TRIBUN-MEDAN.com - Seorang wanita yang baru tiga bulan melahirkan mengaku terpukul setelah tanpa sengaja menemukan kebiasaan suaminya melalui CCTV yang dipasang di kamar tidur.
CCTV tersebut awalnya dipasang untuk memantau kondisi bayinya ketika ia harus meninggalkan kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Namun CCTV tersebut malam merekam tindakan suami yang membuat wanita itu syok.
Kisah tersebut diceritakan oleh wanita iru dalam sebuah tulisan yang dimuat di media Vietnam.
Dikutip dari Eva, Minggu (16/8/2026), ia mengaku memasang kamera karena ingin tetap dapat mengawasi bayinya melalui ponsel saat sedang turun ke dapur untuk memasak atau mencuci pakaian.
Perempuan tersebut baru saja melahirkan anak pertamanya sekitar tiga bulan sebelumnya.
Ia dan suaminya telah menikah selama lebih dari satu tahun sebelum akhirnya dikaruniai anak. Kelahiran anak tersebut membuat kedua keluarga merasa sangat bahagia.
Pada bulan pertama setelah melahirkan, ibu kandung dan ibu mertuanya bergantian datang untuk membantu merawat dirinya dan bayi.
Namun, setelah kondisinya mulai lebih kuat, kedua ibunya harus kembali karena masih memiliki pekerjaan dan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk tinggal lebih lama.
Sejak saat itu, perempuan tersebut mulai mengurus bayinya sendiri. Ia bersyukur karena sang anak tergolong cukup tenang.
Bayi tersebut biasanya akan tidur setelah kenyang menyusu dan tidak terlalu sering menangis.
Sementara itu, suaminya bekerja dari pagi hingga malam. Perempuan tersebut mengaku tidak ingin terlalu mengganggu suaminya sehingga hampir seluruh pekerjaan rumah tangga dan perawatan bayi ia lakukan sendiri.
Beberapa hari sebelum menemukan kejadian tersebut, ia memutuskan memasang kamera di kamar tidur. Tujuan pemasangan kamera itu bukan untuk mengawasi suaminya, melainkan untuk memantau bayi ketika dirinya harus meninggalkan kamar.
Saat kamera selesai dipasang, ia lupa memberi tahu suaminya. Kelupaan tersebut justru menjadi awal dari penemuan yang membuatnya merasa sangat terpukul.
Pada suatu malam sekitar pukul 02.00, bayinya terbangun dan meminta susu. Ia kemudian bangun untuk menyusui, mengganti popok, dan menenangkan bayinya hingga kembali tertidur. Setelah itu, ia dan sang bayi kembali tidur seperti biasa.
Keesokan paginya, ketika bayinya sedang tidur, perempuan tersebut membuka rekaman kamera melalui ponselnya. Awalnya, ia hanya ingin memeriksa apakah kualitas gambar dari kamera tersebut terlihat jelas.
Namun, ketika mempercepat rekaman, ia melihat sesuatu yang membuat tangannya gemetar.
Dalam rekaman tersebut, setelah dirinya dan bayinya tertidur, sang suami terlihat perlahan bangun. Pria itu kemudian memandang ke arah istrinya cukup lama.
Perempuan tersebut sempat mengira suaminya hendak menarikkan selimut untuknya atau melihat anak mereka. Namun, pria tersebut justru mengambil ponselnya setelah memandang istrinya.
Dari rekaman itu, perempuan tersebut melihat suaminya menggulir sejumlah foto perempuan muda dengan tubuh ramping dan wajah yang dirias.
Sang suami terlihat melihat foto-foto tersebut cukup lama sebelum akhirnya mematikan layar ponsel, meletakkannya, dan kembali tidur.
Bagi orang lain, tindakan tersebut mungkin dianggap bukan sesuatu yang serius. Namun, bagi perempuan tersebut, kejadian itu terasa sangat menyakitkan.
Ia mengatakan perubahan fisiknya setelah hamil dan melahirkan membuat dirinya merasa berbeda dibandingkan sebelumnya.
Selama kehamilan, berat badannya bertambah hampir 20 kilogram. Tiga bulan setelah melahirkan, perutnya belum kembali seperti semula.
Selain itu, ia juga mengalami kulit yang menjadi lebih kusam, rambut rontok, serta kurang tidur karena harus merawat bayi pada malam hari.
Perempuan tersebut mengaku menyadari bahwa dirinya tidak lagi terlihat seperti sebelum hamil.
Namun, ia tidak menyangka suaminya justru menghabiskan waktu melihat foto perempuan lain ketika dirinya sedang tidur sambil memeluk anak mereka.
Sejak melahirkan hingga saat itu, hubungan keduanya juga disebut hampir tidak memiliki kedekatan sebagai pasangan suami istri selama tiga bulan.
Sebelumnya, perempuan tersebut selalu mencoba berpikir positif. Ia mengira suaminya sengaja tidak mengajaknya lebih dekat karena memahami bahwa tubuhnya masih dalam masa pemulihan dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Namun, setelah melihat rekaman tersebut, ia mulai mempertanyakan anggapannya selama ini. Ia bertanya-tanya apakah suaminya sudah tidak lagi menganggap dirinya menarik atau apakah perubahan fisik setelah melahirkan membuat suaminya kecewa.
Perempuan tersebut mengaku sepanjang hari setelah melihat rekaman itu tidak ingin berbicara dengan suaminya. Ia bahkan berdiri cukup lama di depan cermin dan memperhatikan perubahan tubuhnya.
Ia menyadari pinggangnya tidak lagi seperti dahulu, wajahnya menjadi lebih bulat, sementara lingkaran hitam di bawah matanya semakin terlihat akibat sering terbangun pada malam hari untuk merawat bayi.
Namun, di tengah kesedihannya, ia kemudian menyadari bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari proses kehamilan dan persalinan yang dijalaninya.
Ia mempertanyakan, jika dirinya tidak hamil dan tidak melahirkan, apakah ia akan mengalami perubahan fisik tersebut.
Menurutnya, menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah. Perempuan harus menghadapi berbagai perubahan, termasuk mengorbankan kesehatan, bentuk tubuh, waktu, dan waktu tidur untuk merawat anak.
Karena itu, menurut perempuan tersebut, hal yang paling dibutuhkan seorang ibu setelah melahirkan bukanlah kritik maupun perbandingan, melainkan rasa dipahami dan dicintai oleh pasangan.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyalahkan suaminya karena tetap bekerja dan berusaha mencari nafkah untuk keluarga.
Meski demikian, ia berharap suaminya tetap memberikan perhatian dan kasih sayang seperti sebelumnya. Baginya, sebuah tatapan lembut, pelukan, atau kalimat sederhana yang meyakinkan bahwa bentuk tubuhnya akan kembali perlahan dapat membuatnya merasa lebih dihargai.
Kini, ia mengatakan tetap ingin mengembalikan bentuk tubuhnya. Namun, keinginannya bukan semata-mata untuk menjadi sempurna di mata orang lain, melainkan agar lebih sehat, percaya diri, dan mampu mencintai dirinya sendiri.
Di tengah proses tersebut, ia berharap suaminya tetap menjadi orang yang mendampinginya. Baginya, kamera yang awalnya dipasang untuk memantau bayi justru secara tidak sengaja memperlihatkan adanya jarak yang mulai tumbuh dalam hubungan rumah tangganya.
(cr31/tribun-medan.com)