Gunung Anak Krakatau 17 Kali Erupsi, Status Masih Level III Siaga
soni yuntavia August 17, 2026 10:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali mengalami rentetan erupsi pada Senin (17/8/2026).

Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Tujuh Kali, Status Masih Siaga

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, tercatat sebanyak 17 kali erupsi terjadi sejak dini hari hingga pukul 18.35 WIB.

Erupsi terakhir terjadi pada pukul 18.35 WIB.

Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut.

"Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah timur laut," kata Suwarno dalam laporan pengamatan.

Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 25 detik.

Sebelumnya, erupsi juga terjadi pada pukul 18.26 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak.

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke timur laut.

Erupsi pukul 18.26 WIB itu memiliki amplitudo maksimum 30 milimeter dengan durasi 28 detik.

Pada pukul 18.01 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 150 meter di atas puncak atau sekitar 307 meter di atas permukaan laut.

Erupsi berlangsung selama 26 detik dengan amplitudo maksimum 42 milimeter.

Aktivitas erupsi juga tercatat pada sore hari. Pukul 15.15 WIB, kolom abu teramati mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 557 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke timur.

Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 48 milimeter dan berlangsung selama 132 detik.

Satu menit sebelumnya, tepatnya pukul 15.14 WIB, GAK juga mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 150 meter di atas puncak.

Kemudian pada pukul 14.28 WIB, erupsi kembali terjadi dengan tinggi kolom abu sekitar 100 meter di atas puncak.

Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke timur.

Aktivitas erupsi juga terjadi berturut-turut pada siang hari.

Pada pukul 12.44 WIB, kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak dengan arah sebaran ke barat laut.

Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 55 milimeter dan durasi cukup panjang, yakni 197 detik.

Sementara erupsi pada pukul 12.43 WIB dan 12.22 WIB masing-masing menghasilkan kolom abu sekitar 150 meter di atas puncak dengan arah sebaran ke barat laut.

Pada pagi hari, erupsi tercatat pukul 09.22 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak.

"Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut," ucapnya.

Kemudian pada pukul 06.26 WIB, erupsi menghasilkan kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak yang mengarah ke utara dan barat laut.

Erupsi tersebut berlangsung selama 107 detik dengan amplitudo maksimum 57 milimeter.

"Sementara itu, lima erupsi yang terjadi pada pukul 01.30 WIB, 02.13 WIB, 03.04 WIB, 03.29 WIB, 04.05 WIB, dan 04.20 WIB tidak teramati secara visual dari pos pengamatan," ujarnya.

Meski demikian, seluruh aktivitas tersebut terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum berkisar 55 hingga 64 milimeter dan durasi antara 27 hingga 55 detik.

Status Gunung Anak Krakatau Masih Siaga
Di tengah rentetan erupsi tersebut, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Suwarno mengimbau masyarakat, wisatawan, dan nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau agar tetap meningkatkan kewaspadaan.

"Masyarakat, wisatawan, dan nelayan diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau maupun melakukan aktivitas di dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi," ujarnya.

Masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi dari pihak berwenang.

Langkah tersebut penting dilakukan untuk mengantisipasi potensi bahaya yang dapat muncul akibat peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

 

 
 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.