Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 15 Orang, Gencatan Senjata Kembali Terancam
Eko Sutriyanto August 16, 2026 02:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, BEIRUT  — Serangkaian serangan Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai belasan lainnya pada Sabtu (15/8/2026).

Serangan tersebut terjadi setelah tiga tentara Israel dilaporkan terluka parah dalam serangan yang disebut dilakukan Hezbollah, sehingga kembali meningkatkan ketegangan di tengah gencatan senjata yang masih rapuh.

Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan, serangan Israel menghantam sejumlah lokasi di wilayah selatan negara itu.

Serangan di Desa Ansar, dekat Nabatieh, menewaskan tujuh orang, termasuk tiga anak-anak.

Beberapa jam kemudian, pesawat Israel menyerang Deir al-Zahrani dan menewaskan sedikitnya empat orang serta melukai 17 lainnya.

Ansar terletak sekitar 69 kilometer di selatan Beirut.

Baca juga: Soal Aksi Trump Ganti Pesawat, CIA Ragukan Ancaman Pembunuhan dari Iran yang Dilaporkan Israel

Serangan lainnya kemudian dilaporkan menewaskan empat orang, sehingga jumlah korban tewas dalam rangkaian serangan tersebut mencapai sedikitnya 15 orang.

Militer Israel mengatakan serangan di Ansar menyasar infrastruktur Hezbollah. Israel menyebut serangan itu sebagai respons terhadap serangan Hezbollah yang sebelumnya melukai tiga tentara Israel.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Hezbollah telah menyerang tentara Israel di zona keamanan yang berada di dekat perbatasan.

Israel kemudian menyerang lokasi yang disebut sebagai markas yang digunakan untuk memerintahkan serangan tersebut.

Dalam pernyataannya, Israel mengatakan baru mengetahui setelah serangan berlangsung bahwa warga sipil berada di kompleks tersebut.

Militer Israel juga mengklaim serangan itu menewaskan sejumlah anggota Hezbollah, termasuk Ali Samir Al-Haj Hassan, komandan batalion dalam unit Pasukan Radwan.

Namun, militer mengakui keluarga Hassan berada bersamanya ketika serangan terjadi dan menyebut warga sipil turut menjadi korban.

Pemerintah Lebanon mengecam serangan tersebut. Perdana Menteri Nawaf Salam menyebut eskalasi terbaru sebagai situasi yang “sangat berbahaya” karena dapat semakin mengganggu upaya menciptakan stabilitas di Lebanon selatan.

Salam menegaskan bahwa korban tewas di Ansar, termasuk anak-anak dan perempuan, bukanlah target militer.

Ia juga mengatakan keberadaan fasilitas militer, jika memang ditemukan di wilayah Lebanon, tidak memberikan Israel hak untuk menyerang wilayah Lebanon atau membahayakan warga sipil.

“Israel harus menghentikan eskalasi ini. Keamanan rakyat kami dan hak mereka untuk hidup di tanah mereka bukanlah sesuatu yang bisa dinegosiasikan,” kata Salam melalui Facebook.

Gencatan Senjata Kembali Diuji

Rangkaian serangan terbaru menyoroti rapuhnya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Kedua pihak menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada 26 Juni, tetapi ketegangan dan serangan masih terus terjadi setelah kesepakatan tersebut.

Hezbollah menolak gencatan senjata tersebut, sementara Israel tetap melakukan serangan terhadap target yang disebutnya terkait kelompok itu.

Pemimpin Hezbollah Naim Qassem sebelumnya mengecam serangan Israel dalam pidato yang disiarkan televisi pada Jumat. Ia menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa jalur negosiasi dengan Israel tidak akan menghasilkan penyelesaian.

“Negosiasi ini tidak akan menghasilkan apa-apa selain rasa malu dan kehinaan,” kata Qassem.

Dengan kembali jatuhnya korban jiwa, termasuk warga sipil, eskalasi terbaru berpotensi semakin mempersulit upaya mempertahankan gencatan senjata.

Situasi ini juga menunjukkan bahwa meski kesepakatan telah dibuat, konflik antara Israel dan Hezbollah masih menyisakan risiko kekerasan baru di Lebanon selatan. (UPI)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.