Rela Naik Truk, Perjalanan Frederikus dari Ende ke Bajawa Usai Gempa Flores 
Hilarius Ninu August 17, 2026 12:45 PM

Laporan Reporter TribunFlores.Com, Aris Ninu

TRIBUNFLORES.COM,ENDE-Belum sempat menyeruput kopi pagi, Frederikus Tae sudah berlari meninggalkan tempat kosnya di kawasan Pelabuhan Ipi, Ende.

Getaran gempa yang begitu kuat membuatnya panik. Di tengah kepanikan warga dan aktivitas Kapal Pelni Awu yang sedang berada di pelabuhan, pikiran Frederikus hanya tertuju kepada satu hal: keluarganya di Bajawa.

Pria asal Bosiko, Desa Ubedolomolo, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, itu segera menghubungi istrinya. Ia juga berusaha memastikan keadaan anak-anaknya yang berada di sejumlah tempat.

Kabar gempa membuat istrinya meminta Frederikus segera pulang.

Namun, perjalanan pulang tidak mudah. Jalan Ende-Bajawa sempat tertutup longsor. Frederikus bahkan sudah membawa kendaraan ekspedisinya menuju Bajawa, tetapi harus kembali ke Ende setelah mendapat informasi bahwa jalan tidak bisa dilalui.

 

Baca juga: Kisah Bapak di Ngada Tertimpa Reruntuhan Bangunan Saat Gempa Flores Berhasil Selamatkan Diri

 

 

 

Travel dan bus tidak tersedia.

Di tengah situasi itu, Frederikus menemukan jalan pulang dengan cara yang sederhana sekaligus penuh perjuangan. Ia menumpang sebuah truk yang hendak menuju Bajawa.

“Untung pagi itu ada truk yang mau ke Bajawa. Saya lalu numpang ke Bajawa,” kisahnya saat ditemui

TribunFlores.Com dalam perjalanan dari Bajawa ke Ende, Minggu, 16 Agustus 2026 sore.

Sepanjang perjalanan, pikirannya tetap tertuju kepada keluarga. Dua anaknya yang berada di Bali terus berusaha menghubunginya. Namun listrik padam dan gangguan sinyal membuat komunikasi tersendat.

Sesampainya di Bajawa, satu kecemasannya terjawab. Ia bertemu istri dan anak bungsunya dalam keadaan sehat.

Tetapi seorang anaknya di Reo, Manggarai, belum diketahui keberadaannya.

Pagi hari, anaknya sempat memberi tahu bahwa gempa terjadi dan mereka kemudian pergi berlindung ke hutan. Setelah itu, teleponnya tidak aktif.

Frederikus dan istrinya kembali menunggu dengan cemas.

Menjelang malam, kabar yang ditunggu akhirnya datang. Anak mereka menghubungi dan mengatakan bahwa ia berada di hutan dalam keadaan selamat.

Lega.

Bagi Frederikus, gempa bukan hanya tentang bangunan yang berguncang atau jalan yang tertutup longsor. Gempa juga mengajarkannya betapa kuat keinginan seorang ayah untuk berada dekat dengan keluarganya ketika bahaya datang.

Ia bahkan berencana menjemput anaknya di Reo setelah kondisi jalan memungkinkan.

“Biar dia tenang-tenang baru kembali kerja,” katanya.

Kini Frederikus kembali menjalankan pekerjaannya sebagai sopir ekspedisi. Barang harus diantar, perjalanan harus dilanjutkan.

Namun sebelum berangkat, istrinya berpesan agar ia menjaga diri, memperhatikan keselamatan, dan selalu mengingat keluarga.(ris)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.