SURYA.co.id, SURABAYA – Universitas Airlangga (Unair) bergerak cepat merespons bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tim aju tanggap darurat Garda Ksatria Airlangga diberangkatkan menuju wilayah terdampak untuk memetakan kebutuhan medis sekaligus membantu penanganan korban pada fase akut pascagempa.
Tim tersebut dipimpin dr. Teddy Wardhana, Sp.OT, Koordinator Bantuan Medis Garda Ksatria Airlangga sekaligus Koordinator Program Studi Orthopaedi dan Traumatologi FK Unair.
Rektor Unair, Prof. Muhammad Madyan, SE., M.Si., M.Fin., mengatakan pengiriman tim aju merupakan bentuk kepedulian sekaligus kontribusi perguruan tinggi dalam membantu masyarakat terdampak bencana.
“Kami sebagai institusi pendidikan tinggi turut berbelasungkawa atas bencana yang melanda NTT. Penerjunan tim ini menjadi wujud kontribusi dan respons Unair. Kami berharap tim dapat memberikan manfaat dalam penanganan pascabencana di lokasi,” kata Prof. Madyan saat dikonfirmasi SURYA.co.id, Selasa (18/8/2026).
Baca juga: Pemprov Jatim Siapkan 100 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT
Ia juga berpesan kepada seluruh anggota tim agar menjalankan tugas dengan baik dan menjaga nama baik Unair selama memberikan pelayanan kemanusiaan di NTT.
Tim aju diperkuat tiga orang PPDS, dokter senior spesialis anestesi dan ortopedi, seorang PPDS yang merupakan putra daerah setempat, serta perawat anestesi dan ortopedi.
Komposisi tersebut disiapkan untuk melakukan asesmen kondisi lapangan sekaligus memberikan dukungan medis bagi korban yang membutuhkan penanganan segera.
dr. Teddy mengatakan tim akan berkoordinasi dengan BPBD dan tim kesehatan setempat untuk mengetahui kebutuhan riil di lokasi. Rencana awal, tim akan menuju rumah sakit umum yang membutuhkan dukungan akibat dampak gempa.
“Prioritas kami adalah korban yang membutuhkan penanganan segera. Jumlah dokter bedah dan anestesi di sana tidak banyak. Karena itu, kami berharap dapat membantu penanganan pada fase akut pascatrauma ini,” ujarnya.
Untuk mendukung pelayanan, tim membawa perlengkapan operasi, anestesi, serta berbagai kebutuhan medis lainnya.
Dengan bekal tersebut, tim diharapkan dapat bekerja secara mandiri selama berada di wilayah terdampak.
Unair juga berkoordinasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi & Traumatologi Indonesia (PABOI) untuk memperkuat jejaring penanganan medis di wilayah bencana.
Selain memberikan pelayanan medis, tim aju juga bertugas mendata kebutuhan lanjutan yang ditemukan di lapangan. Data tersebut akan menjadi dasar bagi Unair untuk menentukan bentuk dukungan berikutnya.
Kebutuhan itu tidak hanya berkaitan dengan layanan medis, tetapi juga dukungan psikologis bagi penyintas yang mengalami trauma pascabencana.
“Harapannya, melalui tim aju ini, kebutuhan di lapangan dapat didata dan diidentifikasi sehingga tim berikutnya bisa menyusul dengan dukungan yang lebih komprehensif. Misalnya, jika ditemukan kebutuhan terkait PTSD, kami dapat mengirimkan rekan-rekan dari Psikologi,” pungkas dr. Teddy.