Laporan Kontributor Sumedang, Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG – Suasana berbeda mewarnai perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di tempat wisata bernuansa alam Kampung Karuhun, Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (17/8/2026).
Lebih dari 100 chef Makan Bergizi Gratis (MBG) dari berbagai daerah di Jawa Barat berkumpul dalam sebuah cooking festival. Mereka ditantang mengolah bahan pangan lokal Sumedang, yakni tahu dan ubi Cilembu, menjadi beragam sajian.
Sejak pagi seusai upacara dan pengibaran bendera di atas Sungai Cihonje, para chef tampak mulai sibuk mengolah bahan yang telah disiapkan panitia.
Tahu dan ubi Cilembu yang selama ini dikenal sebagai pangan khas Sumedang diolah menjadi berbagai kreasi makanan.
Kegiatan tersebut bukan sekadar lomba memasak. Ada upaya untuk memperkenalkan potensi bahan pangan lokal sekaligus membuka ruang bagi para chef MBG untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Pemilik Kampung Karuhun, Nana Mulyana, mengatakan kegiatan tersebut sengaja digelar untuk mempertemukan para chef MBG dari seluruh Jawa Barat dalam sebuah kompetisi yang sehat.
"Hari ini kami mengadakan cooking festival, menghadirkan chef MBG se-Jawa Barat, lebih dari 100 orang," ujar Nana.
Baca juga: Sumedang Peringati HUT ke-81 RI, Bupati Dony: Kemerdekaan Harus Diisi Karya dan Pengabdian
Baca juga: Bendera Merah Putih 281 Meter Membentang di Sungai Cihonje Sumedang
Menurutnya, terlepas dari berbagai pro dan kontra mengenai program MBG, keberadaan para juru masak di dalam program tersebut merupakan potensi yang besar. Mereka dinilai memiliki kemampuan profesional yang dapat terus dikembangkan.
"Intinya adalah membuat kompetisi yang sehat. Terlepas dari pro dan kontra MBG, ini potensi luar biasa karena di dalamnya terdapat personel yang sangat profesional di bidangnya," katanya.
Nana berharap kompetisi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Dari para peserta, ia membayangkan akan muncul chef-chef yang semakin terampil dan memiliki kualifikasi untuk mengembangkan karier di bidang kuliner.
"Nanti akan lahir chef yang terkualifikasi," ujarnya.
Yang membuat festival ini semakin khas adalah bahan utama yang digunakan. Panitia sengaja memilih tahu dan ubi Cilembu, dua bahan pangan yang lekat dengan Sumedang, untuk kemudian dikreasikan menjadi menu-menu baru.
Tujuannya, kata Nana, bukan hanya menghasilkan makanan yang lezat, tetapi juga mengangkat pangan tradisional Sumedang agar semakin dikenal dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"Tujuannya juga mengangkat makanan tradisional dari Sumedang yang berbahan tahu dan ubi Cilembu. Nanti akan banyak karya yang akan dikenalkan di hotel dan kafe di Jawa Barat," katanya.
Untuk menjaga kualitas penilaian, panitia melibatkan Indonesian Chef Association (ICA) Jawa Barat serta lima chef yang telah memiliki nama di dunia kuliner.
Para juri tersebut bertugas menilai hasil kreasi para peserta, mulai dari pengolahan bahan hingga sajian yang dihasilkan.
Pemilihan tanggal 17 Agustus juga bukan tanpa alasan. Nana sengaja menempatkan festival kuliner tersebut sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan agar suasananya berbeda dari kegiatan peringatan HUT RI pada umumnya.
"Kami memilih di momen 17 Agustus ini untuk menghadirkan nuansa berbeda. Sengaja saya acarakan di hari kemerdekaan, untuk memberikan nilai tambah dibanding dengan perayaan (dengan perlombaan lainnya) lainnya," ujarnya.
Menariknya, hasil masakan para peserta tidak hanya berakhir di meja penjurian. Puluhan kreasi makanan yang dihasilkan kemudian disiapkan untuk dinikmati masyarakat dan para pengunjung Kampung Karuhun.
"Dari hasil lomba ini, puluhan menu yang sangat enak-enak, kami siapkan ini untuk masyarakat dan pengunjung, silakan nikmati," kata Nana.
Panitia hanya menyediakan bahan utama yang akan diolah para peserta. Selebihnya, kreativitas dan keterampilan para chef menjadi penentu bagaimana tahu dan ubi Cilembu disulap menjadi hidangan yang berbeda.
"Kita hanya menyiapkan bahan, mereka yang akan mengolah. Hasilnya luar biasa, terdapat puluhan menu," ujarnya.