TRIBUNNEWS.COM - Gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menimbulkan dampak di sejumlah wilayah, mulai dari jatuhnya korban hingga terganggunya akses transportasi.
Di tengah proses penanganan bencana, pemerintah dan tim gabungan terus memulihkan jalur yang terdampak, serta mengirimkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan warga.
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 sebelumnya mengguncang wilayah Flores, NTT pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, NTT.
Hingga Minggu (16/8/2026) sore, korban yang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, bertambah. Data ini terus diupdate secara berkala.
Sebelumnya, korban meninggal berjumlah 51 orang pada Minggu siang Artinya bertambah dua orang, menjadi 53 korban jiwa yang meninggal.
Namun, pemutakhiran korban jiwa meninggal dunia per Minggu sore berjumlah 53 jiwa.
"Dengan rincian Kabupaten Manggarai Barat 1 jiwa, Manggarai Timur 20 jiwa, Kabupaten Manggarai 25 jiwa, Nagekeo 1 jiwa, Sikka 4 jiwa, Ende 2 jiwa," kata Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari, dalam keterangan pers secara virtual, pada Minggu sore.
Sementara itu, untuk korban luka yang dirawat di faskes terdekat, total berjumlah 135 jiwa.
Korban luka terdiri di 12 jiwa di Sikka, 17 jiwa luka berat dan 20 luka ringan di Manggawai, 21 jiwa luka berat dan 59 jiwa luka ringan di Manggarai Timur, dan 6 jiwa luka berat di Manggarai Barat.
Pemerintah pun menyampaikan duka mendalam kepada masyarakat NTT yang terdampak serta mendoakan para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Disampaikan pula, sebanyak 154 rumah rusak berat.
"Rumah rusak berat 154, kemudian rusak sedang 49, rumah rusak ringan 38," lanjut Abdul Muhari.
Meski begitu, angka tersebut masih sementara karena petugas terus melakukan pendataan.
"Jadi kalau untuk data rumah rusak ini pasti akan dinamis. Karena biasanya di hari pertama itu pencatatan kita lakukan hanya berbasiskan pada laporan di lapangan, laporan visual dan seterusnya," imbuhnya.
Menurutnya, tim sudah mulai masuk ke kabupaten-kota terdampak dan kita mencoba untuk memverifikasi dan memvalidasi data pada hari kedua ini.
Gempa M 7,7 tersebut, turut memicu adanya longsor di Manggarai yang aksesnya sempat terputus akibat material longsoran.
Namun, pada Minggu (16/8/2026) sore ini, akses jalan kini kembali dapat dilalui truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM).
"Per sore ini, ruas jalan di KM 49 Kecamatan Reo sudah dapat dilalui truk pengangkut BBM," ucapnya.
Sementara itu, material batu besar yang sebelumnya menutup akses jalan akibat longsor telah dibersihkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
"Sekali lagi, mungkin kemarin pas kejadian ada batu besar di jalan akibat longsor itu sudah dibersihkan oleh Kementeriaun PU dan dipastikan ruas jalan km 49 itu sudah bisa dilalui truk tangki BBM," jelas Abdul Muhari.
Lantas, terkait titik-titik yang terdampak longsor itu, Abdul Muhari menyampaikan kini sudah memasuki fase pembersihan.
Baca juga: BNPB: Terjadi 995 Gempa Susulan di Flores NTT, Hanya 46 yang Dirasakan Warga
Pemerintah pun menargetkan akses jalan yang terdampak longsor segera kembali normal.
"Untuk titik titik jalan lainnya yang sempat terdampak atau tertimbun longsor, tadi dilaporkan oleh Bapak Menteri PU hampir seluruhnya saat ini sudah selesai fase pembersihan."
"Kita harapkan kalau tidak hari ini, maksimal besok titik-titik jalur jalan terdampak longsor sebelumnya yang tidak bisa dilalui, bisa dilalui," terang pria kelahiran Bukittinggi, 3 Januari 1979 itu.
Pemulihan akses jalan menjadi langkah penting dalam mempercepat penanganan pascabencana. Sebab, kelancaran jalur transportasi akan sangat menentukan optimalisasi pemulihan di berbagai sektor lainnya.
Gempa di NTT pada Sabtu kemarin, diketahui memicu tanah longsor yang menutup badan jalan Trans Flores Ende-Bajawa tepatnya di Nangaba.
"Arah Barai-Nangaba Ende akses putus total. Timbunan material longsor menutupi badan jalan."
"Semoga dinas atau pihak terkait segera memperbaikinya. Terima kasih," kata Ali, salah satu warga Kabupaten Ende, dilansir TribunFlores.com.
Akibat longsor itu, akses transportasi dari dan menuju Ende atau sebaliknya dilaporkan terganggu atau lumpuh total. Kendaraan dari arah Ende menuju Bajawa ataupun sebaliknya tidak bisa melintas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, terjadi pula longsor di kilometer 17 arah timur Kota Ende.
Selain infrastruktur, pemulihan listrik juga dilakukan setelah sejumlah wilayah mengalami pemadaman total atau blackout paska gempa Sabtu pagi.
“Tadi juga sempat disampaikan oleh Dirut PLN bahwa di beberapa titik dan wilayah yang kemarin pada hari pertama pascagempa ini mengalami blackout, per hari ini itu sudah bisa dinyalakan kembali,” kata Deputi Bidang Pencegahan BNPB.
Menurut Abdul, pemulihan tersebut diharapkan membuat warga di wilayah terdampak yang listriknya telah dipulihkan dapat kembali menggunakan aliran listrik.
“Sehingga kita harapkan tentu saja saudara-saudara kita yang berada di lokasi terdampak itu sudah kembali bisa menikmati aliran listrik,” lanjut Abdul Muhari.
Baca juga: Kisah Korban Selamat Gempa NTT: Terselamatkan oleh Tas hingga Tidur di Gua
Kemudian terkait bantuan logistik, Abdul Muhari menyampaikan puluhan ribu paket telah tiba di NTT.
"Terkait bantuan logistik dari Bapak Presiden, sejumlah 50.000 paket sembako. Pertama, sudah terkirim dan sampai 4.925 paket dan saat ini sedang didistribusikan melalui pos Labuan Bajo itu 3.200 paket dengan rincian ke Kabupaten Manggarai Barat 550 paket, ke Kabupaten Manggarai 1000 paket, Manggarai Timur 550 paket dan Niko, serta Ngada masing-masing 550 paket."
"Sedangkan yang landing di Maumere, didistribusikan ke Sikka dan Ende ada 1725 paket dengan rincian Sikka 1000 paket dan Ende 725 paket," jelasnya.
Selanjutnya, pada sore hari ini, akan dikirimkan lagi bantuan dengan jumlah 45.075 paket.
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, TribunFlores.com/Gordy)