Balap Jukung, Tradisi Sungai Warnai Perayaan Peringatan Kemerdekaan di SDN Basirih 10 Banjarmasin
Ratino Taufik August 18, 2026 02:50 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN  -Sorak tawa dan semangat anak-anak SDN Basirih 10 Banjarmasin pecah di tepian sungai. Puluhan siswa beradu cepat dalam lomba balap jukung (perahu kecil/sampan), di puncak perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di sekolah pinggiran kota ini, Selasa pagi (18/8/2026).

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, SDN Basirih 10 memanfaatkan sungai sebagai arena lomba. Selain balap jukung, ada pula lomba renang dan permainan lawas seperti kelereng yang kini jarang ditemui di perkotaan. 

“Ciri khas kami karena berada di pinggiran sungai, jadi tiap tahun kami adakan lomba jukung. Hari ini final,” ujar Kepala SDN Basirih 10 Banjarmasin, Hj Irnawati, M.Pd.

Satu jukung diisi tiga siswa perwakilan dari kelas IV hingga kelas VI, dua memegang dayung sementara satu menjadi pemandu. Jarak tempuh hanya 5–10 meter, namun cukup untuk memacu adrenalin. Tak hanya siswa laki-laki, siswi pun ikut berkompetisi dengan penuh antusias. 

“Seru, rame bekayuh. Saya sudah tiga kali ikut dan juara,” kata Khairil Anwar, siswa kelas V. 

“Saya juga sudah tiga kali ikut, udah terbiasa naik perahu, juara juga," tambah Najwa, siswi kelas VI.

Meski anak-anak terbiasa beraktivitas di sungai, aktivitas lomba tetap diawasi dewan guru. Sungai yang menjadi arena lomba sendiri merupakan jalur perahu warga, sehingga keselamatan tetap dijaga. Setiap kali klotok warga melintas lomba pun berhenti sejenak.

Baca juga: Kebakaran Terjadi di Desa Selaselilau Tanahbumbu, Warga Panik Rumah Kades Dilahap Api

“Lomba jukung kami adakan dua hari saja. Anak-anak di sini memang rata-rata bisa berenang, apalagi dekat sungai memang harus bisa berenang,” jelas Irnawati, sambil tersenyum senang.

Sorak kemenangan terdengar setiap kali jukung kembali ke garis start. Para pemenang mengangkat dayungnya dengan bangga, seolah menegaskan bahwa tradisi sungai bukan sekadar permainan, melainkan bagian dari identitas mereka. 

Sebagai bentuk apresiasi, sekolah menyediakan hadiah penghibur seperti makanan ringan hingga perlengkapan sekolah untuk siswa-siswi juara lomba.

Di tengah semarak kemerdekaan, lomba ini menjadi simbol bagaimana budaya lokal tetap hidup dan diwariskan melalui generasi muda, tetap dengan pengawasan serta bimbingan guru dan orang tua. (Banjarmasinpost.co.id/Saifurrahman)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.