LMND SBT Geram Ada Oknum Anggota TNI Diduga Sebut Mahasiswa Asal Seram Pegunungan 'Monyet'
Fandi Wattimena August 18, 2026 02:47 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menyoroti dugaan ucapan bernuansa rasis yang dilontarkan oknum aparat kepada seorang mahasiswa dalam video yang viral di media sosial. 

Ketua LMND SBT, Jainal Kelderak, meminta pihak berwenang tidak menganggap sepele dugaan ucapan tersebut, terutama karena video itu telah menjadi perhatian publik.

Peristiwa itu diduga terjadi usai pelaksanaan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8/2026).

Dalam video yang beredar, seorang mahasiswa diduga disebut dengan kata “monyet” oleh oknum aparat. 

Ucapan tersebut kemudian menuai sorotan karena dinilai merendahkan martabat mahasiswa.

Jainal mengatakan, apabila ucapan tersebut benar disampaikan sebagaimana yang terdengar dalam video, maka persoalan itu harus ditangani secara serius.

Baca juga: Mahasiswa Asal Pulau Seram Pegunungan Disebut "Monyet", KNPI SBT Minta Ditindaklanjut

Baca juga: Ini Sosok Oknum TNI Katai Mahasiswa Asal Seram "Monyet", Ternyata Pengawal Pribadi Gubernur Maluku

“Kami sangat menyayangkan jika benar ada oknum aparat yang mengeluarkan ucapan seperti itu kepada mahasiswa. Kata tersebut tidak pantas dan kami menilai ada dugaan unsur rasis serta penghinaan terhadap martabat manusia,” ujarnya kepada TribunAmbon.com, Selasa (18/8/2026). 

Menurutnya, aparat seharusnya memberikan rasa aman sekaligus menunjukkan sikap profesional dalam menghadapi masyarakat, termasuk mahasiswa.

“Mahasiswa memang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan kritik. Tetapi apa pun situasinya, respons dari aparat harus tetap mengedepankan etika, profesionalitas dan penghormatan terhadap martabat manusia,” jelasnya.

Jainal juga meminta institusi tempat oknum aparat tersebut bertugas segera melakukan klarifikasi terhadap video yang beredar.

“Kami mendesak agar ada pemeriksaan secara terbuka. Jika setelah diperiksa terbukti ada ucapan yang merendahkan atau mengandung unsur rasis, maka harus ada tindakan sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.

LMND SBT, kata Jainal, tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi konflik yang lebih luas antara mahasiswa dan aparat.

Karena itu, pihaknya meminta semua pihak menahan diri dan menyerahkan proses pemeriksaan kepada institusi yang berwenang.

“Kami tidak ingin persoalan ini dipelintir menjadi konflik antara mahasiswa dengan aparat. Yang kami tuntut adalah keadilan, klarifikasi dan penegakan aturan. Kalau memang tidak benar, silakan dijelaskan secara terbuka. Kalau terbukti, harus ada tindakan,” tandasnya.

Jainal menilai kasus tersebut juga menjadi momentum bagi institusi aparat untuk mengevaluasi pola komunikasi anggotanya ketika berhadapan dengan masyarakat.

“Jangan sampai ada anggapan bahwa karena seseorang menggunakan seragam, kemudian bisa berbicara atau memperlakukan masyarakat sesuka hati. Aparat dan mahasiswa harus sama-sama ditempatkan sebagai warga negara yang memiliki martabat dan hak yang harus dihormati,” tutupnya.

Diketahui, oknum aparat tersebut bernama Rohim, dan bertugas sebagai pengawal pribadi Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.