TRIBUNNEWSDEPOK.COM, PANCORAN MAS — Perjalanan sejarah Kota Depok menyimpan kisah unik yang jarang diketahui banyak orang.
Jauh sebelum menjadi kota modern seperti sekarang, wilayah ini pernah dipimpin oleh seorang presiden dengan sistem pemerintahan otonom di masa kolonial.
Sampai pada saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya dari penjajah pada tahun 1945, Depok masih dianggap sebagai negera tersediri.
Baca juga: Upacara HUT ke-81 RI di Depok Berlangsung Khidmat, Semangat Depok Maju Dikuatkan
Tepat satu tahun setelah itu, J. M. Jonathans dilantik menjadi Presiden Depok ke-9. Namun, perjalanan kariernya tidak berlangsung lama karena di masa kepemimpinannya organisasi Gemeente Bestuur Depok resmi berakhir.
Istana Presiden J. M. Jonathans pun menjadi saksi bisu proses negosiasi tersebut. Melalui diskusi yang cukup panjang, akhirnya tercapai kesepakatan bahwa Gemeente Bestuur Depok bersedia menyerahkan tanah peninggalan Cornelis Chastelein untuk Indonesia.
Keberadaan sembilan Presiden Depok kini telah menjadi simbol tradisi pemerintahan yang mandiri dan demokrasi yang mewarnai perjalanan sejarah Kota Depok.
“Sebuah sejarah yang tak terbantahkan bahwa Depok dimasa itu punya pemimpin yang bernama presiden, sebagai pemimpin organisasi,” ujar Ketua YLCC, Revelino Isakh.
Guna mengenang dan melestarikan sejarah Kaum Depok dari masa ke masa, Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) mendirikan mini museum bernama Historische Studio di area sekolah SMP Kasih, yang pada era Hindia Belanda merupakan pusat pendidikan di Kota Depok.
Museum mini ini menyimpan koleksi memorial perjalanan Cornelis Chastelein dan 12 Marga Kaum Depok, serta peninggalan barang antik berusia lebih dari tiga abad yang masih tersimpan rapi hingga saat ini.
"Mungkin ini pertama kali di kota ini, mini museum tentang cerita 312 tahun perjalanan Kaum Depok itu, menjadi salah satu kebanggaan kami semua hal terkait itu ada di Historische Studio. Dan saya ke depannya akan komitmen bahwa sejarah yang sudah panjang ini terus lestari," pungkas Revelino Isakh.