Kelima Kalinya Bendera Merah Putih Kembali Dibentangkan di Persimpangan GTM, Panjangnya 17 Meter
Junisah August 17, 2026 05:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Suasana berbeda terlihat di persimpangan empat GTM Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Saat bunyi dan pembacaan detik-detik Proklamasi peringati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Tepat pukul 11.17 WITA,  Bendera Merah Putih berukuran panjang 17 meter dan lebar 8 meter dibentangkan di kawasan persimpangan empat alias pusat Kota Tarakan yang mempertemukan Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kusuma Bangsa, Jalan Mulawarman dan Jalan Gajah Mada.

Pembentangan bendera tersebut menjadi bagian dari aksi yang digagas oleh para penggemar Iwan Fals yang tergabung dalam organisasi Oi Badan Pengurus Kota Tarakan. Momen itu juga mendapat respons dari masyarakat yang berada di sekitar lokasi.

Sejumlah pengendara bahkan turun dari kendaraan untuk ikut berdiri, memberikan penghormatan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika detik-detik Proklamasi berlangsung.

Ketua BPK Oi Kota Tarakan, Che Ageng, mengatakan pembentangan Bendera Merah Putih tahun ini bukan kali pertama dilakukan.

"Ya, ini yang sudah kelima kalinya. Tapi untuk pembentangan bendera itu sebenarnya teman-teman Oi sudah mulai sejak tahun 2015. Nah, 2015 itu panjang bendera kita baru sekitar 5 meter, lebarnya 3 meter," ucap Che Ageng mengulas awal mula kegiatan Oi di T Kota arakan.

Baca juga: 81 Tahun Indonesia Merdeka, Warga Perbatasan Malinau Masih Keluhkan Infrastruktur

Pembentangan Bendera Merah Putih belum dilaksanakan di persimpangan GTM. Padca Covid-19 barulah muncul inisiatif Oi ikut serta membentangkan Merah Putih bersamaan  pelaksanaan peringatan Detik-Detik Proklamasi di sejumlah persimpangan lampu merah yang dilaksanakan Pemkot Tarakan dalam hal ini PMK dan Dishub serta Satlantas Polres Tarkan dan unsur lainnya.

"Nah, setelah di 2019, pasca COVID, kemudian ada pemberlakuan ketika memperingati detik-detik proklamasi di simpang-simpang lampu merah itu kemudian ditutup. Makanya teman-teman Oi kembali berinisiatif bahwa agar supaya menjadi daya tarik di pusat kota, dalam hal ini di Simpang GTM ini ketika dilakukan penutupan jalan, maka kami membentangkan bendera," ujar Che Ageng.

Di awal pembentangan, ukuran bendera yang sebelumnya hanya 5 meter panjang dan lebar 3 meter. Kemudian bendera terus diperbesar. Ukuran tersebut akhirnya disesuaikan dengan momentum peringatan kemerdekaan yakni di momen 17 Agustus.

"Dan bendera yang tadinya panjang 5 meter, lebar 3 meter itu kami tambah besarkan dan kami patenkan menjadi 17x8  sesuai dengan tanggal dan bulan pada saat pelaksanaannya. Itu panjang 17 meter, lebarnya 8 meter di tahun ini," tutur Che Ageng.

Che Ageng menjelaskan Bendera Merah Putih yang dibentangkan tahun ini bukanlah bendera baru. Bendera tersebut telah digunakan sejak 2015. Namun, ukurannya secara bertahap diperbesar hingga mencapai 17 meter x 8 meter seperti saat ini.

"Kalau benderanya sudah lama. Sejak 2015 sudah ada benderanya. Cuma di 2015 itu panjangnya baru sekitar 5 meter, lebarnya baru 3 meter," katanya.

Proses penambahan ukuran bendera dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Pengerjaannya pun melibatkan penjahit lokal.  Jika dihitung dari awal hingga mencapai ukuran 17 meter x 8 meter, bendera tersebut telah mengalami enam kali penambahan.

"Ada 6 kali. Ada 6 kali penambahan, baik penambahan panjang maupun penambahan lebar untuk dia sampai di titik hari ini, 17x8 ukurannya," jelas Che Ageng.

Bendera tersebut juga mendapat perawatan khusus agar tetap terjaga kondisinya meski telah digunakan selama bertahun-tahun.

"Ya, sering-sering dikasih hawa-hawa atau dipanas-panasi, dijemur di matahari pagi. Kemudian di dalam plastiknya juga kita kasih semacam kapur barus untuk supaya tidak dihinggapi rayap," ungkapnya.

Meski sejak awal diperuntukkan untuk momentum peringatan kemerdekaan, Bendera Merah Putih berukuran jumbo itu tidak hanya dikeluarkan setiap 17 Agustus.

"Ya, sebenarnya peruntukannya memang untuk di ini. Tapi seiring berjalan, kegiatan teman-teman yang sifatnya nasionalis, kita mengeluarkan bendera ini," kata Che Ageng.

Baca juga: HUT ke-81 RI, Bendera Merah Putih 17 Meter Dibentangkan di Tarakan, Pengendara Turun Beri Hormat

Pada pelaksanaan tahun ini, sekitar 30 orang berada di posisi sebagai pemegang bendera saat pembentangan. Namun, keterlibatan dalam kegiatan tersebut tidak hanya berasal dari internal Oi.

"Kalau untuk yang pembentangan itu kan sekitar 30 orang untuk yang posisi pemegang bendera. Nah, untuk yang kita libatkan sebenarnya kita tidak melibatkan langsung, tetapi teman-teman di luar kita itu merespons baik dengan kegiatan ini dan mereka datang," ujarnya.

Che Ageng menyebut sejumlah kelompok turut hadir, di antaranya komunitas ojek online (Ojol), Tameng Adat Borneo, RAPI, serta masyarakat umum serta dari polwan turut ambil bagian membentangkan.

Antusiasme masyarakat, menurutnya, bahkan sudah terlihat jauh sebelum detik-detik Proklamasi berlangsung.

"Dan saya lihat hari ini atau pelaksanaan hari ini antusias masyarakat sangat luar biasa. Kegiatan itu jam 11.17 WITA, tapi jam 09.00 WITA  itu sudah datang," ungkapnya.

Bahkan, pihaknya menerima sejumlah pesan dari masyarakat yang memastikan apakah kegiatan pembentangan Bendera Merah Putih tetap dilaksanakan.

"Bahkan ada WA yang masuk ke kami menanyakan ini kegiatan jadi apa tidak, masyarakat sudah datang, apa segala macam," ujarnya.

Menurut Che Ageng, hal tersebut menunjukkan bahwa semangat masyarakat Tarakan untuk memperingati kemerdekaan masih kuat.

"Artinya antusias masyarakat untuk hari ini menyaksikan pembentangan bendera kemudian sama-sama menghormat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya itu untuk di Tarakan itu masih ada," katanya.

Che Ageng juga menyampaikan pandangannya mengenai pemaknaan Merah Putih di tengah dinamika yang terjadi di masyarakat.Menurutnya, perbedaan pandangan terhadap pemerintah maupun kebijakan tertentu tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan simbol negara.

"Ya, kalau dari teman-teman Oi melihatnya mungkin itu hak daripada masing-masing orang. Namun kami berpikir ketika ada hal-hal yang katakanlah kita tidak setuju atau tidak suka dengan kemudian kebijakan pemerintah, saya pikir tidak ada sangkut pautnya dengan Bendera Merah Putih," tegasnya.

Ia menilai Merah Putih memiliki sejarah yang jauh lebih besar karena berkaitan dengan perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

"Bendera merah putih ini ada itu karena ada para pejuang-pejuang, pahlawan kita terdahulu. Nah, kemudian hari ini kita masih mengibarkan, masih membentangkan bendera merah putih plus menyanyikan lagu Indonesia Raya adalah bentuk wujud kita untuk menghargai jasa pahlawan kita," tuturnya.

Karena itu, menurutnya, kritik terhadap pemerintah dapat disampaikan tanpa harus mempertentangkan dengan simbol negara.

Che Ageng 17082026
SAMPAIKAN PESAN - Ketua BPK Oi Kota Tarakan, Che Ageng saat diwawancarai usai kegiatan pembentangan Merah Putih sepanjang 17 meter, Senin (17/8/2026).

"Jadi kalau kami, ketika kami tidak suka dengan kebijakan pemerintah apa segala macam, ya kita kritik pemerintahnya. Merah Putih harus tetap berkibar dan harus tetap kita bawa siapa pun musuhnya. Walaupun bangsa kita sendiri, tetap kita pakai Merah Putih," kata Che Ageng.

Untuk peringatan HUT RI tahun ini, Che Ageng mengatakan terdapat nuansa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia juga menyampaikan duka atas musibah yang dialami saudara-saudara masyarakat Indonesia di Nusa Tenggara Timur, termasuk Maumere.

"Ya, kalau teman-teman apalagi pasca kejadian kemarin, untuk tahun ini kita sedikit berduka saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur juga di Maumere juga ada musibah, segala macam," ujarnya.

Ia berharap momentum peringatan kemerdekaan dapat menjadi penyemangat bagi masyarakat yang sedang menghadapi musibah.

"Ya harapan kita juga dengan momen ini mereka juga semakin kuat. Dengan adanya musibah ini mereka kuat, mereka jangan lemah," katanya.

Che Ageng juga berharap masyarakat Indonesia dapat kembali bangkit dan saling membantu ketika ada saudara sebangsa yang sedang mengalami kesulitan.

"Dan tentunya juga kita berharap di momen ini juga harapan kita dengan adanya kejadian begini warga masyarakat Indonesia ini kembali bangkit. Kembali bangkit kemudian bahu-membahu bahwa ada saudara kita yang terluka hari ini," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.