Momen Hasto Kristiyanto Refleksi Pendakian Pusuk Buhit di Samosir, Sempat Terpeleset Dua Kali
Dewi Agustina August 16, 2026 12:38 PM


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mendaki Gunung Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam pendakian tersebut, Hasto secara khusus memanjatkan doa untuk dua Proklamator Kemerdekaan RI, Bung Karno dan Bung Hatta, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, para pahlawan, serta seluruh rakyat Indonesia.

Baca juga:  Kaesang Bakal Nyaleg di Dapil Puan, Hasto PDIP: Itu Proses Normal

Pendakian dilakukan pada Sabtu (15/8/2026) malam.

Hasto tampak mengenakan pakaian bernuansa Bali lengkap dengan udeng putih.

"Kebetulan saya nyaman dengan pakaian ini," ujar Hasto sebelum memulai pendakian.

Ia tampak didampingi kuncen Pusuk Buhit, Sediaman Limbong, selama mendaki gunung berketinggian 1.982 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

 

 

Pusuk Buhit dikenal sebagai salah satu tempat sakral dalam mitologi dan kebudayaan Batak.

Sebelum pendakian dimulai, Hasto mengajak seluruh rombongan berkumpul.

Pria asal Yogyakarta itu kemudian menjelaskan maksud pendakian Pusuk Buhit yang dilakukan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan.

"Kita doakan Bung Karno, Bung Hatta, dan seluruh para pahlawan bangsa. Kita doakan Ibu Megawati Soekarnoputri, dan seluruh jajaran simpatisan, anggota dan kader PDI Perjuangan, serta rakyat Indonesia," ungkap Hasto.

Hasto juga mengajak rombongan, di antaranya Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPD PDIP Sumatera Utara Rapidin Simbolon, Johannes Oberlin Tobing serta kader PDIP Aryo Seno Bagaskoro dan Guntur Romli, untuk memohon agar momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI semakin menguatkan bangsa Indonesia dengan semangat dan pemikiran perjuangan para pendiri bangsa.

"Mari bakar lemak dengan naik gunung," ujarnya sembari mempersiapkan tongkat pendakiannya.

 

 

Doa untuk Keadilan dan Rakyat

Sekitar pukul 00.30 WIB, Minggu (16/8/2026), Hasto bersama Limbong menyelesaikan rangkaian pendakian dan tiba kembali di pos.

Ia mengatakan selama berada di Pusuk Buhit dirinya secara khusus berdoa untuk Bung Karno, Bung Hatta, Megawati Soekarnoputri, PDI Perjuangan, serta seluruh rakyat Indonesia.

"Berdoa agar kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan betul-betul ditegakkan, dan seluruh pemimpin berjuang membebaskan rakyat marhaen. Pendidikan, kesehatan, dan penghidupan yang layak secara kemanusiaan. Rakyat kecil dihormati dengan seluruh martabatnya," kata Hasto.

Hasto menuturkan dirinya berdoa di atas lantai yang dingin. Suasana tersebut, menurutnya, justru membuat doa terasa semakin khusyuk.

Di lokasi itu, Hasto juga melihat bendera Merah Putih berkibar.

Limbong menjelaskan kepadanya mengenai makna warna putih dan merah. 

Putih, kata dia, melambangkan kesucian, sementara merah melambangkan kehidupan.

Selain Merah Putih, di Pusuk Buhit juga berkibar bendera dengan warna putih, merah, dan hitam yang menjadi bagian dari simbol kebudayaan Batak.

Perjalanan turun dari Pusuk Buhit berlangsung cukup menantang karena dilakukan dalam kondisi gelap.

Hasto bahkan memilih berlari menuruni jalur selama kurang lebih satu setengah jam. 

Dia mengaku sempat terpeleset dua kali ketika turun.

Setelah seluruh rombongan menyelesaikan pendakian, Hasto mengajak Limbong turun menuju kaki Pusuk Buhit.

Meski jalur cukup menantang dalam kegelapan malam, Hasto tetap berlari menuruni jalan hingga lebih dari satu jam.

Bagi Hasto, pendakian Pusuk Buhit menjelang peringatan 81 tahun Kemerdekaan RI bukan semata aktivitas fisik.

Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa dan mendoakan agar Indonesia semakin kokoh dalam memperjuangkan keadilan, kemanusiaan, serta kehidupan yang bermartabat bagi rakyat.

Di sela perbincangan setelah pendakian, Hasto mengungkapkan keinginannya untuk kembali mendaki gunung jika mendapatkan kesempatan di tengah kesibukannya.

Salah satu gunung yang menjadi target berikutnya adalah Gunung Tambora (2.851 mdpl) di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Menurut Hasto, Tambora menarik bukan hanya dari sisi pendakian, tetapi juga karena sejarah letusannya yang membawa dampak besar terhadap kehidupan manusia di berbagai belahan dunia.

"Berdasarkan kejadian, letusan Tambora mengubah peradaban. Letusannya disebut menyebabkan tahun tanpa musim panas di berbagai belahan dunia," ujar Hasto.

Hasto juga mengatakan akan menyempatkan diri menonton film dokumenter 14 Peaks: Nothing Is Impossible (2021).

Film tersebut mengisahkan pendaki asal Nepal, Nirmal Purja atau Nimsdai, bersama timnya yang mencatat rekor pada 2019 dengan menaklukkan 14 gunung berketinggian lebih dari 8.000 mdpl dalam waktu 189 hari.

Gunung Pusuk Buhit

Gunung Pusuk Buhit adalah gunung yang berada di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, tepatnya di wilayah Kabupaten Samosir. 

Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut.

  • Mengapa Pusuk Buhit terkenal?

Pusuk Buhit bukan hanya terkenal karena pemandangannya, tetapi juga sangat penting dalam budaya dan sejarah masyarakat Batak.

Dalam tradisi Batak, Pusuk Buhit dipercaya sebagai salah satu tempat penting dalam asal-usul atau awal mula masyarakat Batak. 

Kawasan ini berkaitan erat dengan kisah Si Raja Batak, tokoh leluhur yang dalam tradisi Batak dianggap sebagai nenek moyang orang Batak.

Karena itu, Pusuk Buhit sering dianggap sebagai salah satu tempat sakral dalam kebudayaan Batak.

  • Pusuk Buhit dan Danau Toba

Secara geologi, Pusuk Buhit merupakan bagian dari kawasan vulkanik Kaldera Toba. 

Bentang alamnya terbentuk dari aktivitas vulkanik besar yang membentuk kawasan Danau Toba.

Dari bagian atas Pusuk Buhit, pengunjung dapat melihat panorama Danau Toba, Pulau Samosir, dan pegunungan di sekitarnya.

  • Pendakian

Pusuk Buhit juga populer sebagai lokasi pendakian ringan hingga menengah. 

Jalurnya melewati perbukitan dan kawasan permukiman serta memiliki beberapa tempat yang dianggap penting secara budaya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.