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI di Auditorium Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha), Tambakberas, Jombang, Sabtu (15/8/2026) malam.

Di hadapan peserta yang memenuhi auditorium, Gus Yahya mengulas panjang perjalanan perjuangan Mbah Wahab.

Ia menyebut KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan sosok yang mampu membaca perubahan zaman, dan menerjemahkannya menjadi gerakan nyata.

Menurut Gus Yahya, pemikiran Mbah Wahab tidak berhenti pada upaya mempertahankan warisan masa lalu.

Mbah Wahab juga memikirkan apa yang harus diperjuangkan umat Islam untuk menghadapi masa depan.

"Ini semangat Mbah Wahab yang harus menjiwai Muktamar ke-35 NU," ucap Gus Yahya dalam keterangan yang ditulis Tribunjatim.com, Minggu (16/8/2026).

Perjalanan Mbah Wahab hingga Lahirnya NU

Gus Yahya kemudian membawa peserta menelusuri perjalanan Mbah Wahab ketika menuntut ilmu di Makkah.

Ia menyebut Mbah Wahab berada di Tanah Suci ketika Perang Dunia I pecah pada 1914.

Pada masa itu, Makkah menjadi salah satu pusat intelektual Islam yang mempertemukan ulama dan tokoh muslim dari berbagai negara.

"Sehingga wakil-wakil Islam di seluruh dunia bisa ditemukan di Makkah," ujarnya.

Selama berada di Makkah, Mbah Wahab tidak hanya memperdalam ilmu agama.

Ia juga aktif dalam Sarekat Islam. Sepulang ke Indonesia, aktivitasnya berkembang menjadi gerakan pendidikan, ekonomi, dan pengembangan pemikiran kaum santri.

Pada 1916, Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan. Organisasi tersebut bermula sebagai ruang diskusi strategis bagi kalangan muda, kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan berbentuk madrasah.

Jaringan Nahdlatul Wathan selanjutnya meluas hingga sejumlah wilayah di Jawa.

Gerakan tersebut kemudian diperkuat melalui pendirian Nahdlatut Tujjar pada 1918.

Organisasi ini menghimpun para saudagar di Surabaya dan sekitarnya sekaligus menjadi wadah pengembangan kekuatan ekonomi masyarakat.

Masih pada tahun yang sama, lahir Tashwirul Afkar yang menjadi ruang pengembangan pemikiran bagi para kiai, aktivis pesantren, guru, dan alumni Nahdlatul Wathan.

Ketiga organisasi tersebut, menurut Gus Yahya, menjadi bagian penting dari proses yang kemudian mengantarkan lahirnya Nahdlatul Ulama pada 1926.

"Nah, tiga lembaga itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya NU yang dideklarasikan pada 1926," katanya.

Gus Yahya Selipkan Humor di Tengah Pidato

Gus Yahya menyampaikan sambutan selama lebih dari satu jam. Meski banyak membahas sejarah, suasana acara tidak berlangsung kaku.

Sesekali Gus Yahya menyelipkan humor yang membuat peserta tertawa.

Salah satunya ketika ia menyinggung KH M Hasib Wahab, putra Mbah Wahab yang duduk di barisan depan.

"Mendengar pidato Kiai Hasib itu harus cermat. Karena itu suara Kiai Hasib sendiri atau sebagai Mbah Wahab," ujar Gus Yahya.

Candaan tersebut langsung disambut gelak tawa peserta.

Sejumlah keluarga dan keturunan Mbah Wahab hadir dalam acara tersebut. Di antaranya Hj Hizbiyah Wahab, mantan Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab, Solachul Aam Wahib Wahab, serta Romahurmuzy atau Romi.

Hadir pula dzuriyah Syaikhona Kholil Bangkalan, seperti KH Makki Nasir dan KH Imam Bukhori Kholil.

Perwakilan dari sejumlah pesantren besar di Jombang, termasuk Tebuireng, Denanyar, dan Rejoso Peterongan, turut hadir.

Penulis buku KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI, H Abdul Mun'im DZ, juga berada di barisan depan.

Kegiatan tersebut ditutup dengan pemberian penghargaan kepada puluhan keturunan para pendiri NU.

Muktamar ke-35 NU Digelar di Tanah Kelahiran Pendiri NU

Gus Yahya menilai Muktamar ke-35 NU di Tambakberas memiliki nilai historis tersendiri.

Selain menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi, muktamar tersebut digelar tepat satu abad setelah NU berdiri jika dihitung berdasarkan penanggalan Masehi.

Menurutnya, lokasi pelaksanaan muktamar juga memiliki hubungan erat dengan sejarah kelahiran NU karena Tambakberas merupakan lingkungan pesantren yang menjadi tempat tumbuhnya salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah.

"Ini muktamar yang istimewa karena persis di tahun ke-100 dalam penanggalan masehi. Tempatnya di pesantren tempat lahirnya pendiri NU," jelasnya.

Karena itu, Gus Yahya berpesan kepada seluruh muktamirin dan warga NU yang akan datang ke Tambakberas agar tidak hanya mengikuti agenda organisasi.

Mereka juga diharapkan memahami sejarah dan nilai perjuangan yang diwariskan Mbah Wahab.

"Jangan sampai menginjakkan kaki di bumi Tambakberas tapi lupa kepada Mbah Wahab," pungkas Gus Yahya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.