TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Sekitar 80 hektare lahan persawahan di Desa Pangiang, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, mengalami kekeringan akibat musim kemarau panjang.
Kondisi tersebut membuat petani mulai kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mengairi sawah mereka.
Pantauan Tribun-Sulbar.com di lokasi, Minggu (16/8/2026), terlihat kondisi lahan persawahan yang mulai mengering.
Baca juga: Sukses Kibarkan Merah Putih, Bupati Arsal Puji Penampilan Paskibraka Mamuju Tengah
Baca juga: 9 Faktor yang Jadi Penyebabnya Rambut Rontok, Ini Penjelasan Dokter
Tanah di sejumlah bagian sawah tampak terbelah dan mengeras akibat tidak mendapatkan pasokan air dalam waktu cukup lama.
Saluran irigasi yang biasanya menjadi jalur masuk air ke area persawahan juga terlihat mengering. Tidak ada aliran air yang masuk ke sejumlah petak sawah, sehingga tanaman padi terancam mengalami kekurangan air.
Kondisi ini membuat pemerintah Desa Pangiang segera melaporkan persoalan tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasangkayu untuk mendapatkan penanganan.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pasangkayu bersama sejumlah anggotanya turun langsung ke lokasi dengan membawa mesin pompa air.
Petugas kemudian mengambil air dari sungai yang berada tidak jauh dari lokasi persawahan untuk dialirkan menuju lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
“Begitu aparat desa datang ke kantor dan melaporkan kondisi di lapangan, kami langsung tindaki,” kata Kalaksa BPBD Pasangkayu.
Menurutnya, langkah yang dilakukan untuk sementara adalah memanfaatkan sumber air dari sungai yang masih memiliki debit air untuk membantu memenuhi kebutuhan air para petani.
Anggota BPBD bersama para petani kemudian memasang mesin pompa dan selang untuk mengalirkan air dari sungai menuju area persawahan.
Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah darurat agar lahan pertanian masih bisa mendapatkan pasokan air di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan.
BPBD juga terus memantau kondisi di lapangan, terutama apabila musim kemarau masih berlangsung dan sumber-sumber air semakin berkurang.
Sementara itu, Kepala Desa Pangiang, Rizal, mengatakan kekeringan yang terjadi saat ini telah berdampak terhadap sekitar 80 hektare sawah milik masyarakat.
Menurutnya, para petani sangat bergantung pada ketersediaan air untuk mempertahankan tanaman padi mereka.
“Kalau kemarau masih terus berlangsung seperti ini, kurang lebih 10 hektare sawah sudah tidak bisa bertahan,” kata Rizal.
Ia menjelaskan, kondisi sawah yang terus mengering membuat petani khawatir tanaman padi mereka mengalami gagal tumbuh hingga gagal panen.
Apalagi, jika tidak segera turun hujan, ketersediaan air di sejumlah saluran irigasi diperkirakan akan semakin terbatas.
Rizal mengapresiasi respons cepat BPBD Pasangkayu yang langsung turun ke lokasi setelah pemerintah desa menyampaikan laporan terkait kondisi persawahan.
Menurutnya, bantuan pompa air tersebut setidaknya dapat membantu petani mendapatkan pasokan air sementara.
“Untuk saat ini kami sangat terbantu dengan adanya pompa dari BPBD. Air diambil dari sungai dan dialirkan ke sawah,” ujarnya.
Ia berharap kondisi kemarau tidak berlangsung terlalu lama sehingga persawahan kembali mendapatkan pasokan air secara normal.
Pemerintah desa bersama petani juga akan terus berkoordinasi dengan BPBD untuk mencari solusi apabila debit air sungai semakin berkurang.
Kondisi kekeringan ini menjadi perhatian karena sektor pertanian menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Desa Pangiang.
Petani berharap hujan segera turun sehingga kebutuhan air untuk persawahan dapat kembali terpenuhi.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan