Ratna Sari Dewi: Sangat Sukar Menemukan Pria Lain Sehebat Bung Karno
Moh. Habib Asyhad August 16, 2026 02:34 PM

Ratna Sari Dewi mengaku sangat sukar menemukan pria yang sehebar Bung Karno. Dia mengaku tenggelam dalam cinta pria kelahiran Surabaya itu.

Diolah dari artikel yang tayang di Tabloid NOVA edisi 5 Februari 1989

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -“Tak bisa saya pungkiri, sangat sukar menemukan pria lain sehebat Bung Karno.”

Pernyataan itu dilontarkan Ratna Sari Dewi (Dewi Soekarno) dalam wawancaranya dengan Yan Louhenapessy dari Tabloid NOVA edisi 5 Februari 1989. Dan karena itulah, hingga Dewi Soekarno memilih untuk tak menikah lagi.

Dia mengaku, dua kali bertunangan tapi putus di jalan. Cintanya pada BK, katanya, tak akan pernah padam. Mereka telah berjanji sehidup semati.

Ketika BK wafat, Dewi nyaris menghabisi nyawanya. “Dan itu pasti terjadi kalau saja saya tak ingat bahwa saya memiliki Karina,” tuturnya.

Kata Dewi, dia begitu hanyut dalam cinta BK yang begitu mendalam.

Siapa tak kenal wanita berdarah Jepang dan salah satu istri dari Bung Karno ini? Di mana pun dia hadir, pastilah mengundang perhatian.

Apalagi kalau dia berdampingan dengan seorang pria, maka isu pun kemudian menyebar. Itukah lelaki pilihan Ratna Sari Dewi Soekarno setelah menjanda sekian lama?

Tapi toh gosip tinggal gosip. Tetap saja dia memilih hidup hanya bersama Karina, putri tunggalnya.

Dewi memang pernah bertunangan. Dua kali, malah. Tapi semuanya tidak diakhiri dengan perkawinan.

“Dua kali saya berpikir untuk menikah lagi. Yang pertama adalah karena saya merasa sangat kecewa dan sakit hati oleh apa yang terjadi di Indonesia. Sebab itu saya ingin mengubur semua kenangan dan perasaan yang ada serta memutuskan semua hubungan dengan Indonesia. Saya bahkan ingin melepaskan nama Soekarno, untuk menjadi manusia yang baru dan menjalani hidup yang baru. Saya ulangi, ini adalah karena saya sangat kecewa dan sakit hati,” katanya.

Yang kedua, kisahnya, adalah ketika Karina, putri tunggalnya, berusia 8 tahun. Karina mulai merasa tidak bahagia apabila melihat teman-temannya dijemput ayah mereka sepulang dari sekolah, melihat mereka bergandengan tangan di jalan. Juga ketika dia mengunjungi rumah teman-temannya, dia melihat mereka duduk di pangkuan ayah masing-masing, dipeluk dan diciumi.

“Jelas,” lanjut Dewi, “Secara tidak sadar Karina merasa iri pada teman-temannya. Sukmawati pernah mengunjungi kami di Swiss. Guruh juga sering datang ke rumah kami di Paris ketika dia masih sekolah di Belanda. Bahkan Megawati juga mengunjungi kami ketika dia tengah mengadakan tour untuk mempelajari situasi dunia. Namun kunjungan-kunjungan itu tidak cukup bagi Karina. Dia membutuhkan kehadiran anggota keluarga laki-laki, seorang figur ayah. Karena itulah saya memikirkan untuk menikah kembali. Tetapi hal itu tidak terlaksana. Mungkin karena kemauan Tuhan,” ungkap Dewi.

Bayang-bayang

Karina adalah segalanya buat Dewi. “Dialah satu-satunya harta peninggalan Bapak untuk saya. Harta yang tak ternilai harganya karena Karina adalah bukti cinta kasih saya dan Bapak,” ujarnya.

Kalaupun dia kemudian bertunangan (pertama dengan bankir dan industriawan asal Spanyol, kedua dengan bangsawan Perancis), tegas Dewi sekali lagi, "Itu demi Karina."

“Padahal,” kata Dewi, sejak Karina masih kecil, “Saya selalu menceritakan tentang almarhum ayahnya. Foto Bapak pun selalu dibawa Karina. Ternyata semua itu tak cukup buat dia. Karina merindukan seorang ayah. Apalagi saya selalu sibuk meski Karina selalu ditemani seorang inang pengasuh.”

Namun pertunangan itu tak pernah sampai meningkat ke jenjang perkawinan. Bayang-bayang BK, katanya, terus memenuhi benaknya.

“Saya merasa terus dibayangi Bapak, meski sudah berusaha sekuat tenaga melupakan Bapak. Namun selalu gagal. Terlalu sulit melupakan Bapak,” katanya lagi.

Dia lalu memberi perumpamaan tangan Buddha. “Meski kita merasa sudah lari dari genggamannya, ternyata kita masih berada di dalamnya. Nah, hal semacam itulah yang saya rasakan,” Dewi Soekarno beralasan.

Sampai kini pun, dia mengaku masih mencintai dan bangga akan Bung Karno. “Saya merasa seolah Bapak masih hidup dan tidak pernah bisa melepaskan diri darinya. Karena itu, saya pikir, sayalah orang yang paling murni mencintai Bapak,” ungkap wanita cantik ini yang juga pernah mengatakan, “Cinta Bapak begitu dalam. Saya merasa hanyut di dalamnya”.

Pulang

Seperti kita ketahui, Dewi dan Karina “mengungsi” ke luar negeri setelah terjadinya huru-hara di Indonesia sekitar 1965-1966. Mereka kemudian menetap lama di Paris, Perancis.

Tahun 1979, mereka datang ke Indonesia. “Saat itu bertepatan dengan pernikahan salah seorang putra Bapak,” kata Dewi.

Dan menurut Dewi, “Di mana-mana kami mendapat sambutan hangat sekali. Ke mana pun kami pergi, penduduk mengerumuni kami. Mereka menangis, menjerit-jerit dan berebut untuk berjabatan tangan dengan kami. Mereka semuanya kelihatannya senang sekali berjumpa dengan kami.”

Dan hal itu, lanjut Dewi, “Membuat kami merasa sangat terharu. Saya sangat terkesan sekali oleh keberanian mereka menunjukkan perasaan mereka, sehingga saya merasa, bahwa telah tiba waktunya untuk kembali dan menetap di tanah air.”

Dewi memang sempat memikirkan untuk kembali ke Indonesia, karena ketika dia tinggal di Paris, “Saya melihat banyak pelarian-pelarian politik baik yang kaya atau miskin. Mereka berbicara dalam bahasa Perancis yang fasih, hidup di sana, tetapi bukanlah warga negara Perancis.”

Mereka itu, kata Dewi, adalah orang-orang Iran, Lebanon, Algeria, Maroko negara-negara Afrika, Vietnam, dan Kamboja. “Menurut saya, sangat sedih rasanya tinggal di suatu negara yang bukan negara kita sendiri,” tambah istri kelima Bung Karno itu.

Sedih karena tinggal di mana pun juga, bila tak memiliki kebanggaan nasional, maka tak memiliki negara untuk dibanggakan. “Saya tidak mau Karina menjadi salah seorang dari mereka. Apalagi dia adalah putri proklamator Indonesia,” tutur perempuan yang bernama asli Naoko Nemoto.

Karena itulah, ungkap Dewi lebih lanjut, “Setelah kunjungan tahun 1979 itu, saya yakin, sudah tiba saatnya untuk kembali dan tinggal di Indonesia. Dan saya pun mulai membuat persiapan untuk itu.”

Khawatir

Begitulah alasan Dewi kembali ke Indonesia ketika itu. Juga karena “Sebagai istri dari pria Indonesia, saya merasa, inilah negeri saya. Karena Bapak, saya mencintai negeri ini. Karena itulah saya bertekad, sisa hidup saya, akan saya habiskan di Indonesia.”

Dewi yang tetap rajin mengunjungi makam BK di Blitar mengatakan, “Terkadang saya merasa sedih hidup di luar negeri. Kadang, timbul perasaan seperti tak tahu, dari mana saya berasal. Namun sebagai janda alm. Soekarno dan ibu dari Karina, saya merasa bertanggung jawab dan memiliki kewajiban untuk menjadi warga negara Indonesia yang baik. Itu pula yang selalu saya tanamkan pada Karina. Karena pemikiran itu pula saya bertekad, kami harus pulang ke negara asal, Indonesia.”

Saat dia datang ke Indonesia itu (1979), Dewi memang tak disertai Karina. Dia konon menjelaskan pada putrinya, “Kamu tinggal di Paris dulu, Mama mau melihat dulu, bagaimana perkembangan di Indonesia.”

Menurut Dewi, hal itu sengaja dilakukannya karena dia merasa khawatir. “Jika Karina langsung dibawa, dia tak punya bayangan tentang Indonesia. Saya takut ia merasa terasing di sini karena misalnya tidak memperoleh keramahan dari masyarakat,” tutur Dewi.

Was-was putrinya merasa shock dan sulit nantinya mengembalikan rasa percaya dirinya, Dewi memutuskan untuk datang sendiri. Kekhawatirannya pun lenyap, karena ternyata di disambut hangat oleh masyarakat.

Kerasan

Sejak Karina masih kecil, sambung Dewi, “Saya sudah mengajarnya mengenai Indonesia sehingga dia mempunyai gambaran yang baik tentang Indonesia. Untuk itu saya harus berhati-hati, karenanya pada tahun pertama saya bolak-balik Jakarta-Paris untuk melihat bagaimana hidup di Indonesia tanpa Bapak. Pekerjaan apakah yang cocok bagi saya,yang dapat saya lakukan untuk kehidupan saya.”

Pada mulanya Dewi tinggal di hotel-hotel seperti Hilton, Mandarin dan Borobudur. Setelah Dewi mendapat rumah, barulah Karina menyusul dan tinggal beberapa tahun di Indonesia.

“Selama itu, Karina diajar bahasa Indonesia, mengenal tradisi serta adat-istiadat dan kebudayaan serta sejarah bangsanya,” kata Dewi.

Dia pun mendidik putrinya itu agar mengenal saudara-saudaranya demi mempersatukan keluarga Sukarno dan untuk mendapat teman-teman yang baik. Tiap liburan, Dewi mengajaknya "bertualang" dari satu daerah ke daerah lain.

Tujuannya, supaya Karina mengenal Indonesia! Dan menurut Dewi, rupanya putrinya itu sangat kerasan dan senang tinggal di Indonesia.

Karina bahkan sangat senang dan bangga membawa teman-temannya dari Paris dan New York untuk menghabiskan liburan musim panas mereka di Indonesia. Sambil menunjukkan pada mereka megahnya Candi Borobudur, keindahan Yogya dan Bali.

“Kadang-kadang, dia membawa 7-8 teman sekaligus,” ujar Dewi dengan mata berbinar.

Ketika itu, Karina masih menempuh pendidikan di Boston, Amerika Serikat. Meski begitu, “Bukan berarti kami sok kebarat-baratan. Sebagai orang Timur, sifat-sifat ketimuran selalu tertanam di hati kami,” tutur Dewi.

Kehidupan jetset

Bicara soal "cap" anggota kelompok golongan jet-set yang kerap diberikan orang pada Dewi, dia berkomentar, “Saya pribadi, tidak suka dengan dunia itu. Jet-set atau tidak, itu hanya ditulis di media massa saja. Tiap kalangan ini berkumpul di Eropa, langsung pers setempat memuat foto-fotonya dan tersebar ke seluruh dunia.”

Dewi sendiri beranggapan, perkenalannya dengan orang-orang terkenal dan terpandang, adalah karena Dewi pribadi. Bukan karena dia adalah janda mendiang Bung Karno. “Mereka tidak kenal dan tidak tahu (Dewi istri mendiang Bung Karno, red.),” tegas Dewi.

Jikapun dia kerap diundang ke mana-mana, “Kalau Anda memiliki bakat dan kepribadian, Anda akan selalu dihargai,” ujarnya.

Karena kepribadian itulah, lanjutnya, kita selalu mendapat sambutan hangat. Jadi, kalau orang menilainya senang bergaul dengan kalangan jet-set, itu terlalu berlebih-lebihan menurut Dewi.

Mengenai kehidupannya selama di Paris, Dewi mengatakan di sanalah dia banyak belajar tentang dunia usaha. “Sebelumnya saya tak pernah membayangkan dunia itu. Tapi saya kemudian sadar, saya tak mungkin bisa bertahan hidup lama tanpa melakukan usaha. Karena itulah, lewat bisnis, saya berusaha dan bekerja keras membangun kehidupan saya dan Karina,” katanya.

Selama di negara itu pun, lanjutnya, dia tak pernah mau menggunakan embel-embel Sukarno. Khususnya di dalam bisnis, nama Sukarno tidak ada artinya, kata Dewi. “Hanya keyakinan dan pelaksanaan yang baik sajalah, yang merupakan aset Anda,” tegasnya.

Nama sang suami memang tak pernah dipakainya dalam bisnis. Sebab, “Jika demikian, saya akan hidup dengan standar nama Bapak, hingga tak bisa berjalan dan bekerja sebagai wanita biasa.”

Dewi merasa tak perlu menjelaskan, bagaimana kerasnya perjuangannya di sana. Yang terpenting, dia selalu menjaga nama baiknya. Soalnya kalau dua ceritakan pun, belum tentu orang mau membantu bila misalnya dia mengalami kesulitan.

Lalu dia melanjutkan, meski terlihat menebar senyum di suatu pesta, misalnya, itu wajar saja baginya. Karena dia berpikir, untuk apa menunjukkan kesedihan pada orang lain yang menurutnya itu adalah bentuk sebuah kegagalan.

“Saya tidak suka hal itu. Saya lebih senang berjuang dan berusaha,” tuturnya. Dia mengakui, ketika pertama kali kembali dan tinggal di Indonesia, dia merasa sepi dan sedih karena harus berusaha sendiri. Tapi seiring waktu, dia merasa sangat bahagia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.