TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN — Militer Iran mengumumkan sayembara berhadiah 30.000 dollar AS atau sekitar Rp534 juta bagi siapa saja yang berhasil membunuh atau menangkap tentara Amerika Serikat (AS).
Pengumuman mematikan ini disampaikan langsung oleh Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, di tengah memuncaknya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah.
Bahkan, pemerintah Iran menjanjikan imbalan bernilai dua kali lipat jika aksi penangkapan atau pembunuhan personel militer AS tersebut berhasil dilakukan oleh seorang perempuan.
"Siapa pun yang membunuh atau menangkap dan menyerahkan personel militer Amerika yang menginvasi akan menerima hadiah setara 30.000 dollar AS. Jika dilakukan perempuan, imbalannya dua kali lipat," tegas Amir Hatami, dikutip dari The Telegraph, Minggu (16/8/2026).
Pihak Teheran juga menambahkan bahwa senjata yang digunakan dalam operasi pembunuhan prajurit AS tersebut akan dibeli oleh militer Iran dengan harga dua kali lipat dari harga pasar untuk dipajang permanen di museum khusus.
Langkah Iran tawarkan hadiah bunuh tentara AS ini menyasar seluruh personel militer Washington yang ditempatkan di pangkalan-pangkalan strategis Timur Tengah, seperti Yordania dan Irak, yang sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 17 tentara AS sejak pecahnya perang akhir Februari lalu.
Baca juga: Subsidi APBN Stop, Bupati Sadewo Pangkas Anggaran Dinas Luar ASN Rp 14 Miliar demi Trans Banyumas
Penolakan Keras atas Klaim Donald Trump di Selat Hormuz
Eskalasi retorika ini bertepatan dengan memanasnya perebutan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Pihak Teheran menolak keras klaim Presiden AS Donald Trump yang berencana mendeklarasikan jalur maritim strategis tersebut sebagai wilayah kekuasaan AS.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa jalur transportasi laut yang kini lumpuh total akibat blokade perang akan tetap berada di bawah kendali penuh Teheran.
"AS tidak lagi memiliki izin untuk memasuki Teluk Persia, Teluk Oman, maupun Selat Hormuz," ujar Hatami.
Gagalnya Tenggat Gencatan Senjata dan Ancam Sanksi Baru
Pernyataan keras militer Iran meluncur tepat pada tenggat waktu 60 hari masa perundingan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan Donald Trump, Senin (17/8/2026). Kegagalan negosiasi damai ini membuat kedua negara kini terjebak dalam perang urat saraf politik dan ekonomi yang makin tidak menentu.
Merespons penolakan dan langkah ekstrem Teheran, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa Washington tengah menyiapkan paket sanksi ekonomi baru yang belum pernah diterapkan sebelumnya untuk menekan Iran kembali ke meja perundingan. (inas/kps)