Terdampar di Spanyol, Ratusan Imigran Gelap asal Maroko Gelar Unjuk Rasa Tuntut Kejelasan Nasib
Bobby Wiratama August 17, 2026 02:37 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Ratusan migran asal Maroko yang kini terdampar wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, menggelar aksi protes pada hari Minggu waktu setempat (16/8/206).

Dalam aksinya, mereka mendesak otoritas Spanyol untuk memberikan suaka alih-alih memulangkan mereka kembali ke Maroko.

Para migran tersebut merupakan bagian dari perkiraan 5.000 hingga 8.000 orang yang masih bertahan di Ceuta.

Mereka adalah sisa dari gelombang besar penyeberangan perbatasan dua pekan lalu yang melibatkan lebih dari 72.000 orang, yang menyerbu wilayah seluas 80.000 tersebut beberapa pekan lalu.

Sebagian besar dari mereka telah kembali secara sukarela pada hari-hari berikutnya.

Dengan keterbatasan sumber daya kota yang sangat terbebani, sebagian besar migran kini hidup dalam kondisi yang memprihatinkan di Pantai El Trampolin atau di pinggiran kota.

Mereka menunggu kesempatan untuk dapat melanjutkan perjalanan ke daratan Eropa.

"Kami tidur di sebelah laut, dengan rasa dingin dan bau busuk. Kami sangat menderita," ujar Ayoub Elarroud, seorang migran asal Tetouan, Maroko kepada Reuters.

Ia menambahkan bahwa pihak kepolisian telah memblokir para migran untuk masuk ke pusat kota.

Tuntut Janji Pemerintah Spanyol

Baca juga: Serbuan Migran Ceuta, Tanggung Jawab Siapa?

Dalam aksi protes tersebut, para migran mengibarkan bendera Spanyol dan membawa spanduk bertuliskan "Kami tidak ingin kembali ke Maroko" dan "Kami juga manusia".

Mereka juga meneriakkan slogan-slogan seperti "Kami lelah" atau "Kami butuh solusi".

Di sepanjang pantai berbatu di belakang mereka, beberapa migran terlihat mencuci pakaian, sementara yang lain memancing menggunakan batang bambu darurat.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, menyatakan bahwa migran yang memasuki wilayah tersebut secara tidak sah tidak akan diizinkan untuk tinggal di kantong tersebut, melakukan perjalanan ke daratan Spanyol, atau memperoleh status legal, kecuali dalam kasus-kasus langka yang melibatkan kerentanan ekstrem.

Krisis Kesehatan di Ceuta

Kepala dewan medis Ceuta, Enrique Roviralta, kepada radio Onda Cero, mengungkapkan bahwa tenaga kesehatan di kota tersebut sudah kelelahan mengatasi situasi yang melanda wilayahnya. 

Roviralta mengkritik apa yang ia sebut sebagai respons lambat dari pemerintah pusat.

Ia juga menambahkan bahwa penyakit seperti diare infeksius dan kudis mulai merebak, sementara cedera akibat kekerasan, seperti hidung patah atau luka tusuk, dilaporkan meningkat.

Pada hari Minggu, Menteri Kesehatan Spanyol, Monica Garcia, menolak anggapan bahwa layanan kesehatan lokal "lumpuh" akibat membludaknya imigran gelap meskipun ia mengakui bahwa layanan tersebut memang berada di bawah tekanan.

"Mengaitkan migrasi dengan penyakit adalah tindakan tidak adil dan xenofobia," tegasnya kepada wartawan di Ceuta. Ia menambahkan bahwa risiko wabah epidemi bagi para migran berada pada tingkat moderat, sementara bagi penduduk setempat risikonya rendah.

(Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.