TRIBUNJOGJA.COM- Pengikut Instagramnya bisa ribuan, following-nya juga banyak, tetapi bagian feed justru kosong.
Akun seperti itu mungkin terlihat seperti sudah lama ditinggalkan.
Pemiliknya mungkin masih rutin membuka Instagram, menonton Reels, melihat Story orang lain, mengikuti tren di TikTok, sampai mengirim unggahan lucu ke teman lewat DM.
Yang tidak ia lakukan adalah memajang kehidupan sendiri di feed.
Fenomena ini belakangan ramai disebut zero post. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan pengguna yang tetap berada di media sosial, tetapi memilih tidak atau sangat jarang mengunggah kehidupan pribadi mereka.
Fenomena ini kembali ramai dibahas pada 2025 hingga 2026 dan banyak dikaitkan dengan perubahan cara Gen Z memandang media sosial.
Lantas, kenapa sebagian Gen Z memilih menjadi silent user?
1. Tidak Semua Momen Ingin Jadi Konsumsi Publik
Dulu, mengunggah foto makan, jalan-jalan, ulang tahun, sampai kegiatan sehari-hari terasa seperti bagian biasa dari menggunakan media sosial.
Sekarang, sebagian pengguna justru semakin selektif menentukan apa yang layak dibagikan.
Ada momen yang cukup dinikmati sendiri. Ada pula cerita yang hanya ingin diketahui teman dekat atau keluarga.
Perubahan ini sejalan dengan temuan penelitian mengenai perilaku pengguna media sosial.
Studi yang menganalisis 79 penelitian dengan lebih dari 51 ribu responden menemukan bahwa kekhawatiran terhadap privasi berkaitan dengan perilaku pengguna dalam membatasi apa yang mereka bagikan dan bagaimana mereka melindungi informasi pribadi.
Dengan begitu, tidak posting bukan selalu berarti tidak punya kehidupan untuk dibagikan. Bisa jadi justru sebaliknya: pemilik akun mulai merasa tidak semua bagian hidup harus ditempatkan di ruang publik.
2. Feed Kosong Bisa Jadi Cara Mengurangi “Keributan” di Medsos
Media sosial sekarang tidak hanya berisi unggahan teman.
Ada video pendek, iklan, konten promosi, rekomendasi algoritma, influencer, sampai konten buatan AI yang muncul terus-menerus. Akibatnya, membuka media sosial kadang terasa seperti masuk ke ruangan yang tidak pernah benar-benar sunyi.
Fenomena zero post juga dikaitkan dengan kejenuhan terhadap kondisi tersebut.
Mengenai tren ini, Kyle Chayka, penulis The New Yorker yang mempopulerkan istilah zero post, melihat adanya perubahan dari media sosial sebagai ruang berbagi kehidupan menjadi tempat yang lebih banyak dipenuhi konten komersial dan hasil rekomendasi algoritma.
Dalam penelitian, perilaku seperti ini disebut lurking, yaitu saat seseorang tetap melihat-lihat media sosial tetapi jarang ikut posting atau berkomentar.
Salah satu alasannya adalah rasa lelah dengan media sosial, sehingga mereka lebih nyaman menjadi penonton saja.
3. Posting Sekarang Seperti Harus “Bagus”
Satu foto mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diambil. Tetapi sebelum benar-benar diunggah, urusannya bisa panjang.
Memilih foto yang paling bagus, memikirkan caption, menentukan apakah perlu diedit, lalu membayangkan respons orang lain. Belum lagi kalau setelah diunggah jumlah likes tidak sesuai harapan.
Penelitian mengenai perilaku lurking menunjukkan bahwa keengganan mengungkapkan informasi pribadi menjadi salah satu alasan orang memilih hanya membaca atau melihat unggahan orang lain.
Studi lain juga menemukan adanya hubungan antara kekhawatiran privasi dan rendahnya aktivitas seperti posting atau berkomentar.
Karena itu, ada pengguna yang menganggap tidak ada unggahan berarti tidak perlu memikirkan bagaimana sebuah foto akan dinilai orang lain.
4. Jadi Penonton Ternyata Sudah Cukup
Menariknya, menjadi silent user bukan berarti seseorang berhenti mendapatkan manfaat dari media sosial.
Mereka masih bisa mencari informasi, mengikuti perkembangan teman, menonton hiburan, menemukan rekomendasi tempat makan, sampai mengetahui tren terbaru. Bedanya, aktivitas tersebut dilakukan sebagai penonton.
Maka, ukuran “aktif di media sosial” sekarang tidak selalu bisa dilihat dari seberapa banyak postingan yang dimiliki seseorang.
Bisa saja seseorang sangat aktif di balik layar, hanya saja tidak terlihat di feed.
5. Tidak Merasa Harus Menunjukkan Eksistensi
Ada perubahan dalam cara orang memandang media sosial.
Kalau dulu jumlah unggahan seolah menjadi tanda bahwa seseorang aktif, sekarang sebagian pengguna justru nyaman dengan profil yang minim jejak. Mereka tidak merasa harus memberi tahu orang lain sedang berada di mana, bersama siapa, atau melakukan apa.
Hal ini juga berkaitan dengan cara Gen Z mengelola identitas di media sosial. Aktivitas media sosial tidak sesederhana membedakan orang yang “aktif posting” dan “pasif”.
Pengguna bisa memilih bagian tertentu dari identitasnya untuk ditampilkan, membatasi audiens, atau hanya mengonsumsi konten orang lain.
Dengan kata lain, diam di media sosial juga bisa menjadi bentuk pilihan.
Bukan karena tidak punya cerita, tetapi karena tidak merasa semua cerita harus diketahui banyak orang.
Sebagian orang mungkin memilih membuat akun dengan feed kosong. Ada yang hanya mengunggah lewat Story atau Close Friends.
Artinya, cara menggunakan media sosial semakin beragam.
Ada yang senang tampil di depan kamera, ada yang lebih nyaman menjadi penonton, dan ada pula yang ingin membagikan sesuatu hanya kepada orang-orang tertentu.
(MG Mayumi Cinta Mahesi)