Mengintip Kebun Hidroponik Milik Kadispora Prabumulih, Kini Sudah Punya 4.000 Lubang Tanam
Refly Permana August 18, 2026 11:46 PM

 

SRIPOKU.COM, PRABUMULIH – Sibuk bekerja di kantor sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Pemerintah Kota Prabumulih tidak menyurutkan semangat Joko Firdaus S.Pd. untuk menanam sayuran dengan metode hidroponik.

Memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya di kawasan Kebun Duren, Kecamatan Prabumulih Barat, Kota Prabumulih, Joko mulai serius mengembangkan tanaman hidroponik.

Berangkat dari hobi bercocok tanam, Joko kini tidak hanya membuat pekarangan rumah menjadi indah, namun juga membuka peluang menambah penghasilan keluarga. 

Joko mulai tertarik budidaya hidroponik lantaran tidak susah merawat dan cukup mengalirkan air setiap harinya.

Ia lalu mempelajari budidaya hidroponik dengan tekun sejak sekitar enam bulan terakhir. 

Dari proses belajar tersebut, dirinya semakin yakin bahwa bercocok tanam khususnya sayuran, memiliki prospek yang cukup menjanjikan ke depan.

"Sudah sekitar enam bulan saya belajar hidroponik. Ternyata ini membuat masa depan lebih cerah karena ke depan kita pasti membutuhkan sayuran. Apalagi program ketahanan pangan terus digalakkan pemerintah," ungkap Joko ketika dibincangi di hidroponik pekarangan rumahnya, kemarin.

Baca juga: Terapkan Sistem Open Farm, Tani Milenial di Musi Rawas Sukses Budi Daya Melon Premium Hidroponik

Saat ini ada sekitar 4.000 lubang tanam di hidroponik miliknya dan untuk awal baru ditanam sayuran jenis pakcoy.

Dari 4.000 lubang tanam itu, Joko menanam secara bertahap, hal itu dilakukan untuk mengatur masa panen. 

Joko mengaku, masa semai pakcoy sekitar dua minggu sebelum dipindahkan ke tempat pembesaran, sedangkan masa panen membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan dua minggu. 

Karena itu, untuk menjaga kesinambungan produksi, Joko tengah mencoba mengatur ritme tanam agar panen dapat dilakukan secara rutin. 

Targetnya, dalam satu bulan bisa dilakukan hingga empat kali panen sehingga hasil produksi tidak menumpuk dalam satu waktu. 

"Selama ini panennya bersamaan, makanya sekarang kita sedang mencoba mengatur ritmenya, sehingga dalam satu bulan bisa empat kali panen dan dilakukan secara serentak sesuai jadwal," ujarnya.

Selain pakcoy, saat ini dirinya juga melakukan penyemaian beberapa jenis tanaman seperti seledri dan selada. Selain itu dirinya juga terus menambah lokasi tanam hidroponik sehingga nantinya bisa mencapai 10 ribu lubang tanam.

Kepala Dispora itu menjelaskan, budidaya hidroponik tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan dan bisa menopang perekonomian keluarga.

Sebagai gambaran, kata Joko, untuk 1000 lubang tanam hidroponik dibutuhkan modal sekitar Rp300.000 ribu hingga Rp400.000 ribu.

Baca juga: Pemkab Muara Enim Dorong Kemandirian Perempuan Lewat Pelatihan Papan Bunga Akrilik dan Hidroponik

Dari jumlah tersebut, produksi dapat mencapai sekitar 100 kilogram sayuran.

Jika hasil panen dijual dengan harga yang terjangkau, Joko memperkirakan sekitar 30 persen dapat kembali menjadi modal produksi, 20 persen digunakan untuk biaya perawatan dan tenaga kerja, sedangkan sekitar 50 persen menjadi hasil atau keuntungan.

"Modal awal untuk 1000 lubang tanam membutuhkan dana sekitar Rp300.000 sampai Rp400.000 ribu, hasilnya bisa sekitar 100 kilogram. Kalau dijual, kita bagi untuk modal, perawatan dan upah kerja, sisanya menjadi hasil. Alhamdulillah hasilnya lumayan," jelasnya.

Disinggung mengenai pemasaran, Joko mengaku untuk pemasaran hasil panen tidak terlalu sulit. 

Selain dibeli langsung oleh pedagang yang datang ke rumah, sebagian hasil tanaman hidroponik tersebut bisa disalurkan untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Kita tanam hidroponik ini pembeli yang datang ke rumah, selain itu kita juga Alhamdulillah memasok ke MBG di Patih Galung bahkan meminta pasokan pakcoy 200 kilogram setiap kali panen," katanya.

Karena itu kata Joko, dirinya berusaha terus untuk menambah lubang tanam dan meningkatkan kapasitas produksi. 

Joko berharap hasil kebunnya nanti tidak hanya memberikan manfaat secara ekonomi bagi keluarga, tetapi dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar. 

"Menanam sayur hidroponik ini juga kita bisa berbagi kepada tetangga, mereka bisa mencicipi. Jadi ada kesenangan tersendiri dari menanam sayur ini," tuturnya.

Ditanya apakah selama menanam sayur hidroponik ada kendala, Joko mengaku pernah mengalami kegagalan saat pertama kali mencoba hidroponik karena tanaman yang dibudidayakan sempat terserang hama. 

Baca juga: Unduh Modul Ajar Deep Learning Prakarya Budidaya Kelas 9 SMP Unit 1 Mudah Menanam Sayuran Hidroponik

"Pernah ada hama dan setelah ditelusuri ternyata berasal dari semut hitam yang naik dari tiang hidroponik. Alhamdulillah saat ini tidak ada hama lagi dan untuk sayuran subur meskipun kemarau," lanjutnya.

Joko menuturkan budidaya hidroponik tidak mengalami kendala saat kemarau, namun justru subur karena tanaman hidroponik tetap membutuhkan sinar matahari yang cukup agar pertumbuhannya optimal. 

"Malahan hidroponik membutuhkan sinar matahari yang banyak, karena kan air sudah cukup selalu mengalir," tuturnya.

Selain hobi, kata Joko, kegiatan menanam sayuran hidroponik tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi masa pensiun. 

Selain bisa memenuhi kebutuhan sayuran keluarga, hasil budidaya juga dapat membantu menopang kebutuhan ekonomi, termasuk biaya pendidikan anak.

Untuk itu juga, Joko mengajak generasi muda di Kota Prabumulih agar tidak ragu terjun ke dunia pertanian karena tidak harus dilakukan di lahan yang luas namun cukup di pekarangan rumah saja. 

"Jangan takut bertani, bertani itu tenang dan menghasilkan. Apalagi tidak perlu lahan luas namun cukup di lahan sederhana dapat menghasilkan," ajaknya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.