Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) menggelar konsolidasi besar-besaran untuk mempertanyakan makna kemerdekaan Indonesia di tengah maraknya perayaan 17 Agustus, Minggu (16/8/2026).
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan (Athof), menegaskan bahwa rakyat belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya.
"Oleh karenanya, kita akan membawakan tagar #MerebutKemerdekaan, agar kita dapat merdeka secara penuh, secara utuh baik secara hukum, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan berdaulat atas tanah agraria kita sendiri," kata Athof.
Gerakan ini akan ditindaklanjuti dengan aksi turun ke jalan untuk mendesak pemenuhan hak-hak dasar masyarakat secara menyeluruh.
Aksi massa dijadwalkan berlangsung pada Selasa (18/8/2026), dengan memilih Bundaran HI sebagai titik pusat pergerakan.
Konsolidasi ini menyatukan berbagai elemen, mulai dari BEM SI, organisasi kepemudaan, hingga simpul-simpul pergerakan masyarakat sipil.
Athof menyoroti kontradiksi antara besarnya kekayaan bangsa Indonesia dan realitas kehidupan masyarakat yang masih dihimpit kemiskinan.
"Indonesia memang negara yang besar dan makmur, tetapi kebesaran serta kemakmuran itu digunakan untuk siapa ketika pengangguran masih banyak dan pendidikan serta kesehatan masih mahal?" cetusnya.
Ia juga menyoroti lambatnya penanganan bencana di daerah serta makin maraknya kasus perampasan tanah dan konflik agraria.
Dalam aksinya nanti, mahasiswa secara tegas menolak keberadaan program MBG dan KDMP yang dinilai bermasalah.
Baca juga: Kain Merah Putih Raksasa Berkibar di Jalan Margonda Depok Pecahkan Rekor
Athof menegaskan bahwa penindakan represif terhadap masyarakat harus segera dihentikan dan para tahanan politik wajib dibebaskan.
Menurut pandangan BEM UI, program MBG dan KDMP telah menabrak batasan yang ditetapkan dalam pasal-pasal konstitusi negara.
"Banyak klaim rezim bahwa dua program itu mengacu Pasal 33 UU 1945, tapi apakah asas kekeluargaan itu berarti dikuasai oleh kroni-kroni rezim melalui kepemilikan SPPG?" serunya.
Ia membeberkan bahwa pembangunan KDMP justru memicu pemborosan anggaran daerah yang mengorbankan alokasi layanan publik dan gaji pegawai. (m38)