Laporan Wartawan TribunBanten.com, Misbahudin
TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK – Dugaan puluhan hektare lahan persawahan warga di wilayah Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, terdampak aktivitas PT Cemindo Gemilang (CG) hingga kini belum mendapat kepastian.
Warga Desa Bayah Timur mengaku sebagian sawah produktif mereka mengalami perubahan sejak 2023. Lahan yang sebelumnya digunakan untuk bercocok tanam disebut tidak lagi dapat digarap seperti sebelumnya.
Keluhan tersebut kini mendapat respons dari Pemerintah Kabupaten Lebak.
Namun, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, masih irit memberikan penjelasan terkait langkah penanganan persoalan tersebut.
Baca juga: Puluhan Hektare Sawah Milik Warga Bayah Diduga Terdampak PT CG, DPRD Lebak Diminta Turun Tangan
Rahmat mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak untuk mengetahui lebih lanjut dugaan dampak aktivitas perusahaan terhadap lahan pertanian warga.
"Nanti kita berkoordinasi dengan DLH. Nanti seperti apa hasilnya," kata Rahmat saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (16/8/2026).
Rahmat tidak menjelaskan lebih jauh mengenai rencana penanganan maupun waktu koordinasi dengan DLH.
DLH Lebak Belum Verifikasi Kondisi Sawah
Sementara itu, Kepala DLH Kabupaten Lebak, Irvan Suyatupika, mengatakan pihaknya perlu melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan penyebab perubahan kondisi lahan persawahan warga.
Menurut Irvan, DLH belum dapat langsung menyimpulkan bahwa kerusakan atau perubahan lahan tersebut disebabkan aktivitas PT Cemindo Gemilang.
"Jika kerusakan lingkungan diakibatkan oleh aktivitas PT CG, tentu kita dari DLH akan memberikan teguran. Tetapi perlu dilakukan verifikasi lapangan terlebih dahulu," ujar Irvan dalam keterangan tertulis.
Hingga saat ini, verifikasi lapangan yang dijanjikan DLH tersebut belum dilakukan.
Irvan menyebut informasi mengenai dugaan dampak terhadap lahan persawahan warga telah disampaikan kepada pihak perusahaan.
"Tapi informasi ini sudah tersampaikan ke PT CG," katanya.
DLH juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Lebak terkait penanganan lahan persawahan yang dikeluhkan warga.
"Ya, kita koordinasikan. Nanti saya harus berkomunikasi dengan bidang dan Dinas Pertanian terkait kesiapan penanganannya," ujar Irvan.
Puluhan Hektare Sawah Berubah Menjadi Daratan
Keluhan warga berkaitan dengan kondisi puluhan hektare lahan persawahan di sekitar Desa Bayah Timur.
Warga mengaku dampak tersebut mulai dirasakan sejak 2023 dan masih terjadi hingga 2026.
Pantauan TribunBanten.com di lokasi menunjukkan sejumlah bagian lahan yang sebelumnya merupakan area persawahan kini berubah menjadi daratan.
Rumput ilalang dan pepohonan tumbuh di beberapa bagian. Tumpukan bebatuan dengan berbagai ukuran juga terlihat menutupi sejumlah titik lahan.
Warga juga menyebut sumber mata air yang sebelumnya digunakan untuk mengairi sawah kini mengering.
Lokasi persawahan tersebut berada sekitar tiga kilometer dari permukiman warga dan akses menuju lokasi melewati kawasan perbukitan.
Salah seorang pemilik lahan, Anda (53), mengatakan persawahan tersebut secara wilayah berada di Desa Pamubulan. Namun, mayoritas pemilik lahan merupakan warga Desa Bayah Timur.
Menurut Anda, sebelum mengalami perubahan, lahan tersebut merupakan sawah produktif yang bisa menghasilkan panen hingga tiga kali dalam setahun.
"Dulu lahan ini aktif digarap dan menjadi mata pencaharian warga untuk bertani karena ini lahan produktif. Tapi sekarang sudah menjadi daratan," kata Anda saat ditemui di lokasi, Kamis (13/8/2026).
Petani Kini Hanya Mengandalkan Air Hujan
Anda menduga perubahan kondisi sumber air berkaitan dengan aktivitas pertambangan di kawasan perbukitan.
Ia mengatakan sumber mata air yang selama ini digunakan untuk mengairi sawah tidak lagi mengalir seperti sebelumnya.
"Karena sumber airnya di atas ada tambang, sehingga mata air sudah tidak bisa mengairi persawahan warga. Mungkin gunungnya sudah dikeruk dan pepohonannya sudah tidak ada," ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, petani kini lebih banyak mengandalkan hujan untuk bercocok tanam.
"Jadi kami hanya mengandalkan air hujan dan petani di sini jadinya petani musiman," katanya.
Ia mengaku kondisi serupa belum pernah dialami warga sebelum adanya aktivitas perusahaan.
"Di sini belum pernah kejadian seperti ini, terkecuali longsor yang disebabkan faktor alam," ucapnya.
Warga Khawatir Longsor Saat Menggarap Sawah
Selain persoalan sumber air, warga mengaku khawatir kembali menggarap sawah karena adanya material batu dan lumpur yang menutupi lahan.
Warga juga menyebut adanya kekhawatiran terhadap longsor yang mereka duga berkaitan dengan aktivitas blasting atau peledakan di area pertambangan.
"Khawatirnya takut ada lagi longsor seperti tahun 2024. Sampai batang kayu besar dan lumpur turun, ngeri," kata Anda.
Ia mengatakan lokasi tambang berada di kawasan perbukitan, sedangkan persawahan warga berada di bagian bawah.
"Itu bisa dilihat langsung. Tambang ada di atas, sawah ada di bawah. Mana mungkin lumpur naik ke atas, pasti ke bawah," ujarnya.
Karena kondisi lahan sudah berubah, warga berusaha memanfaatkan bagian yang masih memungkinkan digunakan.
"Daripada kami rugi, akhirnya apa saja yang bisa dimanfaatkan. Tempat kita duduk ini dulunya sawah, sekarang sudah menjadi daratan," katanya.
Warga juga mengaku tidak mengetahui secara pasti jadwal aktivitas blasting yang dilakukan perusahaan.
"Warga mungkin tidak tahu, tahunya hanya sirene berbunyi. Setelah ada aba-aba, kemudian terdengar suara seperti ledakan bom," ucapnya.