TRIBUNTRENDS.COM - Gempa bumi kuat yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi, menyisakan kisah haru dari Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka. Di tengah kepanikan warga, seorang ibu hamil asal Desa Lenandareta, Kecamatan Paga, Herlina Bunga, harus menjalani persalinan dalam kondisi darurat.
Saat gempa terjadi, Herlina Bunga tengah berada di Puskesmas Paga dan telah memasuki fase inpartu atau pembukaan lengkap. Situasi tersebut membuat sejumlah tenaga kesehatan segera mengambil langkah cepat demi memastikan keselamatan ibu dan bayi. Herlina Bunga kemudian dievakuasi keluar dari bangunan puskesmas untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan maupun gempa susulan.
Ia selanjutnya dipindahkan ke halaman Taman Kanak-Kanak (TK) Poli Pawe Alvarez Paga yang lokasinya tidak jauh dari puskesmas. Di tempat terbuka tersebut, petugas Puskesmas Paga menyiapkan ruang persalinan darurat dengan perlengkapan yang tersedia.
Kain digunakan sebagai pembatas sederhana, sedangkan sebuah mobil truk turut dimanfaatkan untuk membantu melindungi area persalinan. Sementara itu, ambulans Puskesmas Paga disiagakan sebagai bagian dari upaya mengantisipasi kebutuhan selama proses persalinan. Karena pembukaan sudah lengkap, proses kelahiran tidak mungkin lagi ditunda meski kondisi di sekitar masih diliputi kepanikan akibat gempa.
Sekitar pukul 09.02 WITA, Herlina Bunga akhirnya melahirkan anak ketiganya melalui persalinan normal. Bayi perempuan tersebut lahir dengan berat badan mencapai 3,6 kilogram dalam situasi yang jauh dari kondisi persalinan pada umumnya. Proses persalinan bahkan berlangsung di atas mobil ambulans yang telah disiapkan oleh Puskesmas Paga.
Baca juga: 2 Orang Dilaporkan Meninggal Karena Gempa NTT Magnitudo 7,7, Bangunan Roboh & Warga Lompat ke Laut
Tangisan bayi yang terdengar di tengah suasana darurat sontak menghadirkan kelegaan bagi keluarga dan para tenaga kesehatan.
Kelahiran tersebut pun menjadi momen haru sekaligus kabar bahagia di tengah situasi gempa yang mengguncang wilayah Flores. Bayi perempuan tersebut kemudian diberi nama Agustin Gempita Aurora. Nama Gempita dipilih karena bayi tersebut lahir tepat pada hari ketika gempa kuat mengguncang wilayah Flores.
Kepala Puskesmas Paga, Gabriel Pelo Panditi, membenarkan peristiwa tersebut saat dikonfirmasi pada Sabtu siang. Gabriel mengatakan, ketika gempa terjadi, Herlina Bunga sudah dalam kondisi pembukaan lengkap dan membutuhkan pertolongan persalinan.
“Jadi dievakuasi ke tempat yang lebih aman, kondisi sekarang sudah melahirkan dengan selamat,” ujar Gabriel, Sabtu (15/8/2026) siang.
Setelah melahirkan, Herlina Bunga dan bayinya belum langsung dibawa kembali ke ruang perawatan di dalam gedung puskesmas.
Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa susulan. Untuk sementara, ibu dan bayi dirawat di tempat terbuka, tepatnya di bawah pohon johar di halaman Kantor Camat Paga.
Gabriel mengatakan, kondisi ibu dan bayi terus dipantau oleh tenaga kesehatan sembari menunggu situasi dinilai aman.
“Belum masuk ke ruang perawatan karena takut gempa susulan, jadi sekarang ibu dan anak sedang dirawat di bawah pohon johar di halaman Kantor Camat Paga,” jelasnya.
Menurut Gabriel, setelah masa nifas dan kondisi ibu serta bayi dinilai baik, keduanya dapat diperbolehkan pulang berdasarkan anjuran dokter.
Kelahiran Agustin Gempita Aurora menjadi salah satu kisah haru di tengah bencana gempa yang mengguncang Flores.
Sebanyak 48 orang dilaporkan meninggal dunia dan 64 orang lainnya mengalami luka berat maupun luka ringan akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).
Data tersebut merupakan hasil pendataan dan verifikasi sementara hingga pukul 08.30 WITA, Minggu (16/8/2026). Korban tersebar di enam kabupaten di Pulau Flores, yakni Manggarai Timur, Sikka, Manggarai Barat, Manggarai, Nagekeo, dan Ngada.
Memasuki hari kedua operasi pencarian dan pertolongan, Tim SAR Gabungan memperluas pencarian di sejumlah wilayah yang terdampak gempa.
Pencarian diprioritaskan di Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, serta wilayah Reo, Kabupaten Manggarai.
Kepala Kantor SAR Maumere sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, mengatakan personel bersama sejumlah alat utama SAR telah dikerahkan sejak pukul 06.00 WITA ke sejumlah titik yang menjadi prioritas operasi.
Menurut Fathur, akses menuju beberapa wilayah terdampak yang sebelumnya terhambat akibat longsor mulai kembali terbuka.
Tim Rescue Pos SAR Manggarai Barat yang ditugaskan melakukan pencarian di wilayah Manggarai Timur telah berhasil membuka akses darat menuju wilayah Reo.
“Tim Rescue Pos SAR Manggarai Barat yang bertugas melakukan pencarian di wilayah Manggarai Timur, per pukul 06.00 WITA, telah berhasil mengakses jalur darat di wilayah Reo yang sebelumnya terdampak longsor,” ujar Fathur Rahman, Minggu (16/8/2026) pagi.
Terbukanya akses tersebut memungkinkan tim memperluas penyisiran ke wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Tim SAR Gabungan juga masih melakukan pendataan dan verifikasi terhadap masyarakat yang terdampak. Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan berbagai unsur potensi SAR terus dilakukan untuk menjangkau wilayah terdampak.
Data Korban Masih Sementara
Hingga pukul 08.30 WITA, sebanyak 112 orang tercatat terdampak gempa. Dari jumlah tersebut, 48 orang dilaporkan meninggal dunia dan 64 lainnya mengalami luka berat maupun luka ringan.
Namun, data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring berlangsungnya pencarian, pendataan, serta verifikasi di lapangan.
Kondisi sejumlah wilayah yang sulit dijangkau juga menjadi tantangan bagi petugas dalam menghimpun informasi mengenai korban dan kerusakan.
Karena itu, petugas terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait untuk memastikan data yang dihimpun dapat diverifikasi sebelum disampaikan kepada masyarakat.
Di tengah operasi pencarian dan pertolongan, masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.
Warga juga diminta mengikuti arahan petugas di lapangan serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Operasi SAR masih berlangsung di sejumlah wilayah prioritas. Tim gabungan terus melakukan pencarian, pertolongan, dan pendataan untuk mengetahui kondisi masyarakat yang terdampak gempa.
(TribunTrends/TribunFlores)