Beijing (ANTARA) - Hujan deras, gemuruh menggelegar dan awan hitam menggelantung di langit Beijing pada Sabtu (15/8) sekitar pukul 07.00, seperti prakiraan cuaca sepekan sebelumnya, hanya tiga jam menjelang gelaran "Indonesia Fair 2026" di KBRI Beijing.
Selain cuaca yang kurang bersahabat, acara tahunan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu juga bersamaan dengan gempa bermagnitudo 7,7 di utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pukul 04.58 WIB.
Tema "Indonesia Fair" di KBRI Beijing tahun ini adalah Bali dan Indonesia Timur. Bahkan, foto-foto Pulau Padar, salah satu tujuan wisata utama di NTT terpampang besar sebagai latar panggung, juga ikut merasakan getaran gempa.
Sebanyak 30 stan makanan dan produk Indonesia sudah berdiri di halaman depan dan belakang KBRI Beijing untuk menyuguhkan berbagai cita rasa dan kekayaan Nusantara kepada para Warga Negara Indonesia (WNI), penduduk Beijing, maupun masyarakat lain dari berbagai negara yang datang ke acara tersebut.
Saat ANTARA tiba di KBRI Beijing pukul 10.00 waktu setempat, hujan rintik masih turun tapi antrean warga membawa payung, yang ingin masuk ke lokasi acara dengan memperlihatkan QR code pendaftaran sudah mengular sekitar 10 meter.
Di lokasi acara berbagai tenant juga telah siap dengan berbagai sajian andalannya: tahu isi, batagor, bakwan, siomay, bubur sumsum, pempek, es teler, cendol, berbagai kopi, sambal, nasi peda, nasi jambal, ikan asin, berbagai jenis batik, tas, mi instan, dan lainnya juga siap menyambut pengunjung.
Sekitar 10 menit kemudian, hujan deras kembali mengguyur. Beberapa mata sempat melihat ke arah langit, mencoba menerka apakah hujan akan turun lama atau akhirnya membiarkan acara berlangsung sesuai dengan agenda hingga pukul 18.00 waktu setempat.

Tetap meriah
Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun menyambut sejumlah tamu undangan di luar masyarakat yang mendaftar ke acara tersebut. Para tamu undangan itu, antara lain para duta besar negara sahabat, diplomat, mitra KBRI, maupun sejumlah pelaku usaha yang konsisten memiliki hubungan baik dengan Indonesia.
Acara dibuka dengan penampilan dari kelompok tari Indonesia Yingde, sanggar tari yang didirikan oleh Huang Huilan, keturunan Tionghua yang lahir di Takengon, Aceh, dan pindah ke China pada 1967, membawakan tari asal Bali, sesuai dengan tema "Indonesia Fair 2026".
Sanggar tari itu sendiri berasal dari di Desa Yingde, Kecamatan Donghua, Provinsi Guangdong, China. Huang Huilan bersama teman-temannya juga lahir dan berasal dari Indonesia tapi kemudian pindah ke Desa Yingde konsisten mempertahankan serta mengembangkan seni-budaya Indonesia, termasuk ke generasi kedua dan ketiga yang saat ini menjadi penari di sanggar tersebut.
Tampil juga kelompok akapela dari empat mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang membawakan lagu "Ayo Mama" dari Provinsi Papua, Indonesia.
"Tema tahun ini adalah Bali dan Indonesia bagian timur, dari mana saya berasal. Jadi kami perkenalkan budaya dan berbagai hal dari Papua, Maluku, Bali, Lombok, Pulau Tanimbar, dan lainnya. Mari kita pergi ke Indonesia Timur," kata Djauhari, dalam sambutannya.
Djauhari mengingatkan kembali bahwa China dan Indonesia adalah mitra yang erat, khususnya di bidang ekonomi dengan angka perdagangan kedua negara meningkat tiga kali lipat sejak 2015, sedangkan investasi China tumbuh 12 kali lipat ke Indonesia mulai 2015-2025.
Hingga Juni 2025, nilai perdagangan sudah lebih dari 100 miliar dolar AS dan diharapkan dapat mencapai lebih dari 200 miliar dolar AS hingga akhir tahun.
Dubes mengajak, untuk satu hari hari ini merasakan Indonesia, mendengar Indonesia, dan tarian mengikuti irama Indonesia. KBRI Beijing mengudang para sahabat China dan sahabat dari seluruh dunia untuk menikmati Indonesia.

Demi memperlancar transaksi saat "Indonesia Fair 2026", Kepala Perwakilan Bank Indonesia Beijing Yulian Wihantoro dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS yang sudah dapat digunakan sebagai alat pembayaran. Melalui kerja sama tersebut, masyarakat Indonesia dapat melakukan transaksi menggunakan QRIS saat berada di China, begitu pula sebaliknya bagi warga China yang berkunjung ke Indonesia.
QRIS, menurut Yulian, memungkinkan orang-orang melakukan pembayaran lintas batas menggunakan aplikasi pembayaran domestik yang sudah mereka kenal.
Yulian berpesan untuk semua masyarakat internasional mengunjungi Indonesia, menikmati budaya, makanan, dan objek wisata indah, dengan menggunakan QIRS.
Setelah dua sambutan, kelompok tari Papua Baday, yaitu 11 pelajar asal Papua Barat Daya yang sedang belajar di Jining Polytechnic, Provinsi Shandong, tampil membawakan kompilasi tari dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk tari Saman dari Aceh.
Kemudian hadir Daniel Pattinama, penyanyi berdarah Maluku yang mengawali karier dengan mengikuti ajang pencarian bakat menyanyi The Voice Indonesia yang membawa lagu berirama lambat "Sio Mama".
Untuk memeriahkan suasana yang mulai dipadati pengunjung, Chesylino, Rizky Teng, dan Wulan Sari, musisi yang dikenal karena banyak memakai nuansa musik pop lokal dari kawasan Indonesia Timur membawakan lagu "Tabola Bale", lagu yang memadukan antara dialek timur dan bahasa Minang.
"Tabola Bale" memadukan unsur pop timur dengan tempo cepat dan ketukan yang enak didengar, sehingga cocok untuk menarik para pengunjung bergoyang. Dubes Djauhari dan istri Wiwik Djauhari, Wakil Dubes Irene ikut mengajak para undangan dan masyarakat naik ke panggung dan bergoyang.
Saat panggung sudah "panas" karena matahari semakin bersinar terang, tampil juga Trio Obras, yaitu singkatan dari Trio Djauhari Brothers yang terdiri dari Djauhari Oratmangun, Dharma Oratmangun dan Irbayana Oratmangun membawakan lagu ciptaan mereka "Cerlele" bersama dengan Chesylino dan rekan-rekan.
"Cerlele" menceritakan keceriaan dan keramahtamahan masyarakat Tanimbar (pulau asal Trio Obras) dalam pantun-pantun kerakyatan yang sarat dengan nuansa kegotongroyongan dan spontanitas, kejujuran, serta kehangatan.
"Saya dan Chessylino mencoba meramu lagu tersebut dalam beat 'Timurnesia' yang sedang digandrungi di Indonesia, bahkan beat 'Timurnesia' ini mulai menerobos pasar musik internasional," kata Dharma dengan menyebut Timurnesia sebagai musik berirama cepat dari bagian Indonesia Timur.
"Cerlele" sukses membawa para undangan, sekaligus pengunjung, berjoget bersama, hingga sesi hiburan pertama selesai pada sekitar pukul 12.00 waktu setempat.
Rasa-rasa Indonesia
Dalam tradisi Tiongkok, pukul 11.00-13.00 (waktu "Shi") dianggap sebagai waktu terbaik untuk makan siang karena organ limpa dan perut sedang aktif mencerna makanan, tapi di China, istirahat siang bagi pekerja biasa berlangsung hingga 2 jam, meski durasi menyantap makan mereka singkat, sehingga sisa waktu istirahat digunakan untuk tidur siang.

Karena berada di "wilayah" Indonesia dan untuk memperingati HUT RI, maka cara makannya pun banyak menggunakan "cara dan rasa" Indonesia, sesuai dengan berbagai makanan dan kesenian.
Restoran yang sudah rutin membuka stan di "Indonesia Fair" adalah Nom Nom, satu dari dua restoran masakan Indonesia di Beijing. Nom Nom menyediakan nasi kuning, batagor, tahu isi, putu mayang, sate ayam, getuk lindri, nasi kucing, chiffon pandan, lapis sagu, kue ketan srikaya, es teler, es buang pelangi, cendol dengan harga 5-35 RMB (sekitar Rp13.000 - Rp92.000).
Pemilik, sekaligus koki Nom Nom Anisah Rahmawati mengaku setidaknya 300 porsi batagor, 300 porsi tahu isi, 1.100 tusuk sate ludes terjual karena menjadi menu favorit pelanggan. Tidak ketinggalan 85 porsi es cendol, 80 porsi es buah dan sekitar 70 porsi es teler.
Satu restoran Indonesia lain di Beijing yang ikut dalam "Indonesia Fair" menyajikan menu andalan khas Tanah Air, seperti sate padang, es campur medan, es lilin, kopi susu gula aren, serabi, dan penganan lain.
Kemudian restoran asal Malaysia "Laksa Queen" juga kembali meramaikan "Indonesia Fair" dengan berbagai penganan yang punya kemiripan rasa dengan Indonesia, seperti pastel, es limun, es cincau, wedang sereh pandan, lok lok, caumi bagak ubud, nasi goreng yang juga tak berhenti melayani pengunjung sejak stan dibuka.
Sementara "Lumina Food" yang dimiliki dan digagas oleh Annisa Surtiyana baru pertama kalinya ikut di "Indonesia Fair". Annisa dan temannya menyiapkan menu nasi peda, nasi jambal roti, pecal, sambal dan untuk minum adalah teh soda hasil campuran teh tongji dan minuman bersoda.
"Ini pertama kalinya ikut Indonesia Fair, terus terang awalnya saya pikir lebih banyak orang Indonesia yang datang tapi ternyata kebanyakan orang China. Jadi kami tidak ada yang bisa bahasa Mandarin tapi mereka juga mau sabar untuk mendengar penjelasan kami soal menu-menu yang ada di sini. Senang sih," kata Annisa, seraya mengaku sangat menikmati perayaan perayaan HUT RI di Beijing.
"Karena saya dari Jakarta, biasanya 17-an lewat begitu saja, malah di sini yang semangat 17-an terasa sekali dan sudah lama tidak merasakannya. Jadi eforianya terasa banget," ucap Annisa.

Sementara tenant reguler lain ada "Kopi Buat Kamu" milik Edwin Prajna Adistana, pria asal Bandung yang meraih gelar S2 di Beijing dan memulai usaha mandiri di Beijing dalam dua tahun terakhir.
"Setelah empat kali ikut 'Indonesia Fair', tahun ini kami sudah bisa mengelola alur pemesanan, hingga pembuatan kopi dengan lebih teratur, dan bahkan penjualan tahun ini meningkat dibanding tahun kemarin," ucap Edwin yang dibantu tujuh kru yang juga mahasiswa Indonesia di Beijing.
"Kopi Buat Kamu" menawarkan berbagai jenis beans kopi asal Indonesia, mulai dari kopi hitam, kopi susu, hingga kopi soda, dengan harga antara 20-45 RMB per gelas dan 90 RMB untuk beans dalam kemasan. Edwin menghitung, setidaknya ia meraih omzet sekitar 12.000 RMB (sekitar Rp31,7 juta) dari hasil penjualan hari itu.
Ada juga stan dari Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (Permit) Beijing yang menyediakan cireng, pop ice, mi rendang dan soda gembira yang masing-masing setidaknya laku hingga 650 porsi dengan harga 25 RMB (sekitar Rp45 ribu).
Tenant baru, yaitu "Martabok Pojok" harus tutup sementara satu jam untuk menggodok lagi adonan martabak, baik manis dengan isi cokelat, cokelat kacang, keju, cokelat keju, cokelat kacang keju yang bisa dibeli satu loyang, maupun per potong dengan harga dibandrol 10-100 RMB (sekitar Rp27.000 hingga Rp270.000).
Sementera produk-produk unggulan Indonesia yang sudah dipasarkan di China juga turut serta dalam "Indonesia Fair", seperti FKS Food dengan merek "mi kremez", Yang TyTy dengan berbagai produk sarang burung walet, kerupuk udang "Papatonk" dan "crack/ers Gery", wafer Tango.
Masih ada China Commerce All New International Trading (Shanghai) Limited yang membawa produk olahan kelapa, seperti Kara, Indomie, Kriz-p yang mendistribusikan berbagai produk mie sedap, Asosisasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin) yang membawa durian beku dari Indonesia, Kapal Api, Mayora, Garuda Indonesia dan tentu saja Indomie.
Tidak ketinggalan anggota Dharma Wanita Persatuan KBRI Beijing menggunakan dua stan untuk menjajakan makanan khas Nusantara, seperti mi bakso kuah, nasi goreng, bakwan, arem-arem ayam, tahu bakso, siomay, riso, bubur sumsum, kentang mustofa, es teler, es cendol.
Stan kedua menjual berbagai pakaian batik, tas hingga asesoris cantik yang hingga akhir berhasil menjual sekitar 29.000 RMB (sekitar Rp76,6 juta).
"Saya langsung membeli baju batik ini karena tampak cocok di saya," kata Marcello, pria asal Rio de Jeniro, Brazil, yang bekerja di Beijing dan baru pertama kali datang ke Indonesia Fair.

Marcello yang datang karena diajak temannya asal Indonesia mengaku senang dengan suasana meriah "Indonesia Fair".
Vedant, pria asal India, yang juga pertama kali datang ke "Indonesia Fair" awalnya berpikir sulit untuk menemukan makanan vegetarian.
"Tapi ternyata di sini banyak sekali makanan untuk saya," kata Vedant, sambil menunjukkan tahu isi dan pisang goreng yang berhasil ia dapat setelah mengantre sekitar 15 menit di stan Nom Nom.
Sementara Felix Lee, asal China yang bekerja di salah satu lembaga pemerintah Tiongkokm datang dengan istrinya, mengaku sedang, namun berminat mencoba kopi Indonesia.
Sementara Zewei, perempuan asal Singapura, mengantre di stan Indomie dan langsung memborong empat paket berisi enam bungkus Indomie goreng. Saat mengantre, ia bertemu dengan seseorang asal Brunei Darusalam. "Kita semua tumbuh bersama Indomie," katanya, tertawa.
Pengunjung perdana lain, Jonathan Cheng, asal Kanada tapi bekerja di Beijing, menyempatkan datang ke "Indonesia Fair", sebelum pergi ke Provinsi Yunnan. Jonathan hanya perlu sekitar 5 menit untuk menghabiskan Indomie rasa rendang yang dibeli dari stan PERMIT, kemudian menikmati hiburan di panggung utama.
Di panggung utama, para penampil pada sesi pagi kembali membawakan berbagai lagu dari Nusantara, dengan diselingi trivia quiz soal Tanah Air berhadiah sepeda.
Menikmati cita rasa, irama, dan keramahan Indonesia, itulah tujuan utama "Indonesia Fair", sekitar 5.000 pengunjung pun merasakan hal itu saat peringatan ke-81 kemerdekaan RI di Beijing.





