Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai besaran jasa membersihkan atau mengupas bawang merah menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari pekerjaan tersebut.
Dalam pidato kenegaraan pada Jumat (14/8/2026), Prabowo menyebut jasa Susanah membersihkan atau mengupas bawang dapat mencapai Rp700 ribu per kilogram.
Namun, angka tersebut berbeda jauh dengan kondisi yang dialami sejumlah pekerja pengupas bawang di daerah, termasuk Yaumi, warga Kelurahan Pasar Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu.
Yaumi telah sekitar 10 tahun bekerja sebagai pengupas bawang merah yang diterimanya dari pedagang. Pekerjaan tersebut menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setiap dua hingga tiga hari, bawang merah biasanya datang kepadanya untuk dikupas.
Dalam sehari, Yaumi mampu mengupas sekitar 15 kilogram bawang merah.
“Bawang ini dua sampai tiga hari sekali masuk, sehari bisa sekitar 15 kilogram mengupas bawang,” jelas Yaumi.
Di tengah rutinitas tersebut, Yaumi mengungkapkan upah yang diterimanya hanya Rp1.000 per kilogram.
Mirisnya, nominal tersebut tidak mengalami kenaikan selama hampir satu dekade.
“Sudah dari awal upah saya segitu, tidak berubah, sudah sepuluh tahun,” ungkap Yaumi.
Dengan kemampuan mengupas sekitar 15 kilogram bawang dalam sehari, Yaumi memperoleh sekitar Rp15 ribu untuk pekerjaan tersebut dalam sehari, jika seluruh hasil kupasannya dihitung berdasarkan jumlah tersebut.
Upah itu pun tidak langsung diterima setiap kali menyelesaikan sebagian pekerjaan.
Baca juga: Klarifikasi Susanah Usai Ngetop Gegara Disebut Prabowo Buruh Pengupas Bawang Gaji Rp700 Ribu per Kg
Yaumi baru mendapatkan bayaran setelah seluruh bawang yang diberikan kepadanya selesai dikupas.
“Upahnya dibayar ketika bawang sudah bersih semua dikupas,” kata Yaumi.
Di balik pekerjaan sederhana tersebut, tersimpan kisah perjuangan Yaumi dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ia kini menjalani kehidupan tanpa suami yang telah meninggal dunia sekitar 16 tahun lalu.
Yaumi tinggal bersama anak dan cucunya. Kondisi keluarga tersebut membuat pekerjaan mengupas bawang menjadi salah satu cara yang masih dilakukannya untuk mendapatkan penghasilan.
“Saya tinggal di sini bertiga bersama anak dan cucu saya, suami saya sudah meninggal sekitar 16 tahun lalu dan anak saya stres,” tutur Yaumi.
Namun, penghasilan yang diperoleh dari mengupas bawang belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan keluarga.
“Sebenarnya belum bisa mencukupi kebutuhan, cuma dapat untuk membeli sayur,” ujar Yaumi.
Untuk kebutuhan beras, Yaumi mengaku masih mendapat bantuan dari orang lain yang kerap memberinya beras.
Selain itu, ia juga menerima sedekah dari sejumlah orang untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sementara kalau beras ada orang lain yang sering memberikan, dan ada pula sedekah dari orang,” pungkasnya.
Kisah Yaumi menggambarkan kondisi berbeda di lapangan terkait pekerjaan mengupas bawang.
Di tengah pernyataan mengenai besaran jasa yang disebut dapat mencapai Rp700 ribu per kilogram, Yaumi justru mengaku hanya menerima Rp1.000 per kilogram dan nominal tersebut telah bertahan selama sekitar 10 tahun.