TRIBUNJATENG.COM, KEBUMEN – Kasus dugaan bullying yang menimpa seorang siswa SMK di Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menjadi perhatian publik setelah video kejadian beredar luas di media sosial.
Peristiwa yang diduga terjadi saat kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) itu kini telah dilaporkan ke Polres Kebumen oleh keluarga korban.
Laporan resmi diajukan orangtua korban bersama kuasa hukumnya pada Selasa (11/8/2026).
Langkah hukum ditempuh setelah upaya mediasi yang melibatkan pihak sekolah, keluarga korban, dan keluarga terduga pelaku belum menghasilkan penyelesaian yang memuaskan.
Baca juga: Merah Putih Diturunkan dan Bendera Bulan Bintang Dikibarkan Saat Peringatan Hari Damai Aceh
Baca juga: 686 Kali Gempa Susulan di NTT, 16 Kali di Antaranya di Atas Magnitudo 5
Bermula Saat Antre Program MBG
Berdasarkan keterangan kuasa hukum korban, HD Sriyanto, peristiwa dugaan perundungan terjadi pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung.
Saat itu korban sedang mengantre untuk mendapatkan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan di sekolah.
Namun situasi berubah ketika korban diduga diseret keluar dari antrean menuju lahan kosong di belakang gedung sekolah oleh seorang kakak kelas.
Di lokasi tersebut, korban diduga menjadi sasaran kekerasan fisik. Dalam rekaman video yang kemudian beredar, korban terlihat mengalami pemukulan dan dibanting oleh pelaku.
Aksi tersebut juga diduga direkam oleh seseorang yang berada di lokasi sebelum akhirnya videonya tersebar luas melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
Video Beredar, Kasus Berujung Laporan Polisi
Beredarnya video dugaan bullying itu memicu reaksi keluarga korban. Mereka kemudian meminta pendampingan hukum dan melaporkan kasus tersebut ke Polres Kebumen.
Menurut Sriyanto, peristiwa itu perlu mendapat perhatian serius karena terjadi di lingkungan sekolah saat jam belajar masih berlangsung.
Dalam laporan yang disampaikan kepada kepolisian, pihak keluarga tidak hanya melaporkan siswa yang diduga melakukan kekerasan, tetapi juga sejumlah pihak lain yang dianggap berkaitan dengan peristiwa tersebut.
"Kami berharap kasus ini segera ditindaklanjuti agar kejadian serupa tidak kembali terjadi, baik di sekolah tersebut maupun di sekolah lainnya," ujar Sriyanto.
Korban Mengalami Luka dan Trauma
Ibu korban yang berinisial SU mengungkapkan anaknya mengalami sejumlah keluhan fisik setelah kejadian tersebut.
Korban mengaku merasakan sakit pada bagian kepala dan perut. Selain itu, keluarga juga menemukan lebam pada beberapa bagian tubuh korban yang diduga akibat tindakan kekerasan yang dialaminya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan keluarga memilih menempuh jalur hukum.
Mereka berharap proses penyelidikan dapat mengungkap secara jelas kronologi kejadian sekaligus memberikan keadilan bagi korban.
Harapan Agar Sekolah Lebih Aman
Keluarga korban menegaskan sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk belajar dan berkembang, bukan menjadi lokasi terjadinya kekerasan atau perundungan.
Karena itu, mereka berharap seluruh pihak terkait, mulai dari sekolah hingga aparat penegak hukum, dapat mengambil langkah tegas agar kasus serupa tidak kembali terulang.
Sementara itu, polisi masih melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak untuk mengungkap secara utuh dugaan bullying yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut. (*)