TRIBUN-MEDAN.COM,- Momen peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus kerap dirayakan dengan berbagai cara.
Ada yang menggelar upacara, parade, hingga perlombaan seperti panjang pinang.
Di Indonesia, lomba panjat pinang ini hampir serempak diadakan saat 17 Agustus.
Baca juga: Lirik Lagu Hari Merdeka atau 17 Agustus Tahun 45 Beserta Chord dan Maknanya
Hadiahnya beragam. Ada uang dalam amplop, barang-barang rumah tangga seperti gayung, ember, piring plastik dan juga gelas plastik, serta tudung saji.
Semua digantung pada bagian atas pohon pinang yang sudah dimodikasi sebelum perlombaan.
Namun, terlepas dari lomba dan hadiah yang ada, mungkin banyak yang belum tahu mengenai sejarah lomba panjat pinang.
Banyak versi yang mengisahkan bagaimana sejarah panjat pinang ini di Indonesia.
Baca juga: Tips Aman Panjat Pinang 17 Agustus Agar Tidak Cedera saat Lomba
Ada yang menyebut bahwa lomba panjat pinang merupakan peninggalan penjajah Belanda, tapi ada juga yang menyebut bahwa lomba ini ada sejak masa pendudukan Jepang.
Tapi banyak versi menyebut, bahwa awalnya panjat pinang ini diadakan oleh para orang Belanda yang ada di Indonesia.
Mereka ingin bersenang-senang sambil melihat masyarakat pribumi memperebutkan hadiah yang digantungkan di atas pohon pinang.
Panjat pinang merupakan permainan beregu yang dilakukan dengan memanjat sebuah batang pinang atau tiang tinggi yang permukaannya dibuat licin.
Di bagian atas tiang biasanya dipasang berbagai hadiah.
Baca juga: 60 Pantun Jenaka 17 Agustus 2026 di Momen Hari Kemerdekaan ke 81 RI
Peserta harus menyusun strategi agar salah satu anggota kelompok dapat mencapai puncak.
Karena permukaan tiang sulit dipanjat, peserta umumnya saling membantu dengan membentuk pijakan menggunakan tubuh mereka.
Dalam perkembangannya, aturan panjat pinang berbeda-beda di setiap daerah.
Hadiah yang diperebutkan juga berubah mengikuti zaman, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga barang-barang yang dianggap menarik bagi peserta.
Permainan ini pada dasarnya menggabungkan unsur ketangkasan, strategi, kekuatan fisik, kerja sama dan hiburan masyarakat.
Baca juga: 40 Kata-kata Tokoh dari Soekarno, Hatta dan Agus Salim Cocok untuk Unggahan Medsos 17 Agustus 2026
Dalam catatan kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, permainan coko telah berkembang di Jakarta sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang.
Permainan tersebut dahulu kerap diselenggarakan oleh orang Belanda dalam pesta-pesta tertentu, dengan peserta dari kalangan pribumi.
Hadiahnya antara lain makanan dan pakaian yang digantung di puncak batang pinang yang telah dilumuri minyak.
Fandy Hutari juga membahas permainan dan hiburan pada masa kolonial dalam buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal.
Baca juga: Gratis! Link Twibbon 17 Agustus 2026 Penuh Kemeriahan di Hari Kemerdekaan
Buku tersebut pertama kali diterbitkan pada 2011 dan edisi 2017 tercatat memiliki ISBN 9786020857459.
Penerbit BRIN mengategorikannya sebagai karya mengenai sejarah, seni, dan tradisi lokal.
Karena keterbatasan arsip mengenai kapan tepatnya permainan tersebut pertama kali dilakukan di Hindia Belanda, kurang tepat apabila panjat pinang langsung ditetapkan memiliki satu tahun kelahiran tertentu.
Dengan demikian, penyebutan 1920-an atau 1930-an sebaiknya dipahami sebagai periode ketika permainan tersebut telah dikenal atau berkembang dalam berbagai kegiatan masyarakat kolonial, bukan sebagai tahun pasti kelahirannya.
Baca juga: Contoh Teks Pembina Upacara 17 Agustus 2026, Tinggal Copy Saja
Dalam sejumlah literatur, permainan memanjat tiang pada masa Belanda disebut de klimmast.
Istilah klimmast secara harfiah berkaitan dengan tiang untuk dipanjat.
Istilah tersebut juga memiliki konteks budaya yang lebih luas di Eropa.
Baca juga: 4 Tempat Membeli Pernak-pernik dan Kado 17 Agustus di Medan
Kamus bahasa Belanda yang terdokumentasi dalam koleksi digital DBNL mencatat klimmast sebagai tiang panjat dengan hadiah yang ditempatkan di bagian atasnya.
Hal ini menunjukkan bahwa konsep permainan memanjat tiang untuk mendapatkan hadiah bukanlah sesuatu yang secara eksklusif muncul di Indonesia.
Yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia adalah bagaimana bentuk permainan tersebut berkembang di lingkungan masyarakat Hindia Belanda dan mengalami perubahan fungsi setelah kemerdekaan.
Panjat pinang juga sering dikaitkan dengan Koninginnedag atau Hari Ratu, terutama pada masa pemerintahan Ratu Wilhelmina.
Sumber resmi Kerajaan Belanda mencatat bahwa perayaan yang menjadi cikal bakal Koninginnedag dimulai pada 31 Agustus 1885 sebagai Prinsessedag, bertepatan dengan ulang tahun kelima Wilhelmina.
Setelah Wilhelmina menjadi ratu, Koninginnedag pertama berlangsung pada 31 Agustus 1891. Pada 31 Agustus 1902, perayaan tersebut berkembang menjadi pesta rakyat berskala nasional di Belanda.
Tradisi perayaan ulang tahun Wilhelmina juga dikenal di Hindia Belanda.
Namun, fakta bahwa Koninginnedag dirayakan di Hindia Belanda tidak otomatis membuktikan bahwa setiap lomba panjat pinang selalu diselenggarakan khusus untuk memperingati hari tersebut.
Hubungan keduanya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari konteks perayaan kolonial yang memungkinkan berbagai permainan dan hiburan rakyat berkembang.(tribun-medan.com)