TRIBUNNEWS.COM - Iran dinilai telah memanfaatkan sejumlah keunggulan untuk meningkatkan posisi tawarnya terhadap Amerika Serikat (AS).
Profesor Vali Nasr dari Universitas Johns Hopkins mengatakan, Iran meyakini telah mengubah keseimbangan kekuatan dengan AS secara fundamental setelah perang berkepanjangan.
Dalam wawancara program Switzerland with Tom Switzer, Nasr menyampaikan bahwa Teheran melihat peluang untuk mengubah posisi tersebut menjadi keuntungan strategis dan ekonomi yang bertahan lama.
Nasr berbicara bersama ilmuwan politik Universitas Chicago, John Mearsheimer. Wawancara tersebut dipandu oleh Tom Switzer.
Menurut Nasr, di dalam Iran terdapat pandangan bahwa negara tersebut setidaknya telah berhasil membuat negara adidaya berada dalam posisi terdesak.
"Ada konsensus bahwa mereka telah mengalahkan negara adidaya, setidaknya membuatnya terdesak," kata Nasr, mengutip Al Mayadeen, Senin (17/8/2026).
Ia menilai kondisi tersebut membuat Iran tidak melihat alasan untuk segera melunakkan sikap selama masih memiliki keunggulan.
Nasr menolak anggapan bahwa Teheran telah bertindak berlebihan dalam menghadapi Washington.
"Sebenarnya, Iran tidak terlalu memaksakan kehendaknya. Mereka hanya memainkan kartu mereka," ujar Nasr.
Menurut dia, para pembuat kebijakan Iran memahami bahwa kesempatan untuk memperoleh keuntungan maksimal tidak akan berlangsung selamanya.
"Mereka berpikir mereka memiliki kesempatan terbatas untuk mendapatkan keuntungan strategis maksimal dengan membalikkan keadaan terhadap AS," katanya.
Karena itu, para pemimpin Iran disebut akan menganggap sebagai sebuah kesalahan apabila tidak memanfaatkan keunggulan tersebut ketika Washington masih berada dalam posisi defensif.
Perhitungan Iran disebut mencakup sejumlah kepentingan, mulai dari pencabutan sanksi, pembekuan aset Iran, kompensasi, hingga posisi strategis di Selat Hormuz.
Nasr menggambarkan strategi tersebut sebagai kesediaan menerima kesulitan ekonomi dalam jangka pendek demi memperoleh kemungkinan keuntungan yang jauh lebih besar dalam jangka panjang.
John Mearsheimer memberikan penilaian yang lebih tajam mengenai posisi Amerika Serikat.
Ia menilai Washington kini tidak memiliki cara efektif untuk memaksa Teheran meninggalkan pendiriannya terkait Selat Hormuz.
Ketika ditanya mengapa Presiden AS Donald Trump akan menerima kesepakatan yang memungkinkan Iran memiliki kendali substansial terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, Mearsheimer mengatakan Washington tidak memiliki banyak pilihan.
"Sangat sederhana, Tom. Dia tidak punya pilihan. Dia kalah perang. Ini adalah kekalahan telak bagi Amerika Serikat," kata Mearsheimer.
Ia juga menyebut Trump "tidak punya kartu truf" dalam situasi tersebut.
Menurut Mearsheimer, pilihan utama Washington berupa peningkatan eskalasi militer semakin sulit dilakukan karena sejumlah keterbatasan.
Mearsheimer menilai salah satu persoalan yang dihadapi Amerika Serikat adalah penipisan persediaan amunisi.
Selain itu, Washington juga disebut menghadapi kekhawatiran dari negara-negara sekutunya di kawasan Teluk.
Negara-negara tersebut dikhawatirkan tidak menginginkan eskalasi militer baru yang dapat memicu serangan Iran terhadap infrastruktur penting.
Mearsheimer menyebut potensi sasaran serangan antara lain infrastruktur minyak, fasilitas desalinasi, serta instalasi strategis lainnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, semakin membatasi pilihan Washington dalam menghadapi Teheran.
Dengan posisi Iran yang dinilai lebih kuat di Selat Hormuz dan keterbatasan opsi militer AS, Nasr dan Mearsheimer melihat Teheran memiliki peluang untuk mendorong keuntungan strategis dan ekonomi dari situasi tersebut.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)