TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Atlet mixed martial arts (MMA) asal Sumatera Utara, Yusni Hutasoit, berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih medali emas pada ajang Asia GAMMA Championship 2026 yang berlangsung di Putrajaya, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2026. Petarung asal Kabupaten Tapanuli Utara tersebut tampil sebagai juara di kelas Women 56,7 kilogram setelah menaklukkan atlet Kyrgyzstan, Miraiida Tashpolotova, dengan skor 2-1 dalam pertarungan tiga ronde pada partai final.
Keberhasilan itu menjadi pencapaian terbesar sepanjang karier Yusni di dunia olahraga tarung. Medali emas tersebut juga menjadi gelar internasional pertamanya setelah sebelumnya beberapa kali gagal naik podium pada berbagai kejuaraan, termasuk saat masih berkiprah sebagai atlet kickboxing.
Di balik keberhasilan itu, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan. Sebelum beralih ke MMA, Yusni merupakan atlet kickboxing Sumatera Utara. Namun, selama menekuni cabang olahraga tersebut, ia belum pernah meraih medali di event yang diikuti. Bahkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024, Yusni juga harus mengubur impian membawa pulang medali untuk Sumatera Utara.
Meski berkali-kali mengalami kegagalan, atlet kelahiran Tapanuli Utara itu mengaku tidak pernah kehilangan semangat untuk terus berjuang. "Tentunya saya sangat bangga. Selama ini saya beberapa kali bertanding tetapi selalu kalah. Kadang saya sempat bertanya dalam hati, kenapa setiap bertanding selalu kalah dan kapan saya bisa menang serta mengibarkan bendera Indonesia," ujar Yusni kepada Tribun Medan, Kamis (6/8/2026).
Di balik rentetan kegagalan yang dialaminya, Yusni mengakui sempat merasa tertekan karena berkali-kali gagal meraih hasil terbaik. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia memilih bangkit dengan terus berdoa, memperkuat mental, dan meningkatkan intensitas latihan sebagai bekal untuk meraih prestasi di kesempatan berikutnya. "Memang saya sering stres, tetapi saya selalu berpikir mungkin ini belum waktunya dan belum rezeki saya. Karena itu saya tidak pernah putus asa. Saya tetap berdoa dan berlatih lebih keras," katanya.
Yusni mengungkapkan, sebelum meraih emas di Malaysia, ia sebenarnya sudah beberapa kali tampil di kejuaraan internasional. Pada ajang Asian MMA Championship di Kamboja ia berhasil meraih medali perunggu. Prestasi serupa juga diraihnya pada Kejuaraan Dunia MMA di Tangerang. Meski demikian, ia belum pernah merasakan berdiri di podium tertinggi hingga akhirnya berhasil memecahkan penantian tersebut di Asia GAMMA Championship 2026.
Perubahan besar dalam karier Yusni terjadi setelah mendapat saran dari pelatih kickboxing Sumatera Utara, Sadarmawati Simbolon atau yang akrab disapa Coach Icen, untuk beralih menekuni MMA. Menurut Yusni, keputusan itu bukan hal yang mudah karena ia harus mempelajari teknik baru yang jauh berbeda dengan kickboxing.
"Transformasinya memang sulit. Di kickboxing kami hanya fokus pada striking, sedangkan di MMA harus menguasai takedown dan grappling. Gerakannya jauh lebih kompleks sehingga saya harus belajar dari awal. Sampai sekarang saya sudah hampir dua tahun menjalani latihan di pemusatan latihan nasional," jelasnya.
Meski menghadapi tantangan besar, Yusni memilih mempercayai arahan sang pelatih. Ia menilai Coach Icen merupakan sosok yang memiliki visi dalam membentuk atlet berprestasi. "Saya selalu percaya dengan apa yang direkomendasikan Coach Icen. Apa pun yang beliau arahkan, saya jalani. Walaupun beliau keras saat latihan, sebenarnya beliau sangat peduli kepada atlet. Beliau menyarankan saya fokus ke MMA dan saya langsung menjalankannya. Ternyata keputusan itu membawa hasil yang sangat baik," ungkapnya.
Baca juga: Pengprov ICF Sumut Sampaikan Laporan Kejuaraan Nasional ke KONI Sumut
Yusni mengatakan keberhasilannya meraih emas tidak lepas dari disiplin latihan dan kekuatan mental yang terus dijaga. Selain mengikuti program latihan resmi, ia juga rutin menambah porsi latihan secara mandiri. "Saya banyak berdoa dan menyerahkan semua pertandingan kepada Tuhan. Selain latihan pagi dan sore, setelah teman-teman selesai latihan saya masih menambah latihan sendiri. Saya pernah mendengar kalau orang lain latihan 10 kali, maka kita harus berlatih 100 kali. Itu yang saya pegang sampai sekarang," ujarnya.
Sejak awal mengikuti Asia GAMMA Championship, Yusni sebenarnya telah memasang target meraih medali emas. Namun, ia menyadari hasil pertandingan tidak pernah bisa dipastikan. "Dari awal saya memang optimistis bisa meraih emas. Tetapi dalam pertandingan apa pun bisa terjadi. Syukurnya kali ini Tuhan memberikan hasil yang terbaik," katanya.
Meski sukses menjadi juara Asia, Yusni mengaku masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Ia menilai kemampuan transisi dari teknik striking menuju takedown dan grappling masih perlu ditingkatkan agar lebih siap menghadapi lawan-lawan yang lebih kuat. "Menurut saya transisi dari striking ke takedown masih harus dievaluasi. Saya juga masih perlu meningkatkan kemampuan grappling supaya lebih maksimal," ucapnya.
Setelah meraih emas di Malaysia, Yusni kini mengalihkan fokus untuk menghadapi World GAMMA Championship 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Spanyol pada Desember mendatang. Ia berharap mampu kembali mempersembahkan prestasi bagi Indonesia di level dunia, meski harus absen pada agenda seleksi Asian Games karena belum berhasil lolos.
"Target saya sekarang adalah tampil di World GAMMA Championship. Mudah-mudahan bisa kembali membawa pulang medali. Persiapannya tentu harus lebih keras lagi, menjaga pola istirahat, pola makan, dan tetap konsisten menjalani latihan agar bisa tampil lebih baik di kejuaraan dunia nanti," pungkasnya. (cr29/Tribun-Medan.com