Obesitas Tak Serta-Merta Terjadi karena Bakat Gemuk dari Keluarga
Aditya Eka Prawira August 16, 2026 01:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Memiliki keluarga dengan tubuh gemuk tidak berarti seseorang pasti mengalami obesitas. Faktor genetik memang dapat meningkatkan risiko, tapi kebiasaan yang terbentuk di lingkungan keluarga juga memiliki peran besar.

Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengatakan, faktor keluarga perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi genetik.

Menurut Dante, kondisi metabolisme setiap orang berbeda. Ada yang memiliki metabolic rate rendah sehingga lebih mudah mengalami kenaikan berat badan. Sebaliknya, ada pula yang memiliki metabolic rate tinggi sehingga cenderung lebih sulit gemuk.

"Yang metabolic rate-nya rendah ini keluarganya secara genetiknya gampang gemuk. Maka pola asuh di dalam keluarga, pola makan di dalam keluarga, kebiasaan di dalam keluarga, itu bisa menjamin keluarga itu untuk menjadi gemuk semuanya," ujar Dante dalam peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas: Berani Bicara Berat, Jumat, 14 Agustus 2026.

Pola Makan Keluarga Ikut Berpengaruh

Dante menekankan pentingnya pola asuh dan kebiasaan makan di dalam keluarga. Sebab, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seseorang mengenal makanan dan membentuk kebiasaan sehari-hari.

"Untuk keluarga yang gemuk-gemuk, sebenarnya pola asuh di dalam keluarga menjadi penting. Peran ibu yang paling penting dalam mengatur isi dan jenis makanannya. Nah, itu mesti disadari oleh masyarakat Indonesia," katanya.

Oleh sebab itu, edukasi mengenai pola makan sehat perlu dimulai dari tingkat keluarga. Jenis makanan yang tersedia di rumah, kebiasaan makan, hingga aktivitas sehari-hari dapat memengaruhi berat badan anggota keluarga.

Dante mengatakan perbedaan kondisi genetik setiap orang juga perlu dipahami. Oleh sebab itu, seseorang tidak bisa hanya melihat berat badan anggota keluarga lalu menyimpulkan bahwa faktor genetik merupakan satu-satunya penyebab.

"Maka perlu edukasi di tingkat keluarga. Karena secara genetik beda-beda," ujar Dante.

Obesitas Tidak Cukup Hanya Kurangi Makan

Dante juga menegaskan bahwa penanganan obesitas tidak cukup hanya dengan mengurangi porsi makan. Penyebab seseorang mengalami obesitas perlu ditelusuri secara menyeluruh.

"Penatalaksanaan atau terapinya memang tidak bisa hanya mengurangi makan saja tapi harus secara yang namanya holistik," ujarnya.

Pendekatan tersebut mencakup perubahan perilaku dan manajemen stres. Pola tidur, manajemen waktu, serta kebiasaan sehari-hari juga perlu diperhatikan.

Menurut Dante, obat dapat diberikan jika memang dibutuhkan. Namun, keputusan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.