SERAMBINEWS.COM - Mahasiswa UGM mengembangkan Polpay sebagai sistem pembayaran digital berbasis sidik jari.
Sistem tersebut memungkinkan pengguna bertransaksi tanpa kartu maupun telepon genggam.
Polpay menggabungkan sensor sidik jari dengan perangkat EDC dan menggunakan teknologi edge computing untuk memproses data biometrik.
Data pengguna juga dienkripsi menggunakan AES-256 sebelum dikirim ke server melalui protokol SSL/TLS.
Keamanan dan perlindungan privasi menjadi tantangan utama yang masih terus disempurnakan oleh tim pengembang.
Tim juga berupaya menekan biaya penerapan teknologi agar Polpay dapat digunakan dengan biaya yang lebih terjangkau.
Baca juga: Bank Aceh Gandeng LPPI Percepat Persiapkan Jadi Bank Devisa
Pengembangan Polpay telah memperoleh pendanaan melalui PKM bidang Karsa Cipta.
Selanjutnya, tim tersebut akan mengikuti PIMNAS di Universitas Diponegoro pada November 2026.
Inovasi bernama Polpay tersebut dikembangkan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM dengan mengutamakan aspek keamanan, kenyamanan, dan efisiensi transaksi.
Polpay mengintegrasikan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data Capture (EDC) sehingga pengguna dapat melakukan autentikasi biometrik secara langsung ketika bertransaksi.
Data biometrik pengguna kemudian diproses melalui teknologi edge computing dan dienkripsi menggunakan algoritma Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256) sebelum dikirim ke server melalui protokol SSL/TLS.
Ketua Tim Polpay, Tiara Ramadhani, mengatakan, inovasi tersebut dikembangkan sebagai alternatif sistem pembayaran biometrik dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan teknologi biometrik lain yang umumnya membutuhkan infrastruktur mahal.
Baca juga: DPMGP4 Nagan Raya Terapkan Nontunai Pembayaran Gaji Aparatur Gampong Mulai 2026
Polpay juga dirancang menawarkan proses transaksi yang cepat dan aman sekaligus mendukung arah pengembangan sistem pembayaran digital di Indonesia.
Menurut Tiara, pengembangan Polpay sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 yang dicanangkan Bank Indonesia guna mewujudkan ekosistem pembayaran digital yang modern, inklusif, dan terpercaya.
“Melalui inovasi ini, diharapkan masyarakat dapat menikmati pengalaman pembayaran yang lebih praktis dan aman, serta tidak lagi bergantung pada kartu maupun perangkat seluler,” ujar Tiara, Sabtu (15/8/2026).
Keamanan Menjadi Tantangan Utama
Tim Polpay terdiri atas Tiara Ramadhani, Al Farabi Obiansyah, Marcelino Budi Prakasya, M. Fakhri Ghonim Setyanda, dan M. Rakhma Aifil Indira.
Tiara mengatakan, timnya menghadapi berbagai tantangan selama proses perancangan dan penyempurnaan Polpay demi menghasilkan sistem pembayaran biometrik yang aman, praktis, dan terjangkau.
Baca juga: Parkir Nontunai Mulai Diterapkan di Tiga Lokasi, Dapat Dukungan dan Diapresiasi
Anggota Tim Polpay, Al Farabi Obiansyah, menyebut aspek keamanan menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan sistem tersebut.
“Tantangan utama dalam pembuatan Polpay adalah memastikan seluruh sistem yang ada memiliki tingkat keamanan yang tinggi,” kata Farabi, dikutip dari laman UGM.
Menurut Farabi, gagasan pengembangan Polpay muncul dari kondisi pembayaran menggunakan sidik jari yang belum diterapkan di Indonesia.
Proses pengembangan yang telah dilakukan juga masih menemukan sejumlah celah perlindungan data yang perlu terus disempurnakan.
Anggota tim lainnya, Marcelino Budi Prakasya, mengatakan, berbagai aspek sistem masih terus dikaji selama proses perancangan Polpay.
Penerapan privacy-preserved architecture dan edge computing architecture menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan sekaligus privasi pengguna.
“Pengembangan sistem ini membutuhkan riset yang mendalam dan waktu yang cukup panjang.
Setiap hari, kami masih menemukan berbagai celah yang dapat diinovasikan, baik melalui pembaruan cara kerja software maupun penggunaan komponen yang lebih optimal,” ujar Marcelino.
Selain keamanan, Tim Polpay juga berupaya memastikan sistem pembayaran tersebut dapat memproses transaksi dengan cepat.
Teknologi edge computing digunakan guna mengurangi beban proses enkripsi pada server pusat sehingga transaksi dapat berlangsung lebih cepat.
Anggota Tim Polpay, M. Fakhri Ghonim Setyanda, mengatakan, penerapan teknologi tersebut menghadirkan tantangan lain karena tim harus menekan biaya pengembangan agar Polpay tetap terjangkau.
“Kami harus memutar otak untuk mencari solusi agar teknologi edge computing yang kami gunakan tetap dapat diterapkan dengan biaya yang terjangkau,” ujar Fakhri.
Sementara itu, M. Rakhma Aifil Indira mengatakan, pengembangan Polpay telah mengantarkan tim memperoleh pendanaan dalam PKM bidang Karsa Cipta.
Tim Polpay selanjutnya mempersiapkan diri mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang akan diselenggarakan di Universitas Diponegoro pada November 2026. (*)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/08/17/200000465/bayar-cukup-dengan-sidik-jari-begini-cara-kerja-polpay-buatan-mahasiswa-ugm