TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN- Seorang mahasiswa bernama Irfan (24) menerbitkan dua buku karya tulis bergenre sosial politik masyarakat di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), Selasa (18/8/2026).
Dua buku karya tulisnya ini masing-masing berjudul Jalan Sunyi dan Kala Mahesa yang terbit pada 2025 dan 2026.
Penulis kelahiran Desa Rumpa, Kecamatan Mapilli, ini merupakan mahasiswa di STISIP Bina Generasi Polewali, jurusan Ilmu Pemerintahan.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Sulawesi 19 Agustus, Mamuju Cerah Berawan, Palu Paling Cerah
Baca juga: Petahana Syahril R Jadi Pendaftar Pertama Calon Ketua Golkar Mamuju Tengah
Selama kuliah, Irfan juga aktif berbaur dengan masyarakat yang berhadapan dengan konflik agraria, masalah kemiskinan, hingga sosial kultural.
Hasil pendampingan bersama warga itulah yang ia tuangkan dalam sebuah karya tulis, berupa dua buku bacaan.
Irfan mengangkat persoalan kehidupan masyarakat, mulai dari konflik agraria, kemiskinan struktural, penggusuran, angka putus sekolah, hingga berbagai bentuk ketimpangan sosial lainnya.
Menurut Irfan, buku tersebut lahir dari kegelisahannya melihat kondisi masyarakat kecil yang masih berhadapan dengan berbagai persoalan sosial.
“Buku ini saya tulis sebagai bentuk perenungan melihat kondisi dan situasi yang dialami oleh orang kecil. Di luar sana masih sering terjadi perampasan tanah, konflik agraria, bahkan banyak yang harus kehilangan tempat tinggal,” ungkap Irfan.
Dia menyampaikan, bukunya berjudul Kala Mahesa merupakan catatan pemberian saat ia masih mahasiswa baru, yang mengajak pembaca melihat sisi lain dari civitas kampus.
Di balik keseruan menjadi mahasiswa, kesibukan yang menguras banyak waktu, hingga aktivitas perkuliahan yang bagi Irfan menjenuhkan.
Menurutnya, menjadi mahasiswa tidak hanya sebatas pada aktivitas perkuliahan, melainkan harus peka terhadap lingkungan sekitar, terutama orang-orang kecil.
“Menjadi terpelajar berarti menjadi manusia, menjadi manusia berarti menjadi terpelajar, yang harus memiliki tanggung jawab sosial, kontrol sosial, dan kepekaan,” lanjut Irfan.
Dia menyebut bukunya ini tidak lahir begitu saja. Gagasan dalam buku berkembang dari ruang-ruang diskusi, kondisi nyata di tengah masyarakat, hingga berbagai keadaan yang benar-benar dialami oleh masyarakat.
Karena itu, Irfan berharap bukunya tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran, khususnya di kalangan mahasiswa.
Ia berharap buku itu dapat menjadi bacaan mahasiswa, terutama mahasiswa baru, yang harus peka melihat kondisi sosial masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami sejak awal bahwa keberadaan mereka tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
“Mahasiswa harus menyadari satu hal, bahwa ia tidak berarti apa-apa jika tidak peduli dengan ketimpangan yang terjadi,” kata mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan ini.
Irfan menilai mahasiswa tidak cukup hanya berkutat di ruang akademik, kuliah, pulang, dan menghabiskan waktu di warung kopi.
Menurutnya, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab sosial untuk membaca, memahami, dan merespons berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Untuk itu, Irfan berencana menggelar peluncuran dua buku di empat kampus di Sulawesi Barat, di antaranya Polman dan Majene.
Selain di lingkungan kampus, agenda tersebut juga akan menyasar ruang-ruang diskusi yang dibangun oleh penggiat literasi, komunitas mahasiswa, maupun komunitas lainnya.
Melalui rangkaian peluncuran dan diskusi tersebut, penulis berharap buku keduanya dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa dan generasi muda untuk melihat persoalan sosial secara lebih kritis.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli