Mizuno,Pria Tertua di Jepang Veteran Perang Sulawesi yang Selamat dari Torpedo, Wafat Usia 111 Tahun
Rustam Aji August 16, 2026 03:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TOKYO — Menyambut peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II pada 15 Agustus 2026, kesaksian sejarah dari Kiyotaka Mizuno kembali menjadi sorotan publik. 

Mantan pria tertua di Jepang yang pernah bertahan hidup dari serangan torpedo hingga ditugaskan di Pulau Sulawesi, Indonesia, tersebut telah meninggal dunia pada Februari 2026 di usia 111 tahun.

Mizuno lahir di Prefektur Shizuoka pada 1914, tahun yang sama saat Perang Dunia I pecah. Sebelum wafat, ia membagikan kenangan kelamnya bertahan hidup di medan perang Pasifik dan mengarungi perjalanan panjang melewati empat era kepemimpinan Jepang: Taisho, Showa, Heisei, hingga Reiwa.

"Di lepas pantai Filipina, kapal kami terkena torpedo musuh dan tenggelam. Saya melompat ke laut dan berpegangan pada sebatang bambu selama empat jam sebelum diselamatkan kapal Angkatan Laut Jepang," kenang Mizuno dalam wawancara sebelum wafatnya.

Pengalaman Tempur di Sulawesi dan Kudeta 1936

Setelah terselamatkan dari perairan Filipina, Mizuno mendarat di Pulau Sulawesi (kala itu disebut Celebes). Akibat ketiadaan armada kapal untuk melanjutkan perjalanan dan kehilangan seluruh persenjataannya yang tenggelam di laut, ia terpaksa bertahan hidup di Sulawesi hingga Perang Dunia II berakhir pada 1945.

Baca juga: BBM AS Tembus 4 Dollar AS per Galon, Trump Minta Warga Menerima Efek Konflik Iran

Selama berada di pulau tersebut, ia menghadapi situasi mencekam setiap hari akibat gempuran sekutu.

"Pada siang hari kami menerima serangan udara, menggali lubang perlindungan dan melarikan diri. Pada malam hari kami berangkat melakukan serangan. Di tengah kehidupan seperti itulah perang berakhir," tuturnya.

Sebelum dikirim ke medan perang Pasifik dan China, Mizuno bertugas di kesatuan elite Pengawal Kekaisaran saat berusia 20 tahun. Ia menjadi saksi hidup Insiden 26 Februari 1936 (Ni-ni-roku Jiken), sebuah upaya kudeta militer berdarah oleh 1.500 prajurit Angkatan Darat yang menduduki pusat pemerintahan di Tokyo. Peristiwa bersejarah itu menjadi titik balik yang mendorong ekspansi militer Jepang ke Asia Tenggara.

Kembali Menjadi Petani dan Refleksi Masa Tua

Pasca menyerahnya Jepang pada 1945, Mizuno pulang ke kampung halamannya di Shizuoka menggunakan kapal militer Amerika Serikat pada usia 31 tahun. Ia kemudian melakoni profesi sebagai petani talas, daun bawang, dan melon hingga usianya menginjak 85 tahun.

Mizuno meninggalkan 4 anak, 10 cucu, dan 10 cicit. Ketika ditanya mengenai kenangan masa lalunya yang panjang, pria tertua di Jepang ini memilih bersikap bijak dan enggan memelihara dendam masa lalu.

"Sudah selama itu, ya. Ingatan saya sekarang juga semakin memudar. Hal seperti itu (perang) tidak perlu terus diingat selamanya," pungkas Mizuno. (tnews/Eko Sutriyanto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.