Gempa Flores: 55 Orang Meninggal, Ribuan Mengungsi, Ribuan Rumah dan Ratusan Fasilitas Umum Rusak
Hilarius Ninu August 17, 2026 05:45 PM

 

 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE — Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026), menewaskan sedikitnya 55 orang. Ribuan warga mengungsi dan ribuan rumah mengalami kerusakan di sejumlah kabupaten.

Data tersebut berdasarkan pembaruan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT hingga Senin (17/8/2026) pukul 12.00 Wita.

Gempa dilaporkan terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 05.58 Wita, berlokasi 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Sebelumnya, BMKG mencatat gempa utama terjadi pukul 04.58 WIB atau 05.58 Wita dengan sumber di Flores Back-Arc Thrust. Gempa dangkal tersebut memicu peringatan dini tsunami yang kemudian diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB. (BMKG).

 

Baca juga: Sefrianus Jemandu warga Labuan Bajo: Saya di Kamar Mandi Istri Sempat Teriak Ada Gempa

 

 

 

 

Dampak gempa tersebar di sejumlah wilayah di Pulau Flores. Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 26 orang.

Sebanyak 119 orang di Manggarai mengalami luka-luka, terdiri atas 31 orang luka berat dan 88 orang luka ringan. Sebanyak 6.487 orang tercatat mengungsi.

Kerusakan di Manggarai juga cukup luas. Sebanyak 1.983 rumah rusak, terdiri atas 1.597 rumah rusak berat, 263 rusak sedang, dan 123 rusak ringan.

Selain rumah warga, gempa merusak 12 fasilitas pemerintahan, 104 satuan pendidikan, 39 fasilitas kesehatan, dan 12 fasilitas umum.

Di Manggarai Timur, sebanyak 21 orang meninggal dunia, termasuk dua anak-anak. Sebanyak 84 orang mengalami luka-luka, dengan rincian 25 orang luka berat dan 59 orang luka ringan.

Sebanyak 2.681 kepala keluarga mengungsi yang tersebar di 12 kecamatan. Kerusakan dilaporkan terjadi di sejumlah permukiman, fasilitas pemerintahan, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, dan ruas jalan.

Di Manggarai Barat, satu orang meninggal dunia. Korban adalah Siti Hawa (84), warga Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng. Ia meninggal setelah tertimpa bata merah dan lemari pakaian.

Sebanyak 11 orang mengalami luka-luka. Tiga orang telah pulang, sedangkan delapan lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebanyak 1.763 rumah di Manggarai Barat mengalami kerusakan. Dari jumlah itu, 800 rumah rusak berat, 332 rusak sedang, dan 631 rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada 31 kantor pemerintahan, 13 fasilitas pelayanan kesehatan, 21 satuan pendidikan, dan 18 rumah ibadah. Dua hotel, Jayakarta Komodo dan Meruora, turut dilaporkan rusak.

Empat Orang Meninggal di Sikka

Di Kabupaten Sikka, empat orang meninggal dunia. Tiga korban meninggal setelah tertimpa runtuhan bangunan ruang tunggu Pelabuhan Lorens Say Maumere, yakni Bernadus Muda (66), Mariana Diana Meliana (54), dan Shopia (67).

Satu korban lainnya, Yustina Sugo (80), warga Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, meninggal setelah tertimpa tembok rumah yang runtuh.

Sebanyak 20 orang di Sikka mengalami luka-luka. Sebanyak 814 orang mengungsi secara terpusat di Gelora Samador Maumere, sedangkan 2.186 orang lainnya mengungsi secara mandiri di sejumlah lokasi.

Di antara pengungsi di Gelora Samador terdapat bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas.

Kerusakan di Sikka sementara tercatat sebanyak 227 rumah, terdiri atas 158 rumah rusak berat, 18 rusak sedang, dan 51 rusak ringan.
Selain itu, sembilan fasilitas pemerintahan, 10 fasilitas kesehatan, 11 fasilitas pendidikan, 20 rumah ibadah, 10 titik ruas jalan, dan 62 fasilitas umum mengalami kerusakan.

Dua Orang Meninggal di Ende

Di Kabupaten Ende, dua orang meninggal dunia. Mereka adalah Sisilia S. Payong (70), warga Kecamatan Nangapenda, dan Susana Bunga (80), warga Desa Nggesa, Kecamatan Detukeli.
Sebanyak 14 orang mengalami luka-luka. Dua korban mengalami patah tulang, yakni Patrisia (13) dan bayi berusia lima bulan. Keduanya masih menjalani perawatan di RSUD. Satu korban lainnya mengalami cedera kepala.

Sebanyak 121 rumah warga di Ende rusak, terdiri atas 22 rumah rusak berat, 20 rusak sedang, dan 79 rusak ringan.

Gempa juga merusak 17 fasilitas kesehatan, sembilan rumah ibadah, 26 satuan pendidikan, tujuh fasilitas pelayanan publik, dan empat titik ruas jalan.

Di Kabupaten Ngada, sebanyak 18 orang mengalami luka-luka. Tujuh di antaranya mengalami luka berat, satu luka sedang, dan 10 luka ringan.

Sebanyak 1.179 rumah warga rusak yang tersebar di 12 kecamatan. Kerusakan juga terjadi pada 46 kantor pemerintahan, 36 fasilitas kesehatan, 73 satuan pendidikan, 30 rumah ibadah, enam jembatan, serta sejumlah jaringan air bersih dan fasilitas irigasi.

Di Kabupaten Nagekeo, satu orang meninggal dunia, yakni Matrona Wona (72). Laporan BPBD menyebut korban meninggal karena terkejut atau kaget akibat gempa.

Sebanyak 10 orang mengalami luka-luka dan 2.056 orang mengungsi. Sebanyak 164 rumah rusak, terdiri atas 116 rumah rusak berat, enam rusak sedang, dan 42 rusak ringan.

Sementara di Kabupaten Sumba Timur, pendataan korban jiwa masih berlangsung. Laporan sementara mencatat lima rumah warga, rumah ibadah, fasilitas kantor, dan satu satuan pendidikan mengalami kerusakan.

Adapun warga Flores Timur dan Lembata turut merasakan getaran gempa. Hingga pembaruan laporan BPBD NTT diterbitkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan di kedua daerah tersebut.

Kebutuhan Mendesak

Di tengah proses pendataan, kebutuhan warga terdampak menjadi perhatian utama pemerintah daerah dan petugas di lapangan.

Di Manggarai, pemerintah daerah mengusulkan bantuan berupa 100 tenda pengungsi, 100 tenda pleton, 31,65 ton beras, 1.000 velbed, 10.000 selimut, 10.000 tikar, obat-obatan, peralatan dapur, tandon air, generator, serta perlengkapan lainnya.

Di Sikka, kebutuhan mendesak meliputi tenda berukuran 6 x 12 meter, velbed, generator, lampu, peralatan dapur, obat-obatan, dan selimut.

Tenda telah dipasang di sejumlah rumah sakit dan puskesmas serta lokasi pengungsian. Dapur umum juga mulai beroperasi bagi pengungsi terpusat di Gelora Samador Maumere.

Di Ngada, BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada, tidak tinggal di dalam rumah yang dinilai membahayakan, serta menjauhi daerah rawan longsor. Warga di wilayah pesisir juga diminta mengungsi sementara untuk menghindari potensi tsunami.

Pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait masih melakukan pendataan serta penanganan di wilayah terdampak. Data korban dan kerusakan masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.

Laporan Pusdalops BPBD Provinsi NTT tersebut diperbarui pada Senin (17/8/2026) pukul 12.00 Wita.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.