TRIBUNBANYUMAS.COM, REMBANG - Petani bawang merah yang berada di Dukuh Ngablak, Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, tengah menghadapi ujian berat akibat terjangan musim kemarau ekstrem dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
Kondisi cuaca yang sangat kering tersebut memicu ancaman kegagalan panen bagi para pemilik lahan pertanian bawang merah di wilayah setempat.
Baca juga: BPBD Brebes Salurkan 200.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
Selain ancaman gagal panen, para petani juga dihadapkan pada membengkaknya biaya operasional pengairan tanaman akibat lonjakan tarif listrik sumur bor.
Petani bawang merah Tegaldowo Rembang, Joko Prianto, menuturkan bahwa musim kemarau panjang telah berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026.
Dampak paling dirasakan dari fenomena kemarau ini adalah membumbungnya pengeluaran biaya kebutuhan listrik hingga mencapai sepuluh kali lipat dari kondisi normal.
"Selama musim hujan biaya listrik antara Rp300 ribu hingga Rp400 ribu, sekarang selama tiga bulan musim kemarau sudah keluarkan Rp2 juta hingga Rp3 juta," kata Prianto kepada Tribun, Minggu (16/8/2026).
Prianto menjelaskan bahwa pasokan air bersih yang bersumber dari sumur bor merupakan urat nadi vital untuk mencukupi kebutuhan penyiraman tanaman bawang merah.
Meski demikian, efektivitas jangkauan alat penyemprot air atau sprinkler mengalami penurunan drastis dibandingkan saat musim penghujan tiba.
"Sprinkler hanya bisa menyirami dua baris tanam biasanya bisa sampai empat baris," ungkapnya.
Problem kekeringan tersebut kian meruncing lantaran debit air pada sumur bor miliknya mendadak mengalami penurunan kapasitas secara signifikan.
Ia mengungkapkan bahwa volume air sumur menyusut hingga menyentuh angka 50 persen.
"Tahun-tahun sebelumnya tidak separah ini, kami duga hal itu karena adanya pabrik semen di dekat ladang saya," jelasnya.
Lahan pertanian yang digarap Prianto memang terletak di dekat kompleks pabrik semen dengan radius jarak sekitar 500 meter.
Kebun bawang merah miliknya berada sangat dekat dari gugusan pegunungan kapur Kendeng yang saat ini dieksploitasi untuk bahan baku semen.
"Ya udah cuaca kemarau, debit air turun, padahal sejak dulu tidak pernah seperti ini, mungkin karena ada pabrik semen," bebernya.
Akibat himpitan situasi sulit tersebut, ia terpaksa mengambil kebijakan mengurangi luasan lahan pertanian yang dikelolanya.
Dari total kepemilikan lahan seluas setengah hektare yang terbagi di dua lokasi berbeda, kini ia hanya menyiagakan seperempat hektare lahan di dekat rumahnya.
Sementara satu bidang lahan lainnya terpaksa dibiarkan terbengkalai lantaran ketiadaan sumber mata air yang memadai.
"Iya garap satu lahan ini saja, karena air sedang susah," terangnya.
Di samping masalah pasokan air, Prianto menyampaikan bahwa kondisi fisik tanaman bawang merah di ladangnya tampak lebih kurus akibat kekurangan suplai air di tengah terik kemarau.
Ia juga mendapati adanya serangan hama ulat hijau yang mulai merusak bagian tanaman.
"Ya harapannya jangan sampai gagal panen. Pinginnya tetap bisa panen minimal 2-3 ton," katanya.
Pihaknya menyebutkan bahwa keluhan serupa turut disuarakan oleh para petani bawang merah lain di desanya.
Mereka tidak menuntut gelontoran bantuan muluk dari pemerintah, melainkan mengharapkan adanya jaminan ketersediaan air agar sumur mereka tidak mengalami kekeringan total.
"Hampir semua petani mengeluhkan debit air turun, ya kami berharap agar debit air ini terjaga dan jangan sampai kering," ujarnya.
Menanggapi krisis tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengonfirmasi bahwa Kabupaten Rembang masuk dalam daftar wilayah yang dilanda kekeringan ekstrem.
Pihaknya mengaku telah menginstruksikan dinas teknis di daerah untuk segera merespons dan membantu para petani terdampak.
"Ya tidak hanya Rembang, tetapi sejumlah daerah seperti Wonogiri, Blora, Jepara dan Grobogan, Kendal dan Magelang," katanya.
Ia memaparkan bahwa penyaluran bantuan unit pompa air telah direalisasikan di wilayah Kabupaten Kendal dan Magelang.
Sementara bagi daerah lainnya, pihaknya mengimbau agar para petani menerapkan pola diversifikasi jenis tanaman yang mempunyai tingkat ketahanan lebih tinggi terhadap cuaca kering, seperti jagung, tembakau, maupun kacang hijau.
"Ya semoga saja musim kemarau ini tidak melebihi bulan September 2026," tandasnya.