TRIBUNNEWS.COM, QATAR — Iran dan Qatar terlibat perselisihan mengenai nasib tiga pilot pesawat tempur Iran yang jatuh di Qatar pada Maret 2026.
Teheran menyebut ketiganya ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Qatar. Sebaliknya, Doha membantah dan menyatakan tidak menemukan bukti bahwa para pilot tersebut ditahan.
Perbedaan versi ini muncul di tengah upaya negara-negara Teluk menjaga stabilitas kawasan setelah konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Qatar sendiri berada pada posisi strategis karena menjadi mitra penting Amerika Serikat di kawasan, tetapi tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Iran dan beberapa kali berperan sebagai mediator dalam konflik regional.
Klaim Iran disampaikan Mohammad Bagherzadeh, kepala Komite Pencarian Orang Hilang pada Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, dalam surat kepada Presiden Komite Internasional Palang Merah (ICRC) Mirjana Spoljaric Egger.
Dikutip dari Anadolu, Bagherzadeh mengatakan empat pilot berada di dalam dua pesawat tempur Su-24 yang jatuh pada 2 Maret 2026 setelah menjalankan misi terhadap sebuah pangkalan militer di Qatar.
Menurut versi Iran, kedua pesawat sempat menjalankan misi sebelum terkena sistem pertahanan udara saat dalam perjalanan kembali. Para pilot kemudian melakukan eject.
Baca juga: Helikopter AH-64 Apache Angkatan Darat AS Jatuh di Texas, Dua Pilot Tewas
Salah satu pilot, Majid Kazemi, disebut tewas dan kemudian dimakamkan.
Sementara tiga pilot lainnya, yakni Javad Salehi, Abdolmajid Dashtian, dan Omran Behrouzian, disebut ditangkap dalam keadaan hidup oleh pasukan Qatar.
Bagherzadeh menuduh Qatar melanggar hak para pilot berdasarkan hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa, karena tidak memberikan akses kepada keluarga maupun pejabat Iran untuk menghubungi mereka meski upaya diplomatik telah dilakukan selama enam bulan.
Iran kemudian meminta ICRC mewawancarai ketiga pilot yang disebut masih berada di Qatar, memberikan informasi mengenai kondisi mereka kepada Teheran, serta membantu proses pembebasan.
Qatar membantah klaim tersebut.
Majed Al Ansari, penasihat perdana menteri sekaligus juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, mengatakan Doha “dengan tegas” menolak tuduhan Iran dan menyebutnya menyesatkan.
Al Ansari mengatakan otoritas Qatar melakukan kontak dengan para pilot setelah pesawat mereka memasuki wilayah udara Qatar.
Setelah memastikan lintasan serangan dan berupaya menghubungi para pilot tanpa hasil, Qatar mengambil tindakan untuk mempertahankan wilayahnya sesuai dengan hukum internasional.
“Langkah-langkah yang diperlukan diambil untuk mempertahankan wilayah kami sesuai dengan hukum internasional,” kata Al Ansari.
Menurut dia, setelah insiden tersebut, tim pencarian dan penyelamatan Qatar melakukan operasi untuk mencari para pilot.
Baca juga: Jet Tempur F-16 Turki Jatuh Saat Latihan di Yalova, Pilot Selamat Setelah Kursi Pelontar Aktif
Qatar kemudian menemukan jasad satu pilot dan berkoordinasi dengan Iran mengenai penyerahannya sesuai dengan hukum humaniter internasional.
Doha juga mengundang tim Iran pada April untuk mendapatkan penjelasan langsung mengenai operasi pencarian dan penyelamatan.
Namun, menurut Al Ansari, Iran hingga kini belum menanggapi undangan tersebut.
Perbedaan keterangan itu membuat nasib ketiga pilot menjadi titik sengketa. Iran menyatakan mereka ditangkap dalam keadaan hidup, sedangkan Qatar mengatakan tidak menemukan bukti adanya pilot yang ditahan dan menyatakan operasi yang dilakukan merupakan pencarian korban.
Insiden jatuhnya dua Su-24 tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Pada akhir Februari, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran dengan menargetkan fasilitas militer, nuklir, dan energi.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap sasaran Israel dan Amerika Serikat di berbagai wilayah kawasan.
Dalam rangkaian konflik tersebut, Iran menyebut dua Su-24 dikerahkan pada 2 Maret untuk menjalankan misi terhadap pangkalan militer di Qatar.
Posisi Qatar membuat insiden tersebut memiliki dimensi diplomatik yang lebih besar. Negara itu menjadi tuan rumah sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama mempertahankan saluran komunikasi dengan Teheran.
Qatar juga beberapa kali terlibat dalam upaya mediasi untuk meredakan konflik di kawasan. Karena itu, tuduhan Iran mengenai penahanan pilot dan bantahan Qatar tidak hanya menyangkut nasib personel militer, tetapi juga berpotensi memengaruhi hubungan antarnegara di kawasan Teluk.
Ketegangan tersebut juga berkaitan dengan persoalan keamanan maritim di Teluk, terutama Selat Hormuz.
Pada 18 Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman melalui mediasi Pakistan dan Qatar untuk mengakhiri permusuhan dan memulai perundingan menuju kesepakatan akhir.
Namun, pembicaraan kemudian mengalami kebuntuan akibat perbedaan mengenai keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke pasar global. Gangguan terhadap lalu lintas di kawasan tersebut dapat berdampak pada pasokan energi dan perekonomian di luar Timur Tengah.
Dalam konteks itu, sengketa mengenai tiga pilot Iran menjadi bagian dari persoalan keamanan yang lebih besar. Ketidakjelasan mengenai nasib para pilot berpotensi menjadi isu baru dalam hubungan Iran-Qatar, terutama ketika jalur diplomasi regional masih diperlukan untuk mencegah konflik kembali meluas.
Hingga kini, belum ada verifikasi independen yang dipublikasikan mengenai keberadaan tiga pilot yang menurut Iran ditahan Qatar.
Dengan dua versi yang bertolak belakang, persoalan utama saat ini bukan hanya siapa yang benar mengenai nasib para pilot, tetapi juga bagaimana Iran dan Qatar mengelola sengketa tersebut agar tidak berkembang menjadi sumber ketegangan baru di kawasan Teluk. (Anadolu)