TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU- Kekeringan melanda sekitar 80 hektare lahan persawahan di Desa Pangiang, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Kondisi ini terjadi setelah kemarau panjang membuat pasokan air untuk sawah warga mulai menipis.
Melihat kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasangkayu turun langsung ke lokasi untuk membantu petani mendapatkan pasokan air.
Kepala Pelaksana BPBD Pasangkayu bersama sejumlah petugas membawa mesin pompa air ke area persawahan.
Baca juga: Daftar Menteri yang Tidak Hadir Upacara HUT ke-81 RI di Istana Negara, Ini Alasannya
Baca juga: 200 Veteran Polman Hadiri Upacara HUT ke-81 RI, Dapat Bantuan Sembako dari Bupati
Air kemudian disedot dari sungai yang berada tidak jauh dari lahan pertanian dan dialirkan menggunakan selang menuju sawah yang terdampak kekeringan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai penanganan sementara agar tanaman padi tetap mendapatkan air di tengah kemarau yang belum berakhir.
"Begitu aparat desa datang ke kantor dan melaporkan kondisi di lapangan, kami langsung tindaki," kata Kepala Pelaksana BPBD Pasangkayu.
Petugas BPBD bersama para petani kemudian memasang mesin pompa dan selang untuk mengalirkan air dari sungai ke sejumlah petak sawah.
Sawah Mulai Mengering
Pantauan di lokasi pada Minggu (16/8/2026), sejumlah bagian persawahan terlihat mulai mengering. Tanah tampak keras dan mengalami retakan akibat lama tidak mendapat pasokan air.
Saluran irigasi yang biasanya mengalirkan air ke area persawahan juga terlihat kering. Kondisi tersebut membuat tanaman padi di sejumlah petak sawah terancam kekurangan air.
Pemerintah Desa Pangiang sebelumnya telah melaporkan kondisi tersebut kepada BPBD Pasangkayu agar segera mendapat penanganan.
Kepala Desa Pangiang, Rizal, mengatakan kekeringan telah berdampak terhadap sekitar 80 hektare sawah milik warga.
"Kalau kemarau masih terus berlangsung seperti ini, kurang lebih 10 hektare sawah sudah tidak bisa bertahan," kata Rizal.
Menurut dia, petani mulai khawatir tanaman padi mengalami gagal tumbuh hingga gagal panen jika tidak segera mendapat pasokan air.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan apabila hujan tidak kunjung turun karena debit air pada sejumlah saluran irigasi diperkirakan terus berkurang.
Petani Terbantu Pompa BPBD
Rizal mengapresiasi respons BPBD Pasangkayu yang langsung turun setelah menerima laporan dari pemerintah desa.
Menurutnya, pompa air yang diberikan BPBD cukup membantu petani untuk mempertahankan tanaman padi mereka.
"Untuk saat ini kami sangat terbantu dengan adanya pompa dari BPBD. Air diambil dari sungai dan dialirkan ke sawah," ujarnya.
Meski begitu, upaya tersebut masih bersifat sementara. Pemerintah desa dan petani tetap berharap hujan segera turun agar kebutuhan air untuk persawahan dapat kembali normal.
BPBD Pasangkayu juga akan terus memantau kondisi di lapangan, terutama jika kemarau berlangsung lebih lama dan debit sungai ikut menurun.
Pemerintah desa bersama petani juga berkoordinasi dengan BPBD untuk menyiapkan langkah lanjutan apabila sumber air yang saat ini digunakan semakin berkurang.
Kekeringan menjadi perhatian karena sebagian masyarakat Desa Pangiang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian.
Para petani berharap kondisi kemarau segera berakhir sehingga lahan persawahan mereka kembali mendapatkan pasokan air yang cukup dan risiko gagal panen dapat ditekan.(*)