Kisah Veteran Perang di Bangka Asal Bandung, Belajar di Rusia, Kerja di PT Timah & Jadi Anggota DPRD
Dedy Qurniawan August 17, 2026 03:03 PM

BANGKAPOS.COM - Semangat perjuangan dan rekam jejak pengabdian Ir. Yoyo Supria, veteran perang asal Bandung yang pernah belajar di Rusia, bekerja di PT Timah, hingga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Bangka, kini terus dikenang oleh sang istri, Hajah Asmana (77).

Hal ini terungkap saat Hajah Asmana hadir pada peringatan HUT RI ke-81 di Kantor Bupati Bangka, Senin (17/8/2026). 

Kehadiran tersebut menjadi bukti sejarah atas jasa besar mendiang suaminya yang telah berkontribusi bagi bangsa dan daerah.

Pada acara itu, perempuan berkerudung merah tersebut berdiri tegak menerima bantuan tali asih veteran sebesar Rp1.000.000 dari Pemkab Bangka.

Uang itu adalah bentuk penghormatan atas pengorbanan suaminya.

"Dari Tentara Pelajar dia," ujar Hajah Asmana, mengenang sosok suaminya.

Yoyo Supria bergabung dengan Tentara Pelajar sejak usia 11 tahun.

Ia berasal dari Bandung, jauh sebelum akhirnya menetap di Bangka dan menikahi Hajah Asmana.

Setelah masa Tentara Pelajar berakhir, ia pernah menempuh pendidikan ke luar negeri, ke Rusia.

Sepulangnya, ia bekerja di PT Timah dan juga sempat menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Bangka.

Atas jasanya, negara memberi pengakuan simbolis berupa tiga penghargaan pahlawan yang salah satunya ditandatangani langsung oleh Presiden Soeharto.

"Ada 3 penghargaan itu, salah satunya ada tanda tangan Soeharto," kata Hajah Asmana.

"Itu yang bisa membuktikan bahwa saya jadi janda pahlawan, karena ada dokumennya."

Namun, di balik tiga lembar penghargaan itu, ada satu hal yang diklaim tidak pernah diterima, yaitu gaji veteran.

Ia mengaku tidak pernah menerima gaji veteran dari pemerintah.

"Harusnya untuk ini masih dapat dong sebetulnya. Enggak dapet. Sampai sekarang udah berjuang berapa puluh tahun. Sedangkan pahlawan dia masih dapat penghargaan-penghargaan. Tapi nggak pernah dapat gaji veteran," ujarnya.

Yoyo Supria terdaftar secara resmi sebagai veteran Republik Indonesia.

Tapi, terlepas dari pengakuan administratif, menurut Hajah Asmana, hal itu tidak menjamin pendapatan finansial yang semestinya diterima oleh mendiang suaminya.

Yang tersisa hanyalah santunan yang datang setahun sekali, kadang dua kali.

"Untuk santunan pahlawan masih dapat, hanya di acara seperti 17-an dan Hari Pahlawan," katanya.

Lebih lanjut, Hajah Asmana juga menuturkan bahwa dulu ia sempat pula menerima bantuan dari Pangkalpinang, namun bantuan tersebut kini sudah tidak diterimanya lagi.

Terlepas dari realitas pahit mengenai bantuan finansial veteran yang belum pernah ia terima, Hajah Asmana tetap berbangga kepada mendiang suaminya ketika membela negara di usia muda.

"Beliau cerita kepada anak-anak, rambutnya panjang, kadang-kadang tidak makan, sampai lari-lari ke hutan," kenang Hajah Asmana tentang masa perjuangan suaminya.

"Saya bangga dengan beliau, dari jiwa nasional patriotis itu, yang membela Indonesia sejak usia muda. Tapi Alhamdulillah, keluarganya tidak pernah dibiarkan terlantar," ujarnya.

Di usianya yang ke-77, dengan tiga lembar penghargaan presiden tersimpan sebagai satu-satunya bukti resmi status pahlawan suaminya, Hajah Asmana juga berpesan kepada generasi muda Indonesia.

"Anak-anak muda sekarang harus lebih bersemangat. Lebih cinta tanah air... Jangan leyeh-leyeh. Jangan gontok-gontokan," pesan Hajah Asmana. (bangkapos.com/ magang/ Samuel)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.