TRIBUNPEKANBARU.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Sejumlah kabupaten merasakan dampak dari gempa tersebut.
Sehingga tak hanya menyebabkan korban jiwa, tapi juga kerusakan bangunan.
Warga Dusun Muara, Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo bernama Hasim Wungo menyaksikan, tanah di sekitar rumahnya mengalami retakan.
Tak hanya retakan saja, air panas tiba-tiba menyembur dari dalam tanah.
"Saat terjadi gempa kemarin itu tanah di sini retak dan mengeluarkan air panas dan panas sekali," ungkap Hasim, Senin (17/8/2026) sore.
Mengutip Pos-Kupang.com, semburan air panas tersebut membuat warga panik.
Tak hanya di satu titik saja, air panas tersebut menyembur di sekitar rumah warga lainnya.
Air panas juga menyembur di area persawahan yang berada di sebelah rumah Hasim.
Ia menuturkan, warga pun saat ini masih mengalami trauma karena gempa keras yang terjadi beberapa hari lalu.
Baca juga: Update Korban Gempa Flores NTT Hingga Minggu Malam, 55 Orang Meninggal Dunia
Warga Egon Gahar Terisolir
Gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) menyebabkan longsor di ruas jalan Waigete Galit di Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka.
Akibatnya, akses dari Desa Egon Gahar ke Puskesmas Mapitara tertutup dan warga terisolir dari fasilitas kesehatan (faskes) terdekat.
Terputusnya akses ini mendapat perhatian dari Ketua DPRD Sikka, Stef Sumandi.
Ia menuturkan, jalur tersebut sangat penting bagi pasien rujukan dari dan ke Puskesmas Mapitara ke RSU Tc. Hillers Maumere serta RS Santo Gabriel Kewapante.
Menurutnya, apabila material longsor tak segera dibersihkan, masyarakat lah yang menjadi korbannya.
"Saya susah koordinasikan dengan pemerintah daerah sajak tanggal 15 Agustus 2026 pasca gempa. Sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari pemerintah, " ujarnya dikutip dari Pos-Kupang.com, Selasa (18/8/2026).
Warga Egon Gahar, Hila Karvalo juga berharap pemerintah bisa segera membersihkan reruntuhan longsor tersebut.
Selain akses transportasi, jalur yang tertutup juga menghambat datangnya logistik.
Sementara warga Egon Gahar saat ini menbutuhkan makanan dan obat-obatan karena belum tersentuh bantuan sejak gempa terjadi.
Tiga sumber mata air bersih di Desa Mokel Morid, Kecamatan Komba Utara, Manggarai Timur bahkan berubah menjadi keruh usai gempa magnitudo 7,7 pada Sabtu pekan lalu.
Maria Trince Runu, salah satu warga sekitar mengatakan, sebelumnya, tiga sumber mata air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga sekitar.
Namun, setelah gempa magnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) kemarin, tiga mata air tersebut jadi keruh dan debit airnya berkurang.
"Kami tidak bisa pakai memang karena airnya sangat kotor bercampur lumpur," ujarnya, dikutip dari Pos-Kupang.com.
( Tribunpekanbaru.com )