Belajar dari SPPG Bhayangkari Polri, BGN Pertimbangkan Gunakan Test Kit untuk Deteksi Racun Makanan
jonisetiawan August 18, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Kasus keracunan yang terjadi di sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi besar-besaran terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Salah satu langkah yang kini dipertimbangkan adalah melengkapi setiap dapur SPPG dengan test kit untuk mendeteksi kandungan berbahaya dalam makanan sebelum hidangan dikonsumsi para penerima manfaat.

Kebijakan tersebut menjadi perhatian setelah sejumlah kasus keracunan terjadi, termasuk insiden yang menimpa pelajar di Berastagi, Sumatera Utara.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan pemeriksaan makanan tidak cukup hanya mengandalkan pengecekan secara kasatmata, seperti mencium aroma, melihat kondisi makanan, atau mencicipinya.

Menurutnya, makanan yang secara organoleptik terlihat normal belum tentu sepenuhnya terbebas dari kandungan berbahaya.

Baca juga: Geram Soal Keracunan Anak Sekolah, Kepala BGN Gertak Petugas MBG: Kalau Enggak Mampu, Kau Mundur

Tak Cukup Hanya Dicium dan Dicicipi

Selama proses persiapan makanan, pemeriksaan secara organoleptik menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk memastikan makanan berada dalam kondisi layak.

Namun, menurut Sudaryono, metode tersebut memiliki keterbatasan.

Makanan yang tidak menunjukkan perubahan bau, rasa, maupun tampilan tetap berpotensi mengandung zat tertentu yang berbahaya apabila tidak terdeteksi melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Karena itu, BGN kini mempertimbangkan penggunaan alat pendeteksi tambahan di seluruh dapur SPPG.

"Jadi bahwa keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik tadi dibau, dirasa, dicicipi. Sudah dibau nggak ada masalah, dicicipi juga nggak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi. Jadi ini sedang kami pertimbangkan untuk kemudian di setiap dapur itu nanti kita lakukan test kit," kata Sudaryono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 18 Agustus 2026.

POLEMIK PROGRAM MBG - Fasilitas Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Muraharjo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, terpaksa berhenti beroperasi sementara waktu, Minggu (19/7/2026). Berhentinya operasional di SPPG tersebut lantaran kepalanya mendadak menghilang.
POLEMIK PROGRAM MBG -Potret Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Muraharjo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora. Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mempertimbangkan penggunaan test kit di seluruh dapur SPPG untuk mendeteksi kandungan berbahaya dalam makanan sebelum dikonsumsi penerima manfaat. (Istimewa/SPPG MURAHARJO BLORA)

Test Kit untuk Mendeteksi Kandungan Berbahaya

Sudaryono menjelaskan, test kit nantinya dapat digunakan sebagai salah satu instrumen pemeriksaan untuk mendeteksi kandungan berbahaya dalam makanan.

Salah satu kandungan yang disebut menjadi perhatian adalah arsen dan zat berbahaya lainnya.

Dengan adanya pemeriksaan tambahan tersebut, makanan yang akan dibagikan dalam program MBG diharapkan dapat melalui proses pengawasan yang lebih ketat.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran BGN setelah menemukan adanya SPPG yang telah menerapkan penggunaan test kit.

BGN melihat penerapan alat tersebut sebagai salah satu praktik yang dapat dipelajari dan dikembangkan untuk memperkuat keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG.

Baca juga: Anak Tiga Hari Dirawat Lalu Kambuh Lagi, Ibu Siswa Korban Keracunan MBG Luapkan Emosi ke Kepala BGN

Belajar dari SPPG yang Dinilai Berhasil

Sudaryono menyebut salah satu SPPG yang telah menggunakan test kit adalah SPPG yang dikelola Bhayangkari dari Polri.

Menurut dia, penggunaan alat tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dapat dijadikan bahan evaluasi bagi SPPG lainnya.

"Jadi kita belajar dari keberhasilan SPPG, beberapa SPPG salah satunya adalah SPPG yang dikelola oleh Bhayangkari ya dari Polri itu menggunakan test kit dan saat ini tidak ada satu kasus pun keracunan. Jadi kita tidak ingin ada yang keracunan," ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa BGN tengah mencari cara agar pengawasan terhadap makanan MBG tidak hanya mengandalkan prosedur pemeriksaan yang selama ini dilakukan.

Jika nantinya kebijakan penggunaan test kit diterapkan secara luas, setiap dapur SPPG akan memiliki tambahan alat untuk membantu memastikan makanan yang diproduksi lebih aman sebelum sampai ke tangan penerima manfaat.

BGN Tak Ingin Kasus Keracunan Terulang

Kasus keracunan menjadi salah satu tantangan serius dalam pelaksanaan MBG.

Program yang menjangkau jutaan penerima manfaat tersebut membutuhkan sistem pengawasan makanan yang ketat karena makanan diproduksi dalam jumlah besar dan didistribusikan kepada masyarakat dalam waktu yang relatif bersamaan.

Sudaryono menegaskan BGN tidak ingin kejadian keracunan kembali terjadi.

Namun, ia juga meminta agar kasus yang terjadi di sejumlah lokasi tidak membuat masyarakat menyimpulkan bahwa seluruh pelaksanaan MBG bermasalah.

Saat ini, kata Sudaryono, terdapat sekitar 27 ribu dapur SPPG yang menjalankan program tersebut.

Ia menyebut sebagian besar SPPG telah menjalankan tugas dengan baik.

Karena jumlah dapur yang sangat besar, pengawasan menjadi tantangan tersendiri. Setiap SPPG dituntut memenuhi standar yang telah ditetapkan agar makanan yang disajikan aman sekaligus memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.

SPPG Bermasalah Bisa Ditutup

BGN juga memberikan sinyal tegas bahwa tidak semua dapur akan dibiarkan terus beroperasi apabila tidak mampu memenuhi standar.

Evaluasi akan dilakukan terhadap SPPG yang dinilai memiliki masalah.

Apabila masih dapat diperbaiki, maka perbaikan akan dilakukan. Namun, jika suatu SPPG tidak mampu memenuhi standar dan tidak dapat diperbaiki, BGN menyatakan akan mengambil tindakan tegas.

"Yang tidak bisa dievaluasi, tidak bisa diperbaiki, mohon maaf harus saya tutup. Dan bagi personil-personil yang tidak bisa mengikuti standar tinggi yang saya punya, mohon maaf harus saya copot atau saya pecat status ASN PPPK-nya," ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa evaluasi tidak hanya diarahkan kepada fasilitas dapur, tetapi juga kepada orang-orang yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program.

Baca juga: Siswa SMAN 1 Berastagi Keracunan, Lauk Bau Busuk, Trauma Ogah Santap MBG Lagi, Gatal & Sakit Perut

Keamanan Makanan Jadi Sorotan Utama

Rencana penggunaan test kit di setiap SPPG menunjukkan bahwa keamanan makanan menjadi salah satu fokus utama evaluasi BGN.

Pemeriksaan sebelum makanan dikonsumsi menjadi penting karena kesalahan pada satu tahapan saja dapat berdampak kepada banyak penerima manfaat.

Dengan jumlah dapur SPPG yang mencapai sekitar 27 ribu unit, penerapan standar keamanan yang seragam menjadi pekerjaan besar bagi BGN.

Jika rencana tersebut benar-benar diterapkan, test kit nantinya akan menjadi lapisan pemeriksaan tambahan sebelum makanan didistribusikan.

Langkah itu diharapkan dapat memperkecil risiko makanan yang mengandung zat berbahaya sampai kepada siswa maupun penerima manfaat lainnya.

Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh banyaknya makanan yang berhasil dibagikan. Keamanan makanan menjadi bagian yang tidak kalah penting.

BGN kini dituntut memastikan setiap makanan yang keluar dari dapur SPPG bukan hanya bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi. Kasus-kasus keracunan yang telah terjadi menjadi pelajaran bahwa standar pengawasan harus terus diperketat agar program besar tersebut tidak justru menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

***

(TribunTrends)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.