Utang Pengusaha Harus Direm Sebelum Bisnis Masuk Jurang
Choirul Arifin August 16, 2026 02:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA — Pengusaha perlu mengetahui kapan harus berhenti menambah utang ketika ekspansi mulai mengancam kesehatan bisnisnya.

Bagi Dahlan Iskan, utang yang terus dipacu tanpa mempertimbangkan kemampuan perusahaan membayar kewajiban justru dapat membawa bisnis ke kondisi yang lebih sulit.

“Seperti mobil yang sedang ngebut, harus direm. Kalau tidak direm, bisa masuk jurang,” ujar Dahlan Iskan dalam talk show “75 Tahun Dahlan Iskan: Dilema Pengusaha, Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tak Berkembang” di Hotel Shangri-La Surabaya belum lama ini.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika sejumlah pengusaha membagikan pengalaman menghadapi tekanan keuangan, mulai dari utang Rp350 miliar, penerbitan hingga 800 cek kosong, pembiayaan Rp140 miliar, hingga piutang sekitar US$15 juta.

Menurut Dahlan, persoalan utang bukan sekadar apakah pengusaha boleh berutang atau tidak. Pengusaha harus mampu membaca batas ekspansi dan menentukan kapan bisnis perlu mengerem.

Di satu sisi, modal diperlukan untuk memperbesar usaha. Namun, pertumbuhan yang terlalu bergantung pada utang dapat berubah menjadi beban apabila tidak diimbangi arus kas yang memadai.

Karena itu, pertanyaan penting bagi pengusaha bukan hanya “Bolehkah berutang?”, tetapi “Apakah utang tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan yang cukup untuk membayar kewajibannya?”

Ketika Utang Menjadi Beban

Pengalaman Tri Dawang, pengusaha sistem teknologi informasi, menunjukkan perubahan cara pandang terhadap utang. Pada 2021, bisnisnya masih memiliki banyak kewajiban. Ia sebelumnya meyakini utang merupakan bagian penting untuk mengembangkan usaha.

Namun, setelah seluruh utangnya dilunasi, bisnis tetap dapat tumbuh dengan pengelolaan yang lebih disiplin tanpa terus menambah utang.

Hal serupa dialami Mulyono, pengusaha asal Sragen yang selama hampir tiga dekade menjalankan Turrima Agrobiotech, produsen pupuk organik berbasis Humic Acid.

Baca juga: 10 Tahun Lalu Jadi Raja Liga Inggris, Leicester City Kini Dijual Akibat Utang

Selama sekitar 17 tahun, bisnisnya terlihat berkembang, tetapi menurut Mulyono fondasinya rapuh karena terlalu bergantung pada utang. Setelah mengikuti coaching syariah pada 2017, utangnya berhasil dilunasi pada 2018.

Sejak itu, ia memilih tidak lagi menjadikan utang sebagai sumber utama ekspansi. Bisnisnya tetap berkembang dan memperluas pasar hingga Afrika serta Timur Tengah.

Di Afrika, Mulyono harus membangun kepercayaan pasar melalui uji coba pupuk senilai sekitar Rp2 miliar. Setelah dua tahun, produknya diklaim mampu meningkatkan produksi padi hingga 40 persen dan mendapat penghargaan dari Menteri Pertanian Kamerun Gabriel Mbairobe.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa modal pertumbuhan tidak hanya berupa uang, tetapi juga kualitas produk dan kepercayaan pasar.

800 Cek Kosong hingga Utang Rp350 Miliar

Syaikhul Hadi, pengusaha sarana produksi pertanian asal Ponorogo, pernah mengalami ekspansi agresif. Ia memegang distribusi produk dari sekitar 55 perusahaan dan membuka cabang di berbagai wilayah.

Pertumbuhan tersebut kemudian meningkatkan tekanan kewajiban. Pada periode terberat, Syaikhul mengaku pernah menerbitkan hingga 800 cek kosong.

Pada 2018, ia menghentikan ketergantungan pada perbankan dan mulai menyelesaikan kewajibannya. Bisnis keagenannya berhenti, sementara ia menjual produk di gudang dan menawarkan aset untuk membayar tagihan secara bertahap.

Baca juga: Utang Kopdes Capai Rp240 Triliun Bakal Dicicil APBN Tiap Tahun, Apa Kata Ekonom?

Setelah utangnya selesai, pengalaman sebagai distributor digunakan untuk membangun bisnis sebagai produsen sekaligus penjual pupuk.

Sementara itu, Eka Nugraha, pengusaha telekomunikasi asal Bogor, pernah memiliki utang hingga Rp350 miliar.

Setelah melakukan penataan kewajiban dan bergabung dengan Keluarga Besar SyaREA World, utangnya disebut berkurang sekitar setengah dalam satu tahun dan bisnis mulai berkembang tanpa ketergantungan pada utang perbankan.

Bisnisnya pun perlahan berkembang tanpa lagi bergantung pada pembiayaan perbankan.

Aset Produktif Terpaksa Dilepas

Fauzi Priambodo menghadapi persoalan berbeda. Pembiayaan yang awalnya sekitar Rp2 miliar meningkat hingga Rp140 miliar setelah bisnisnya berkembang dan memperoleh sejumlah proyek besar.

Untuk memutus siklus tersebut, Fauzi menjual 20 gerai minimarket yang merupakan aset produktif untuk membantu menyelesaikan kewajibannya.

Bagi Dahlan, keputusan tersebut menggambarkan pentingnya keberanian mengerem ekspansi.

Dalam kondisi tertentu, mempertahankan skala bisnis justru dapat memperbesar risiko. Pengusaha perlu memilih antara mempertahankan ukuran usaha atau menyelamatkan kesehatan perusahaan.

Piutang 15 Juta Dolar AS 

Zainur Nurochman menghadapi persoalan dari sisi piutang. Pengusaha yang pernah bergerak di bidang ekspor perikanan dan kemudian masuk bisnis kontraktor itu memiliki piutang sekitar US$15 juta yang sulit ditagih.

Alih-alih menghabiskan seluruh sumber daya untuk mengejarnya, Zainur memilih mengalihkan energi ke bisnis lain, termasuk usaha kontraktor dan budidaya pisang. “Tugas manusia sebatas ikhtiar,” ujarnya.

Rangkaian pengalaman tersebut menunjukkan bahwa utang bukan sesuatu yang harus dihindari secara mutlak. Pembiayaan tetap dapat menjadi alat pertumbuhan selama digunakan secara terukur dan sesuai kemampuan perusahaan.

Ukuran kesehatan bisnis juga tidak cukup dilihat dari omzet, aset, jumlah cabang atau besarnya proyek. Kemampuan menghasilkan arus kas, memenuhi kewajiban, menjaga kepercayaan dan bertahan menghadapi perubahan menjadi faktor yang lebih menentukan.

Pada akhirnya, mengerem bukan berarti berhenti tumbuh. Bagi Dahlan, dalam kondisi tertentu, mengurangi kecepatan justru diperlukan agar bisnis tidak masuk “jurang” dan memiliki kesempatan untuk kembali berkembang dengan fondasi yang lebih sehat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.