Veteran Samaran Ngolo Kenang Pengabdian untuk Negeri, Titip Harapan di HUT ke-81 RI
Chintya Rantung August 17, 2026 05:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Di tengah semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kepulauan Sangihe, sosok veteran Samaran Ngolo menjadi gambaran nyata perjalanan panjang perjuangan bangsa.

Usai mengikuti upacara bendera di halaman Rumah Jabatan Bupati Kepulauan Sangihe, Senin (17/8/2026), pria lanjut usia itu terlihat berjalan perlahan meninggalkan lokasi.

Dengan bantuan tongkat yang menopang langkahnya, ia pulang seorang diri tanpa banyak menarik perhatian.

Namun di balik langkah yang mulai melemah itu, tersimpan kisah pengabdian seorang prajurit yang pernah mengemban tugas negara pada masa-masa penting sejarah Indonesia.

Samaran mengaku berasal dari Sulawesi Selatan dan mulai bertugas di Kepulauan Sangihe pada tahun 1963.

Sebelum menetap di daerah perbatasan tersebut, ia pernah menjadi anggota TNI yang terlibat dalam operasi pembebasan Irian Barat serta penugasan di Timor-Timor pada era 1960-an hingga 1970-an.

“Saya dari Sulawesi Selatan,” ujarnya saat ditemui seusai upacara.

Kenangan selama menjalankan tugas negara masih melekat kuat dalam ingatannya. Ia mengingat pesan yang disampaikan Presiden Soekarno kepada para prajurit yang kala itu berjuang demi mempertahankan kedaulatan bangsa.

“Jangan ingat ibu bapakmu sebelum Irian Barat kembali ke RI,” kenang Samaran mengutip pesan yang masih diingatnya hingga kini.

Menurutnya, menjalankan tugas negara pada masa itu merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan tanpa banyak pertimbangan pribadi.

“Harus,” katanya singkat saat ditanya mengenai kesiapannya mengikuti operasi pembebasan Irian Barat.

Dengan pangkat terakhir Sersan Satu (Sertu), Samaran kemudian mengakhiri masa dinas militernya dan memilih menetap di Sangihe. Di daerah kepulauan itu ia membangun kehidupan bersama keluarga hingga menghabiskan masa tuanya.

Meski telah lama meninggalkan dunia kemiliteran dan menerima santunan veteran sejak 1993, perhatian Samaran tidak tertuju pada dirinya sendiri. Di momen peringatan kemerdekaan, ia justru menyampaikan harapan sederhana untuk bangsa yang pernah dibelanya.

“Yang penting Indonesia semoga baik-baik saja,” ucapnya.

Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak melupakan perjuangan para pendahulu yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kemerdekaan dan keutuhan negara.

“Baik-baik dengan serupa kami berjuang. Ini adik-adik kami di sini,” tuturnya.

Bagi Samaran, kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan yang diperingati setiap 17 Agustus. Kemerdekaan adalah bagian dari perjalanan hidup yang pernah ia perjuangkan secara langsung di medan tugas.

Kini, lebih dari enam dekade setelah masa pengabdiannya, ia menjalani hari-hari dengan sederhana di Sangihe. Langkahnya mungkin tak lagi sekuat dahulu, tetapi semangat cintanya kepada Indonesia tetap terjaga.

Di usia senja, Samaran Ngolo hanya menitipkan satu pesan yang sederhana namun bermakna: agar Indonesia terus maju, tetap bersatu, dan menjadi negeri yang lebih baik bagi generasi penerus.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.