Kenalkan Zero Waste ke Anak, Mahasiswa Unesa Ciptakan Buku Petualangan 5R
Wiwit Purwanto August 16, 2026 04:05 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA -  Mahasiswa D4 Desain Grafis Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Tabitha Ayu Putri Ning Bestari, menghadirkan cara kreatif untuk mengenalkan pengelolaan sampah kepada anak-anak melalui buku ilustrasi interaktif “Zuan dan Wony: Petualangan 5R”.

Karya tersebut merupakan proyek tugas akhir sekaligus media edukasi lingkungan dalam program SIER Mengajar 1. Tabitha memadukan cerita bergambar, aktivitas fisik, permainan, serta teknologi digital agar siswa sekolah dasar lebih mudah memahami kebiasaan mengurangi dan mengelola sampah.

Menurut Tabitha, ide tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan media pembelajaran lingkungan yang sesuai dengan karakter anak.

“Isu ekologi sering kali memiliki konsep yang kompleks. Karena itu, saya ingin menerjemahkannya menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan dunia anak, sehingga mereka tidak merasa sedang belajar tentang persoalan lingkungan yang berat,” ujar Tabitha.

Ia memilih pendekatan cerita karena anak-anak dinilai lebih mudah menangkap pesan melalui pengalaman visual dan karakter yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Sosok Aqeel, Siswa SMPN 6 Surabaya yang Olah Sampah Jadi Media Tanam Selada, Hasilkan Produk Sehat

“Desain grafis memiliki kekuatan luar biasa untuk menyederhanakan isu ekologi yang kompleks menjadi petualangan visual yang taktil dan mudah dipahami oleh kognisi anak-anak,” katanya.

Zuan dan Wony Ajak Anak Kenal Konsep 5R

Melalui karakter Zuan dan Wony, anak-anak diajak mengikuti petualangan untuk mengenal konsep 5R, yakni Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot.

Kelima konsep tersebut dimasukkan ke dalam alur cerita sehingga edukasi pengelolaan sampah tidak hanya diberikan dalam bentuk teori. Anak diajak memahami setiap prinsip melalui situasi dan aktivitas yang dekat dengan keseharian.

Buku tersebut juga menggabungkan pengalaman membaca konvensional dengan aktivitas interaktif. Sejumlah halaman dilengkapi fitur buka-tutup yang memungkinkan anak berinteraksi secara langsung dengan elemen visual.

Selain itu, terdapat QR Code yang mengarahkan pembaca menuju permainan edukatif. Dengan begitu, anak dapat membaca cerita, melakukan aktivitas fisik, kemudian melanjutkan eksplorasi materi melalui perangkat digital.

Baca juga: Pelatihan Biokonversi Sampah Organik, Dorong Masyarakat Ciptakan Nilai dari Limbah

“Anak-anak tidak hanya diajak membaca. Mereka bisa menyentuh, membuka bagian tertentu, bermain, kemudian menggunakan teknologi digital untuk melanjutkan eksplorasi. Jadi, proses belajarnya lebih beragam,” jelasnya.

Melalui pendekatan tersebut, anak diharapkan dapat memahami praktik sederhana pengelolaan sampah, mulai dari menolak barang yang tidak diperlukan, mengurangi penggunaan, menggunakan kembali barang, mendaur ulang, hingga mengolah sampah organik.

Pesan Zero Waste Diperluas Lewat Beragam Media

Edukasi lingkungan yang dikembangkan Tabitha tidak berhenti pada buku ilustrasi. Ia juga membuat sejumlah media pendukung untuk memperluas kampanye zero waste.

Media tersebut mencakup video animasi motion graphic, pemetaan konten media sosial, hingga produk turunan seperti tas bekal dan perangkat berkebun.

“Pesan zero waste saya ingin dibuat tidak berhenti di buku. Anak-anak bisa menemukan pesan yang sama melalui berbagai media dan kemudian menghubungkannya dengan aktivitas sederhana yang mereka lakukan sehari-hari,” ungkapnya.

Menurut Tabitha, keberagaman media tersebut dapat membantu pesan mengenai pengelolaan sampah lebih mudah ditemui dan dipahami anak dalam berbagai bentuk.

Ia berharap edukasi yang dikemas melalui pendekatan kreatif dapat menumbuhkan kebiasaan menjaga lingkungan sejak usia sekolah dasar.

“Saya berharap anak-anak tidak hanya tahu apa itu zero waste, tetapi juga mulai terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal kecil yang dilakukan sejak dini bisa menjadi kebiasaan yang terus mereka bawa,” pungkasnya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.