BANGKAPOS.COM -- Selalu ada momen menarik setiap perayaan HUT RI yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus.
Seperti di Pamekasan, Jawa Timur, seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu bernama Syaifullah (51) nekat memanjat tiang bendera setinggi 8 meter.
Aksinya tersebut dipicu karena bendera tidak berkibar akibat ada tali yang terputus.
Suasana khidmat upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur yang digelar Senin (17/8/2026) pagi berubah menjadi panik.
Syaifullah tiba-tiba mengambil keputusan spontan yang berisiko setelah melihat tali bendera putus.
Ia melepas sepatu kemudian memanjat tiang bendera setinggi sekitar 8 meter untuk meraih tali yang terputus di bagian ujung.
Baca juga: Sosok Juventus Yoris, Bupati Sikka Jalan Kaki 4 Km Demi Temui Korban Gempa Palue NTT: Menyedihkan
Tanpa alat pengaman, ia terus memanjat hingga mendekati puncak tiang. Syaifullah tidak banyak berpikir ketika melihat petugas pengibar bendera kebingungan.
Baginya, Merah Putih harus tetap dapat dikibarkan dalam upacara peringatan HUT ke-81 RI. Keputusan itu membuat keselamatan dirinya berada dalam taruhan.
Bahkan, ia mengaku sempat merasakan ketakutan ketika tiang mulai bergerak saat tubuhnya semakin tinggi.
"Secara spontan saya naik. Yang penting bendera merah putih bisa berkibar," ucapnya, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.
Syaifullah merupakan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kecamatan Pamekasan.
Ia disebut menerima gaji sekitar Rp1 juta per bulan.
Namun, dalam situasi ketika tali bendera putus, status pekerjaan dan besaran penghasilannya bukanlah hal yang menjadi pertimbangannya.
Ia memilih mengambil peran ketika melihat orang-orang di sekitarnya membutuhkan bantuan.
Keberaniannya memanjat tiang setinggi 8 meter kemudian membuat sosok Syaifullah menjadi perhatian setelah upacara selesai.
Aksi Syaifullah memperlihatkan bagaimana spontanitas seseorang dapat muncul dalam situasi yang dianggap penting secara bersama-sama.
Keinginannya memastikan Merah Putih tetap berkibar membuat ia berani mengambil risiko yang cukup besar.
Namun, keberanian tersebut tetap perlu dilihat dari sisi keselamatan. Memanjat tiang setinggi 8 meter tanpa perlengkapan pengaman memiliki risiko jatuh dan cedera serius, terlebih Syaifullah mengaku merasakan tiang bergerak ketika berada di bagian atas.
Karena itu, kejadian di Pamekasan ini juga dapat menjadi pengingat bahwa persiapan teknis dalam upacara kenegaraan tidak kalah penting dari kesiapan petugas.
Gladi bersih memang telah dilakukan dua kali, tetapi pemeriksaan kondisi tali, tiang, pengunci, serta sistem pengaman tetap menjadi bagian penting untuk mengantisipasi gangguan teknis.
Di sisi lain, tindakan Syaifullah menunjukkan adanya kepedulian terhadap tugas bersama. Ia melihat kepanikan petugas pengibar bendera, kemudian memilih membantu tanpa menunggu instruksi panjang.
Sosok Syaifullah akhirnya bukan hanya dikenang karena keberaniannya memanjat tiang bendera, tetapi juga karena keputusan spontan yang diambilnya ketika upacara HUT ke-81 RI di Pamekasan menghadapi masalah teknis.
Baca juga: Kisah Celine Olivia Theo, Anak Cleaning Service jadi Pembawa Baki HUT ke-81 RI di Istana
Moh Syaifullah (53) menjadi sosok yang menarik perhatian dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Senin (17/8/2026) pagi.
Ketika tali bendera Merah Putih tiba-tiba putus, suasana upacara yang semula berjalan khidmat berubah menjadi kepanikan.
Di tengah situasi tersebut, Syaifullah justru mengambil keputusan spontan yang berisiko.
Ia melepas sepatu, kemudian memanjat tiang bendera setinggi sekitar 8 meter untuk meraih tali yang terputus di bagian ujung.
Tanpa alat pengaman, ia terus memanjat hingga mendekati puncak tiang. Syaifullah tidak banyak berpikir ketika melihat petugas pengibar bendera kebingungan.
Baginya, Merah Putih harus tetap dapat dikibarkan dalam upacara peringatan HUT ke-81 RI. Keputusan itu membuat keselamatan dirinya berada dalam taruhan.
Bahkan, ia mengaku sempat merasakan ketakutan ketika tiang mulai bergerak saat tubuhnya semakin tinggi.
Namun, rasa takut tersebut akhirnya hilang ketika pikirannya tertuju pada bendera yang harus tetap berkibar.
Syaifullah mengatakan dirinya memanjat tiang bendera secara spontan setelah melihat tali bendera putus.
Saat itu, kepanikan mulai terlihat di antara peserta upacara, pejabat kecamatan, anggota polisi, TNI, hingga petugas pengibar bendera.
"Secara spontan saya naik. Yang penting bendera merah putih bisa berkibar," ucapnya, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.
Ia kemudian melepas sepatu dan mulai memanjat tiang bendera yang memiliki tinggi sekitar 8 meter tersebut.
Tidak ada persiapan khusus ataupun alat keselamatan yang digunakan Syaifullah. Ia hanya mengenakan seragam Korpri, celana hitam, serta kopiah ketika menjalankan aksi tersebut.
Syaifullah mengaku sudah lama tidak melakukan aktivitas memanjat. Bahkan, pengalaman terakhirnya memanjat pohon terjadi sebelum dirinya menikah.
"Saya sudah lama tidak memanjat pohon. Terakhir sebelum menikah," katanya.
Risiko yang dihadapi Syaifullah bukan sekadar ketinggian tiang. Saat tubuhnya semakin mendekati bagian atas, ia merasakan tiang bergerak.
Kondisi tersebut semakin terasa ketika Syaifullah harus meraih tali bendera yang berada di ujung tiang. Pada posisi itu, ia hanya dapat menggunakan satu tangan sebagai pegangan untuk menjaga keseimbangan.
Untuk mengurangi risiko tiang bergeser, Syaifullah meminta bantuan sejumlah aparatur sipil negara (ASN) yang berada di bawah.
Ia meminta mereka menjaga kunci atau pegangan penyangga di bagian pondasi agar tiang tetap tegak dan tidak bergerak ke kanan maupun kiri.
"Beberapa orang bantu saya, di pondasi tiang bawah ada pengunci atau handle agar tidak tetap tegak berdiri, karena saya cukup berat badan," katanya.
Setelah berhasil mencapai bagian atas, Syaifullah meraih tali yang putus. Ia kemudian turun dan membantu petugas menyambungkan kembali tali bendera tersebut.
Keputusan Syaifullah tidak terlepas dari situasi yang terjadi di lapangan.
Ia melihat petugas pengibar bendera sudah mulai panik setelah tali terputus. Menurut dia, para petugas tentu memiliki beban tersendiri karena kegagalan mengibarkan bendera dapat mengganggu jalannya upacara HUT ke-81 RI.
"Saya bisa merasakan betapa kecewanya mereka jika seandainya bendera tidak dinaikkan," ucapnya.
Syaifullah mengaku rasa takut sebenarnya sempat muncul ketika ia berada di atas tiang. Namun, perasaan itu tidak berlangsung lama.
"Takut sempat ada, tapi hilang, yang penting bendera bisa dinaikkan dan berkibar," katanya saat dikonfirmasi Kompas.com.
Ia memilih mengesampingkan ketakutannya dan fokus menyelesaikan persoalan yang terjadi saat itu.
Gladi Bersih Dua Kali, Tali Bendera Tetap Putus
Sebelum upacara dimulai, petugas sebenarnya telah melakukan gladi bersih sebanyak dua kali.
Namun, tali bendera putus ketika upacara berlangsung.
Syaifullah menilai kejadian tersebut merupakan musibah yang tidak dapat diprediksi sebelumnya.
"Ini musibah, bukan kelalaian. Saya berani pun demi bendera merah putih," ucapnya.
Setelah tali berhasil disambungkan, proses pengibaran bendera dapat dilanjutkan.
Aksi spontan Syaifullah pun menjadi bagian penting dari jalannya upacara HUT ke-81 RI di Pamekasan pada Senin pagi tersebut.
(Bangkapos.com/Surya.co.id/Kompas.com)