HUT RI Ke 81 Karapan Sapi Kembali Digelar di Wringin, Hidupkan Tradisi Lama
Wiwit Purwanto August 17, 2026 10:32 PM

 

SURYA.CO.ID BONDOWOSO - Pemerintah Kecamatan Wringin kembali menggelar pertunjukan budaya Karapan Sapi dalam momentum HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8/2026), setelah tradisi tersebut sempat lama vakum.

Ribuan warga memadati Lapangan Kecamatan Wringin untuk menyaksikan tradisi turun-temurun yang tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan ritual meminta hujan dan menggemburkan tanah sawah menjelang musim tanam.

Karapan Sapi Hidupkan Kembali Tradisi Wringin

Camat Wringin, Misyono, mengatakan pihaknya ingin kembali menghidupkan tradisi Karapan Sapi agar tetap lestari sebagai bagian dari khazanah budaya bangsa.

"Khususnya di Kecamatan Wringin ini, budaya Karapan Sapi adalah tradisi yang sangat menarik, utamanya dalam menghadapi musim tanam," jelasnya.

Baca juga: Detik-detik 2 Mahasiswi Panjat Gedung Lantai 10 UTM, Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa

Selain misi pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku UMKM lokal Wringin turut membuka lapak di sekitar arena pertunjukan.

"Bagaimana pergerakan perekonomian, sampeyan bisa lihat hari ini banyak pelaku UMKM dan PKL berjualan," terangnya.

Pertunjukan tersebut diikuti total 13 komunitas Karapan Sapi dari Desa Banyuwulu dan Desa Gubrih. Masing-masing peserta membawa dua ekor sapi pedet jantan.

Sapi-sapi tersebut dirias menggunakan berbagai atribut berwarna-warni sebelum dipasangkan pada pangonong, yakni sebatang kayu melintang yang diletakkan di atas leher sepasang sapi.

Pangonong berfungsi menyatukan sekaligus menyelaraskan gerakan kedua sapi agar dapat berlari bersamaan. Alat tersebut kemudian dihubungkan dengan kaleles, yaitu kereta kayu kecil tempat joki berdiri untuk mengendalikan laju sapi.

Saat pertunjukan dimulai, musik saronen mengiringi para joki yang berusaha menjaga keselarasan gerakan sapi di tengah kecepatan. Sepasang sapi kemudian beradu cepat di lintasan sepanjang sekitar 80 meter.

Baca juga: Ullambana YBA 2026 Digelar, Ada Doa untuk Korban Gempa NTT dan Masa Depan Indonesia

Diikuti 13 Komunitas, Jadi Penggerak Ekonomi Warga

Kepala Desa Gubrih, Abdul Bari, mengatakan desanya mengirimkan lima pasang sapi dari komunitas lokal untuk mengikuti pertunjukan tersebut.

Menurutnya, partisipasi warga menjadi bagian dari semangat membangkitkan kembali gairah budaya daerah yang sempat lama tidak digelar.

"Ini memang budaya turun-temurun, jadi kegiatan ini bertujuan untuk menggairahkan desa lain," terangnya.

Abdul Bari menambahkan, Karapan Sapi di wilayahnya memiliki kekhasan tersendiri, terutama karena diiringi musik saronen dan tarian khusus saat sapi diarak menuju arena pertandingan.

Kembalinya pertunjukan Karapan Sapi di Wringin pun menjadi momentum untuk mempertemukan pelestarian tradisi dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Antusiasme ribuan warga menunjukkan budaya lokal tersebut masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.