SURABAYA, SURYA.CO.ID - Bank Pembangunan Daerah (BPD) dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di masing-masing wilayah operasionalnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam buku karya Komisaris Independen PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur atau Bank Jatim, Prof. Muhammad Mas’ud Said MM., berjudul Bank Pembangunan Daerah Resilient, Competitive and Contributive.
Menurut Prof. Mas’ud, BPD tidak hanya dituntut menjaga kesehatan bisnis, tetapi juga perlu mampu menjawab kebutuhan pembangunan daerah serta memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
“BPD harus mampu menjadi institusi yang resilien, kompetitif, sekaligus kontributif. Resilien berarti memiliki kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi menghadapi berbagai perubahan,” kata Prof Mas'ud.
Hal itu disampaikan Prof. Mas’ud dalam kegiatan bedah buku yang digelar di ASEEC Tower Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada pekan lalu.
Forum tersebut menghadirkan Dahlan Iskan sebagai moderator. Sejumlah panelis turut hadir, di antaranya Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Unair Surabaya Prof. Dr. Suparto Wijoyo serta Direktur Teknologi Informasi, Digital, dan Operasi Bank Jatim Dodit W Probojakti.
Prof. Mas’ud menjelaskan, kemampuan kompetitif BPD berkaitan dengan kapasitas bank untuk menghadapi persaingan melalui inovasi dan tata kelola yang baik.
Sementara aspek kontributif berkaitan dengan sejauh mana keberadaan BPD mampu memberikan dampak terhadap pembangunan di daerah.
“Sementara kontributif berarti keberadaan BPD harus memberikan manfaat dan dampak yang nyata bagi pembangunan daerah,” jelas guru besar Ilmu Pemerintahan / Administrasi Publik dari kampus Universitas Islam Malang (Unisma) tersebut.
Prof. Mas’ud mengatakan penguatan peran BPD membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, regulator, akademisi, pelaku industri hingga masyarakat dinilai penting untuk memastikan BPD mampu menjalankan perannya secara optimal.
Di sisi lain, perubahan lingkungan bisnis dan pesatnya perkembangan teknologi membuat BPD perlu melakukan transformasi secara berkelanjutan.
Transformasi tersebut diperlukan agar BPD tetap mampu mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pemerintah daerah.
“Kedepan, BPD perlu membangun kapasitas yang kuat, melakukan transformasi secara berkelanjutan, dan memperkuat kolaborasi. BPD harus mampu membaca perubahan dan menjadikan tantangan sebagai peluang untuk tumbuh serta memberikan kontribusi yang lebih besar bagi daerah,” tambah Prof Mas'ud.
Direktur Teknologi Informasi, Digital, dan Operasi Bank Jatim Dodit W Probojakti menilai transformasi digital menjadi salah satu fondasi penting untuk meningkatkan daya saing BPD.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi tidak bisa dilepaskan dari penguatan tata kelola, keamanan, inovasi layanan, serta kemampuan bank menyediakan solusi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah.
“BPD ke depan tidak cukup hanya resilient dalam menghadapi berbagai tantangan, tetapi juga harus kompetitif dalam memenangkan persaingan dan kontributif dalam memberikan dampak nyata bagi perekonomian daerah. Transformasi digital menjadi salah satu fondasi penting untuk mewujudkan hal tersebut,” tambah Dodit.
Perubahan teknologi dan meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap layanan perbankan turut mendorong BPD untuk terus berinovasi.
Digitalisasi pun tidak sebatas menghadirkan layanan perbankan melalui platform digital. Lebih luas, digitalisasi menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi proses bisnis, kualitas pelayanan, hingga pengambilan keputusan berdasarkan data.
Melalui buku Bank Pembangunan Daerah Resilient, Competitive and Contributive, Prof. Mas’ud memberikan perspektif mengenai tantangan dan kebutuhan penguatan BPD di tengah dinamika lingkungan bisnis.
Buku tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga peran BPD sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah.
“Kegiatan bedah buku ini diharapkan dapat memperkaya wawasan dan membuka ruang dialog antara akademisi dan praktisi mengenai arah pengembangan BPD kedepan,” imbuh Prof Mas'ud.
Bedah buku tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara akademisi dan praktisi dalam mendorong BPD yang adaptif, inovatif, memiliki daya saing, serta mampu memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pembangunan daerah.
Sebagai salah satu BPD di Indonesia, Bank Jatim juga terus mendorong transformasi, inovasi, dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi Bank Jatim sebagai mitra strategis pemerintah daerah sekaligus menghadirkan layanan perbankan yang semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha.