Donald Trump Ancam Kuasai Selat Hormuz, Iran Tak Gentar: Lebih Baik Khawatirkan Keamananmu Sendiri
Eri Ariyanto August 17, 2026 03:12 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali memanas di tengah sengketa Selat Hormuz.

Kali ini, Teheran balik melontarkan peringatan keras kepada Presiden AS Donald Trump.

Peringatan tersebut muncul setelah Trump kembali menyinggung soal kendali atas Selat Hormuz.

Iran menilai pernyataan Trump tak lebih dari sekadar gertakan politik terhadap Teheran.

Ebrahim Azizi, Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, bahkan menyindir Trump secara terbuka.

Ia meminta Presiden AS lebih memikirkan keselamatan dirinya sendiri daripada terus mengancam Iran.

Sindiran itu disampaikan Azizi melalui akun X pada Minggu (16/8/2026).

Azizi juga menyinggung laporan mengenai pengamanan khusus Trump saat meninggalkan Turki.

Pernyataan tersebut menambah panas perang retorika antara Washington dan Teheran.

Terlebih, Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dan gas dunia.

Setiap ancaman terhadap jalur tersebut berisiko memicu gangguan pelayaran hingga gejolak harga energi.

Kini, perhatian tertuju pada apakah perang kata-kata Iran-AS akan berkembang menjadi eskalasi yang lebih besar di Hormuz.

Baca juga: Misteri 3 Pilot Iran di Tengah Perang, Teheran Klaim Ditahan Qatar, Doha Langsung Beri Bantahan

Seperti diketahui, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah seorang anggota parlemen Iran melontarkan peringatan keras kepada Presiden AS Donald Trump terkait ancaman Washington terhadap Selat Hormuz.

Ebrahim Azizi, Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, menilai Trump sedang melakukan gertakan politik melalui pernyataannya mengenai kendali atas salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia tersebut.

Azizi bahkan menyindir Trump agar lebih memperhatikan keselamatannya sendiri daripada terus mengeluarkan ancaman mengenai Selat Hormuz.

“Presiden AS seharusnya mengkhawatirkan keamanannya sendiri daripada terus melakukan gertakan mengenai Selat Hormuz, sebelum akhirnya dia harus bersembunyi di dalam truk makanan,” tulis Azizi melalui akun X pada Minggu (16/8/2026).

Pernyataan tersebut merespons klaim Trump bahwa Angkatan Laut AS sedang mempertahankan blokade penuh terhadap Selat Hormuz. Trump juga disebut mengisyaratkan kemungkinan Washington mengklaim selat tersebut sebagai wilayah AS setelah Iran dikalahkan.

Bagi Teheran, pernyataan tersebut bukan sekadar retorika politik. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global dan menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konfrontasi Iran-AS.

PERANG IRAN AS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington DC, 6 April 2026.
PERANG IRAN AS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington DC, 6 April 2026. (Dok./XINHUA/LI YUANQING)

Sengketa Hormuz Jadi Titik Panas Baru

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur sempit tersebut menjadi pintu keluar utama bagi ekspor minyak dan gas dari sejumlah negara produsen energi di kawasan Teluk.

Karena itu, setiap ancaman terhadap kebebasan navigasi di Hormuz berpotensi berdampak jauh melampaui hubungan bilateral Iran dan Amerika Serikat. Gangguan terhadap pelayaran dapat meningkatkan risiko pasokan energi, mengerek biaya pengiriman dan asuransi kapal, serta menciptakan tekanan baru terhadap harga minyak global.

Dalam konteks tersebut, ancaman mengenai blokade atau pengambilalihan Selat Hormuz memiliki konsekuensi strategis yang jauh lebih besar dibanding sekadar pernyataan politik.

Iran selama ini memandang keberadaan dan aktivitas militer AS di sekitar Teluk Persia sebagai ancaman terhadap kepentingan nasionalnya. Sebaliknya, Washington berkepentingan mempertahankan kebebasan navigasi dan arus perdagangan energi melalui jalur tersebut.

Pertarungan narasi mengenai Hormuz pun menjadi bagian dari tekanan yang lebih luas dalam hubungan kedua negara.

Iran Sindir Keamanan Trump

Azizi menggunakan laporan mengenai perjalanan Trump setelah menghadiri KTT NATO di Turki pada 8 Juli sebagai bahan sindiran.

Menurut laporan yang dikutip WION, Trump sempat dipindahkan dari pesawat yang biasanya digunakan sebagai Air Force One ke pesawat militer lain dalam perjalanan meninggalkan Turki. Perpindahan tersebut disebut berkaitan dengan kekhawatiran terhadap ancaman dari Iran.

Laporan sebelumnya menyebut pesawat yang semula membawa Trump kemudian berfungsi sebagai pengalih perhatian. Sementara itu, Trump disebut menggunakan pesawat lain untuk meninggalkan lokasi.

Trump kemudian dilaporkan mengonfirmasi jkalau dirinya memang dipindahkan menggunakan kendaraan atau pesawat yang tidak mudah dikenali. 

Azizi kini memanfaatkan isu tersebut untuk menyerang kredibilitas ancaman Trump terhadap Iran.

Sindiran tersebut memperlihatkan bagaimana isu keamanan pribadi pemimpin kedua negara mulai menjadi bagian dari perang retorika di tengah meningkatnya ketegangan.

Risiko Eskalasi Tidak Hanya di Laut

Perselisihan mengenai Selat Hormuz juga perlu dilihat dalam konteks persaingan militer dan diplomatik yang lebih luas antara Washington dan Teheran.

Bagi AS, kemampuan mempertahankan akses kapal komersial melalui Hormuz merupakan kepentingan strategis.

Bagi Iran, selat tersebut berada di kawasan yang secara geografis sangat dekat dengan wilayahnya dan menjadi salah satu instrumen penting dalam menghadapi tekanan eksternal.

Apabila ancaman blokade, pengerahan kapal perang atau upaya pembatasan pelayaran benar-benar meningkat, risiko salah perhitungan militer juga ikut bertambah.

Insiden kecil antara kapal perang, kapal tanker atau unit bersenjata dapat berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas apabila tidak segera diredam.

Dampaknya juga berpotensi dirasakan pasar global. Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint energi paling penting di dunia.

Ketidakpastian di kawasan tersebut dapat mendorong pelaku pasar menaikkan premi risiko, sementara perusahaan pelayaran dan energi dapat menghadapi peningkatan biaya operasional.

Retorika Keras Menjelang Perundingan

Di sisi lain, pernyataan Azizi juga menunjukkan bahwa Teheran belum menunjukkan tanda melunak dalam menghadapi tekanan Washington.

Polemik mengenai Hormuz berlangsung ketika isu pembukaan kembali jalur pelayaran dan mekanisme perjalanan kapal melalui selat tersebut menjadi bagian dari perdebatan antara Iran, AS dan negara-negara kawasan.

Karena itu, pernyataan pejabat Iran tidak hanya ditujukan kepada Trump secara personal, tetapi juga menjadi pesan politik bahwa Teheran menolak klaim Washington atas kendali terhadap Selat Hormuz.

Jika retorika tersebut terus meningkat tanpa diikuti jalur diplomasi yang efektif, Hormuz dapat berubah menjadi salah satu titik paling berbahaya dalam konflik Iran-AS.

Untuk saat ini, yang menjadi perhatian bukan hanya apakah ancaman terhadap Hormuz akan diwujudkan dalam bentuk operasi militer, tetapi juga bagaimana Iran, AS dan negara-negara Teluk mengelola risiko agar jalur perdagangan strategis tersebut tidak menjadi pemicu eskalasi yang lebih besar.

(TribunNewsmaker.com/TribunNews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.